October 27, 2021

Menyajikan Berita Teraktual

Perjalanan Hidup Di Dalam Penjara Part II

SUMUT || Indocybernews.com – Seperti yang telah di ceritakan sebelumnya, usai makan malam bersama para napi yang lain, masuk lah waktu tidur, disini baru saya merasakan yang namanya hidup di penjara.

 

Saat itu aku duduk diantara ratusan napi yang lain, aku tidak dapat bergerak bebas didalam ruang tahanan tersebut.

Karena takut tempat duduk ku sekaligus lapak tidur ku dikuasi napi yang lain.

 

Penderitaan pun mulai terasa saat aku akan memejamkan mata ini, seorang napi berbadan besar memintaku untuk memijat badannya hingga ia tertidur.

 

Apalah daya, aku yang benar-benar takut terpaksa menuruti kemauan napi tersebut, tidak terasa sudah jam 01.00 dini hari diriku terus memijat napi itu, namun akhirnya ia meminta ku untuk istirahat.

 

Aku yang tidak pernah tidur didalam penjara benar-benar kaget dengan cara tidur di ruang tahanan tersebut, bayangkan saja badan kita di lantai sedangkan kaki kita berada di dinding, tidur dengan satu gaya yaitu telentang, tidak bisa miring ke kanan atau kiri apa lagi posisi telungkup.

 

Hanya sepotong baju yang ku kenakan ini aku bertahan dari rasa gatal dan bau hingga 2 minggu lamanya sebelum orang tua (bapak) aku menjenguk.

 

Nah.. Perlu kalian ketahui, saat aku didalam ruang tahanan itu, aku benar-benar seperti napi kelas kakap, karena saat rekan-rekan yang seprofesi dengan ku (Wartawan) hendak menjenguk di larang oleh pihak Kepolisian Resor Langkat.

 

Entah apa sebabnya aku juga tidak tahu.

 

Bahkan saat orang tua mau menjenguk, bapak ku terpaksa mendatangi Juru Periksa (Juper) yang menangani kasus aku untuk sekiranya meminta diperbolehkan menjenguk diriku.

 

Alhamdulillah, diperbolehkan untuk menjenguk, dan masih ku ingat, bapak ku menangis sejadi-jadinya saat melihat ku berdiri dibalik jeruji besi.

 

Walaupun diri ini rapuh tetapi aku tetap tegar dan tenang saat melihat bapakku menangis, karena aku tidak ingin menceritakan pahitnya hidup didalam penjara kepada orangtuaku.

 

Aku : “Bapak Jangan Nangis, tenang ya pak, anggap aja anak bapak ini sedang merantau, tahun depan juga sudah pulang ke rumah pak” Ucapku saat menenangkan bapak dan saat itu aku juga belum tau akan di jatuhi hukuman berapa tahun.

 

Bapak : “Emangnya udah tau akan di hukum berapa tahun bang (bapakku manggil diriku dengan kata Abang) kenapa bilang tahun depan udah pulang, ini bapak bawa Baju dan Celana dua pasang, ada rokok , ada juga nasi dari rumah untuk abang makan ya” Kata bapakku sambil menangis.

 

Aku : “Belum tau kena berapa tahun, tapi filing aja tahun udah pulang ke rumah pak, yaudah jangan nangis terus pak, Iya nanti abang makan nasi nya sama kawan-kawan didalam pak, terimakasih udah mau jenguk dan bawa baju ya pak” Ucapku.

 

Disaat aku sedang ngobrol dengan bapak ku dari balik jeruji besi tiba-tiba masuk seorang personil polisi yang mengatakan “siapa itu kok lama kali bicaranya, udah habis waktu besuk nya, udah satu jam ini” Katanya dengan suara besar.

 

Personil itu kemudian mendatangi ku dan dilihatnya “Oalah, ku kira napi lain, rupanya kau Fer? Siapa ini, bapak mu ya?”

 

Ku jawab “Iya bang, izin bang, bapakku jauh-jauh dari Medan bang, pengertian nya bang, selama dua minggu lebih aku di dalam Ruang Tahan ini baru ini bapakku datang bang”.

