October 16, 2021

Menyajikan Berita Teraktual

Redam Lonjakan COVID-19, Masyarakat Hindari Berkerumun dan Bepergian

Dr. Sonny Harry B Harmadi

Dr. Sonny Harry B Harmadi

Jakarta, Indocybernews.com –  Dr. Sonny Harry menjelaskan kita harus belajar dari pengalaman sebelumnya, terbukti terjadi lonjakan kasus pada empat momen libur panjang sepanjang 2020. Lonjakan kasus juga biasanya diikuti lonjakan kematian akibat COVID-19. Kecenderungan masyarakat yang melakukan perjalanan setiap libur
panjang, menjadi pemicu lonjakan kasus karena hampir selalu diiringi oleh turunnya kepatuhan
terhadap protokol kesehatan.

Dr. Sonny Harry B. Harmadi, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19,
menyampaikan meningkatnya aktivitas perjalanan akan menciptakan kerumunan. Kepatuhan
protokol 3M memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan, akan turut berkurang. “Inilah
yang memicu lonjakan kasus. Lalu saat terjadi lonjakan kasus, beban pada pelayanan kesehatan
juga ikut meningkat,” terangnya dalam Dialog bertema Terus Kencangkan Protokol Kesehatan
yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Kamis (20/5).

Dikhawatirkan pasien COVID-19 yang dirawat di RS akan datang secara bersamaan dengan
jumlah yang besar. “Kalau sampai 7-8 ribu pasien dirawat bersamaan, maka RS akan sangat
kewalahan sehingga tidak bisa membantu dengan maksimal,” ungkap dr. Lia G. Partakusuma
Sp.PK. MM. MARS. Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI).

Tidak hanya itu saja, jumlah tenaga kesehatan juga dikhawatirkan tidak mencukupi apabila
jumlah kasus yang dirawat di RS meningkat secara bersamaan. “SDM di ICU harus khusus,
belum lagi apabila jumlah penularan tinggi, maka SDM kita akan mudah tertular seperti awal
tahun yang lalu, banyak tenaga kesehatan kita tertular COVID-19,” jelas dr. Lia lebih lanjut.

Saat ini kondisi keterisian tempat tidur (bed occupancy ratio/BOR) secara nasional kurang dari
30%. Namun sudah ada beberapa provinsi yang menunjukkan peningkatan BOR cukup
signifikan, “Aceh dan Sulawesi Barat BOR-nya kini sudah di atas 50%. Ada juga beberapa
provinsi yang BOR-nya mencapai 25-50% seperti Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Riau.
Lalu yang peningkatannya 10-24% ada di Sumatera Barat, Bangka Belitung, Kep. Riau, Jawa
Tengah, dan Jambi,” terang dr. Lia.

Untuk menekan dan menghindari kondisi terburuk itulah pemerintah memberlakukan peraturan
peniadaan mudik tahun ini. Kondisi transportasi selama diberlakukannya aturan peniadaan mudik
juga dinilai sangat efektif.

Diakui Dr. Sonny, “Transportasi baik angkutan laut, udara, bahkan angkutan darat lalu lintasnya
turun 93%. Angkutan udara pun turun 70%. Esensi pelarangan mudik itu adalah agar masyarakat
jangan melakukan perjalanan pada tanggal berapapun,” terangnya.

Aturan pelarangan mudik tahun ini pun mampu menekan keinginan masyarakat untuk pulang ke
kampung halaman, penelitian litbang Satgas COVID-19 menunjukkan sebelumnya masyarakat
yang ingin melakukan mudik sebesar 33%, turun menjadi 11% setelah diberlakukan aturan
pelarangan mudik, bahkan setelah sosialisasi terus menerus dilakukan, keinginan untuk mudik
turun menjadi 7%.

Prof. Dr. dr. Soedjatmiko SpA(K). Msi., Guru Besar FKUI mengimbau agar membatasi kerumunan
dimanapun, baik pemudik maupun yang tidak mudik. Bagi yang tidak mudik juga sebaiknya
jangan berkerumun di pusat perbelanjaan, apalagi di tempat wisata. “Jangan sampai saudara kita
tertular COVID-19 hingga bergejala berat dan masuk rumah sakit,” pesannya.
Mengutip data Satgas COVID-19, Prof. Soedjatmiko menyebutkan bahwa dari 6-7 orang yang
berkerumun ada 1 orang yang positif COVID-19. “Apalagi dalam kerumunan itu kecenderungan
mengabaikan protokol kesehatan juga tinggi, seperti memakai masker tidak benar, bahkan tidak
memakai masker sama sekali,” tegasnya.

Begitu juga bagi yang sudah divaksinasi sebanyak dua dosis secara lengkap pun dihimbau oleh
Prof. Soedjatmiko agar tidak berkerumun, “Masih ada peluang sebesar 35% bagi orang yang
sudah divaksinasi untuk tertular COVID-19. Sehingga tidak ada jaminan kita kebal 100% dari
COVID-19,”

Untuk menghindari itu Prof. Soedjatmiko menyarankan, “Apabila ada keluarga yang mudik atau
pernah berkerumun selama 1 jam atau lebih, perlu diwaspadai. Sarankan untuk swab Antigen
atau PCR, dan bila perlu laporkan ke ketua RT/RW dan Satgas COVID-19 di lingkungan masing-
masing,” sarannya. (Risa)