October 26, 2021

Menyajikan Berita Teraktual

Tahanan Polsek Medan Kota Tewas, Istri Lapor Ke Poldasu.

MEDAN || Indocybernews.com – Fitri Indriani (26), warga jalan PDAM Tirtanadi, Kec Medan Sunggal, begitu kaget melihat kondisi suaminya, pasalnya, suami, Aryes Prayudi Ginting (34) yang sejak 2 Agustus 2021 menjadi tahanan Polsek Medan Kota atas kasus kepemilikan narkoba jenis sabu, dikabarkan meninggal (23/8) dengan kondisi wajah dan tubuh mengalami pembengkakan dan biru lembam, tak merasakannya.

 

Menurut ibu satu anak yang masih berusia 9 bulan itu, bahwa dirinya tak pernah mendapat firasat apapun, jika suami yang telah 5 tahun menikah dengannya, harus meninggal dunia dalam kondisi yang mengenaskan. padahal dirinya sempat mengunjungi suaminya pada hari kedua, melihat suaminya dalam keadaan sehat, serta malam itu, Selasa (23/8) sekira pukul 21.30 WiB, Fitri masih berbicara dengan korban, Aryes Prayudi Ginting yang saat itu berada di dalam Sel Polsek Medan Kota, dimana saat itu korban selalu mengatakan bahwa dirinya dalam keadaan baik dan sehat.

 

“Sekali saat hari ke 2 penangkapan saya jumpai dia dan hanya 15 menit aja, karena suami tak juga mengakui perbuatannya di depan penyelidikan mengenai kepemilikan barang itu, akhirnya saya pulang dan juper sempat bilang, jumpa aja di Pengadilan. Saya heran pada (23) / 8) sekira jam 23.30 WIB, penyidik ​​​​atas nama Hafni menghubungi dan meminta saya datang dengan mengatakan bahwa suaminya sakit dan dibawa ke RS Bhayangkara, saya bilang, besok aja saya ke sana, karena sudah malam, apalagi suami saya hanya sakit dan tak terbayangkan jika suami saya saat itu,” katanya.

 

Tak berapa lama kemudian, Penyidik ​​​​atas nama Hafni kembali menghubunginya dengan mengatakan bahwa suaminya telah meninggal dunia.

 

“Saat itu juga saya dan keluarga ke RS Bhayangkara dan saat itu sempat pihak Polisi dan RS Bahayangkara tak menyetujui saya membawa suami saya dan malah mereka yang berencana memandikan, mengkafankan serta menguburkan suami saya, saat itu saya menolak dan setelah kembali berdialog yang dibantu om saya yang kemudian sebagai Brimob, akhirnya malam juga suami yang dibawa pulang, awalnya waktu di RS Bhayangkara, wajah suami bersih, namun besoknya (24/8) sekira pukul 10 pagi, saya dan keluarga melihat wajah dan dada suami membengkak dan pada bagian leher suami tampak membiru,”ungkapnya sedih.

 

melihat kondisi suami yang terlupakan mengalami pengalaman, (26/8), Fitri dan akhirnya melaporkan hal itu ke Poldasu berdasarkan STTLP/1357/VIII/2021/SPKT/Polda Sumut.

 

“Kemudian pada 3 September 2021, untuk mencari keadilan terhadap suami saya, maka saya memberikan kuasa hukum kepada Pengacara M. Sa’i Rangkuti dan Rekan, sebenarnya saya ikhlas suami saya mau ditahan berapa lama pun, karena saya akan menunggunya, tapi ketika saya melihat suami saya meninggal dalam kondisi yang mengenaskan dan tidak wajar maka saya meminta keadilan,”terangnya.

 

Selanjutnya M. Sa’i Rangkuti, SH, MH, Disampingkan M.Ilham, SH, Rahmad Makmur, SH,MH, Rizky Fatimantara Pulungan, SH dan Imam Munawir Siregar,SH, mengatakan bahwa kondisi korban meninggal dalam kondisi wajah membengkak dan sekitar leher membiru lembam, kita menduga ada anggapan yang dialami korban.

 

“Kondisi, ada potensi korban yang mengalami kekerasan dan perjuangan, apa pihak tahanan, atau oknum polisi Polsek Medan Kota, pada dasarnya korban yang berstatus tahanan Polsek Medan Kota, seharusnya dalam pengawasan dan tanggung jawab Polsek Medan Kota, harus korban sebagai tahanan dibina, bukan dibinasakan, kita akan melakukan upaya hukum untuk menemukan kebenaran penyebab kematian korban dan mencari pelaku pelaku terhadap korban,”tegasnya.