 

Dengan wajah tersenyum personil itu mengatakan ” yaudah, lanjut fer, tapi jangan lah sampai sore fer, ga enak entar nampak sama Pimpinan fer, abang yang gawat fer”.

 

Aku “siap bang, bentar lagi bapakku juga pulang bang, makasih ya bang” Balas ku dengan wajah tersenyum dan personil itu membalasnya dengan mengacungkan dua ibu jari (jempol) kearah ku.

 

Singkat cerita bapakku meninggalkan ruang tahanan tersebut dengan wajah sedih lantaran melihat anak kesayangan nya berada didalam jeruji besi.

 

Hari demi hari pun berlalu hingga satu ruang tahan polres yang berisikan lebih kurang 200 napi itu tau Identitas ku yang sebenarnya.

 

Hal itu membuat salah satu napi bernama Maulana Sembiring alias Mulo, yang merupakan Kepala Kamar (Palkam) dari salah satu kamar di ruang tahanan itu memanggil ku.

 

Saat itu aku panik, karena yang ku ketahui selama didalam ruang tahan tersebut tidak ada satu napi pun yang berani mengganggu si Mulo ini.

 

Biar tidak penasaran, fisik si Mulo ini sangatlah besar, genggaman telapak tangan dia sebesar paha kaki aku, bisa kalian bayangkan sendiri betapa besarnya badan si Mulo tersebut.

 

Sore itu, sebelum masuk waktu Sholat Magrib, Mulo memanggil ku.

 

Mulo : “Sini kau” sambil menunjukkan ku, dan aku pun mendatangi nya dengan langkah yang gemetar dan harus fokus karena aku harus melangkahi napi-napi lain yang sedang rebahan di lantai (keterbatasan ruang gerak).

 

Aku : “Ya bang”

 

Mulo : “Dari Kemarin aku penasaran sama kau, nama kau sebenarnya siapa? ”

 

Aku : “Fery Syahputra bang”

 

Mulo : “Nama panggilan kau siapa?”

 

Aku : “Fery bang, kadang di panggil putra bang”

 

Mulo : “Hmmm .. Kau Wartawan Kepolisian kan? nama panggilan kau di pasaran Fery Kiteng kan ? Jujur kau”.

 

Saat itu aku sempat terdiam beberapa saat, karena aku sudah tau apa yang akan terjadi apabila ku iya kan pertanyaan dia.

 

Aku : ” Iiiiyyyaaa bang, napa bang”

 

Mulo : “Kau pernah pernah ga, naikan berita soal lokasi judi di Pasar 6, Sumur Bor Sawit Sebrang? Pernah ga?” Bentak nya kepadaku.

 

Terlihat saat itu genggaman tangannya yang sebesar paha ku seakan tidak sabar memukuli ku.

 

Aku : “Iya pernah bang”

 

Mulo : “Kau mau tau, gara-gara kau aku dan kawan-kawan aku berlarian hingga masuk ke dalam perkebunan sawit, kami terpelanting sana sini lari dari kejaran polisi Bersenjata lengkap, ternyata kita jumpa disini ya”

 

Saat itu aku dan dia dalam posisi berdiri, aku bersandar di dinding sementara dia di depan ku.

 

Dalam hitungan detik setelah dia selesai bicara, tangannya langsung menghantam wajah ku hingga aku tak sadarkan diri beberapa saat, karena yang masih teringat di fikiran ku, pada waktu itu bertubi-tubi dia memukuli ku hingga ku lemas tak sadarkan diri.

 

Saat tersadar, aku dalam posisi terlentang dan darah segar terus mengalir dari bibir ku dan membuat lantai tempat ku berdiri penuh dengan darah.

 

Pada waktu itu, tidak ada satupun napi yang menolong ku lantaran takut kepada si mulo, dan aku hanya bisa berkata “Ampun bang, aku hanya menjalankan tugas bang, Ampun bang” Sambil membersihkan darah yang ada di bibir dan leher ku dengan baju yang ku kenakan.

 

Sambil membersihkan darah di bibir serta darah yang berceceran di lantai, ku melihat ke arah CCTV di Ruang Tahan tersebut, dalam hatiku berkata “CCTV itu hidup apa tidak ya? Ya Allah tolong hamba Ya Allah, doaku sambil terus melihat ke arah CCTV yang ada di sudut ruangan”.

