Jakarta – Kepergian Herlan Matrusdi (68), mantan Sekretaris Jenderal Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) DKI Jakarta, menyisakan tanda tanya. Jenazahnya ditemukan di kawasan Gumuk Pasir, Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. Namun, sebelum ditemukan tak bernyawa, Herlan diketahui telah meninggalkan rumah selama berbulan-bulan dan kerap berpindah-pindah tempat.
Hal ini diungkapkan oleh Wiwin Puji Astuti (37), putri ketiga Herlan. Menurut Wiwin, serangkaian peristiwa yang terjadi sejak pekan lalu terasa sangat janggal dan tidak biasa. Pertemuan terakhirnya dengan sang ayah terjadi pada Agustus 2025.
“Posisinya sudah mau berangkat lagi. Papa minta ongkos, pesan Grab, lalu ke Terminal Pulo Gebang. Entah mau ke mana dan sama siapa, saya tidak tahu. Itu terakhir saya bertemu,” ujar Wiwin dilansir detikJabar, Jumat (30/1/2026).
Sejak pertemuan terakhir itu, komunikasi dengan Herlan menjadi semakin sulit. Nomor ponselnya kerap berganti. Wiwin menyebut ayahnya sempat kehilangan ponsel, sehingga terpaksa berkomunikasi menggunakan nomor baru milik seseorang yang dikenalnya bernama Feri. Keterbatasan akses komunikasi ini membuat keluarga hanya bisa mengandalkan pesan singkat yang jarang mendapatkan respons.
Kejanggalan semakin memuncak pada Jumat, 23 Januari 2026. Wiwin membaca kabar di grup lingkungan rumah yang menginformasikan bahwa Herlan meninggal dunia akibat sakit ginjal dan terjatuh di kamar mandi. Informasi ini mengejutkan Wiwin karena ayahnya tidak memiliki riwayat penyakit ginjal.
Ia segera mencoba menghubungi nomor yang biasa digunakan ayahnya. Selama berbulan-bulan sebelum ditemukan tewas, Herlan diketahui kerap berpindah lokasi, mulai dari Kediri hingga Malang. Setiap kali Wiwin meminta ayahnya untuk berbagi lokasi, Herlan selalu menolak dengan alasan demi keamanan.
“Beliau pernah bilang sedang ikut seseorang untuk memecahkan sebuah kasus. Cukup berbahaya. Katanya Bapak dilindungi seseorang jadi aman,” tutur Wiwin, mengutip perkataan ayahnya.