 

Setelah puas memukuli ku, si Mulo masuk kembali ke dalam kamar tahanan yang lain.

 

Waktu makan malam pun tiba, aku kesulitan untuk mengunyah nasi lantaran bibir ku atas bawah pecah akibat dipukuli si Mulo.

 

Pada malam itu, aku menahan sakit yang amat luar biasa di bagian bibir dan kepala ku, akhirnya lama kelamaan aku tertidur dengan sendirinya.

 

Tidak terasa, pagi telah tiba, para napi yang ada di dalam ruang tahan itu semuanya wajib bangun lantaran tepat pada pukul 08.00 pagi akan diadakan Apel (Absen) tahanan.

 

Absen tahanan itu dilakukan oleh beberapa personil polisi yang akan menyuruh kami berhitung dari satu hingga seluruhnya dapat bagian nya.

 

Tidak seperti biasanya. pagi ini personil polisi yang masuk kedalam ruang tahanan lebih banyak dari pagi sebelum nya.

 

Aku bersikap biasa saja, selesai berhitung kami semua disuruh jongkok, lalu sekitar 4 orang personil Kepolisian langsung mendatangi kamar si Mulo (Napi yang memukuli ku).

 

 

Saat posisi jongkok aku hanya bisa melihat personil Kepolisian yang berada didepan kamar si Mulo dan mendengar apa yang dikatakan personil Kepolisian tersebut.

 

 

Polisi : “Siapa nama pala kamar kalian suruh dia keluar dari kamar” Tidak sampai semenit dia pun keluar dari kamar.

 

Mulo : “Apa pak?”

 

Polisi : “Udah merasa jagoan kau? Udah hebat kau di ruang tahanan ini”

 

Mulo : “Ga pak”

 

Polisi : “Kalau ga, Jadi maksud kau mukuli sesama napi semalam apa? udah paling hebat ya, jangan kau siksa yang lemah, jangan kau beraninya sama yang lemah, kalau kau mau anggar kekuatan sama kami imbangnya”.

 

Mendengar ucapan Personil Polisi itu aku langsung terduduk di lantai, sambil tersenyum melihat kearah CCTV.

 

Seketika, 4 orang personil Kepolisian tersebut langsung menghajar si Mulo tanpa ampun seperti halnya dia memukuli hingga tak sadarkan diri, “Kalau kau hajar dia lagi, kau akan berurusan dengan kami, kau ingat itu ya” Itu lah kata-kata yang ku dengar saat si mulo di hajar polisi.

 

Apa yang di ucapkan oleh personil polisi itu pastinya didengar sama napi yang lain, spontan mereka melihat aku.

 

Salah satu napi bicara sama ku “Kau ngadu ke personil penjagaan semalam fer? Kau dengar apa yang dibilang bapak polisi itu, siapa lagi yang ribut sama dia semalam kalau bukan kau fer”

 

Aku : “sedikitpun aku ga ada ngadu sama personil penjagaan, aku cuma lihat ke arah CCTV saja, dan memohon doa kepada Allah”

 

Napi : “Judulnya apa ni fer, dibayar kontan atau apa ni?” Katanya sambil tertawa melihat ku, dan ku balas dengan candaan “di bayar kredit kali, Hahaha”.

 

Usai memberi pelajaran kepada si Mulo, beberapa personil Polisi itu langsung keluar meninggalkan ruang tahanan, dan pada saat mau keluar dari ruang tahanan, saat itu posisi ku pas di samping pintu masuk ruang tahanan, begitu mereka melintas di dekat ku, Terucap dari mulutku “Terimakasih atas bantuannya bang”.

 

Salah satu personil polisi itu melihat aku dan langsung memegang pundak aku dan bicara “Ya Fer, Sehat fer? Jangan buat ulah lagi kalau udah di luar nanti ya dek ku”.

 

Aku yang senang lantaran rasa sakit yang ku alami terbalaskan langsung menjawab “Siap, Ya bangda”, mereka pun pergi meninggalkan ruang tahanan tersebut.

 

Kemudian, pasca tragedi pembalasan itu, Hari-hari aku dengan si Mulo …………. Bersambung Part III.