 

Kembali Fitri menceritakan bahwa pada 2 Agustus 2021, Suaminya, Aryes yang saat itu membutuhkan uang sebesar Rp 30 ribu untuk membeli susu anaknya, mendatangi Yamin tetangganya yang dikenalnya sebagai bandar narkoba jenis sabu.

 

Saat yang sama, Yamin ketika tiba tiba mendapat pesanan satu Gram sabu dari yang biasa dipanggil Kuluk yang memiliki rambut gondrong, beserta Rizky, warga jalan Perjuangan Gang Pertama, Kec Medan Sunggal yang selama ini dikenal sebagai Pengedar Sabu Ketengan, dimana keduanya diminta diantarkan barang haram itu di dekat SPBU Ringroad.

 

Kemudian Yamin yang melihat Aryes membutuhkan uang Rp 30 ribu, akhirnya menyuruhnya mengantarkan barang-barang Kuluk dan Rizky yang ternyata saat itu telah berhasil menangkap Personil Polsek Medan Kota, melakukan pengembangan.

 

Memang Naas, Yamin yang seharusnya digiring agar barang sebagai pengembangan terhadap penangkapan Kuluk dan Rizky, tiba tiba Aryes yang mengantarkan sabu itu, hingga tepat di dekat SPBU Ringroad, Aryes langsung dipegang Personil Polsek Medan Kota dengan bukti 1 gram sabu.

 

Selanjutnya Kuluk, Rizky dan Aryes langsung diboyong ke Polsek Medan Kota.

 

Namun ketiganya awalnya satu pihak berkas, tiba-tiba dipisahkan karena keluarga Kuluk dan Rizky telah mendapat lampu untuk menyediakan sejumlah uang. 

 

“Setelah 4 hari penangkapan itu (6/8), saya datangi ibu si Kuluk yang berada di Jalan Perjuangan Gang Pertama dan sempat saya dimarahi menuduh suami saya yang mengakibatkan hasil tertangkap, padahal saya katakan bahwa suami saya tertangkap karena pancingan Kuluk dan Rizky , sempat ibu Kuluk mengatakan bahwa malam ini juga, ibu Kuluk harus menyediakan sejumlah uang, agar jam 1 malam Kuluk anaknya serta Rizky dapat dibebaskan,” ungkap Fitri menceritakan apa yang ibu Kuluk sampaikan.

 

Penasaran pasti bebasnya Kuluk dan Rizky, besok paginya (7/8), Fitri kembali mendatangi rumah Kuluk pagi itu (7/8) terlihat Kuluk dan Rizky sedang dan hal itu membuat nyeri, karena menangkap atas pengembangan Kuluk dan Rizky, tetap menjadi pesakitan di Polsek Medan Kota.

“Saat itu sempat si Kuluk mengatakan kepada saya bahwa suamiku mengaku narkoba itu miliknya, memang bukan miliknya, karena itu adalag milik si Yamin dan dia hanya menyampaikan dan Kuluk sempat mengatakan bahwa suaminya tak mengakuinya dihadapan, habis dihajari,”tuturnya.

 

Mendengarkan Fitri, kembali M Sa’i Rangkuti, SH,MH berkomentar bahwa Penangkapan Aryes, suami Fitri, disebabkan oleh pengembangan dari penangkapannya Kuluk dan Rizky, sehingga Kuluk dan Rizky yang pertama kali mengetahui terlebih dahulu dan memiliki barang bukti, asalkan memancing barang haram itu, tak lain Yamin, namun yang menghantar Aryes, makanya dirinya memiliki kekurangan.

 

“Aryes ditangkap karena pengembangan dari Kuluk dan Rizky yang terbukti memiliki barang bukti, jelas di sana ketiganya satu paket, tapi mengapa Kuluk dan Rizky bisa dilepas?, Kalo memang pihak Polisi Kota bilang tidak ada bukti saat penangkapan Kuluk dan Rizky, mengapa harus ada pengembangan dan mengapa pula Kuluk dan Rizky sempat ditahan selama 5 hari di Polsek Medan Kota?, Mana mungkin tidak ada barang bukti yang bisa dilakukan, maka tampak jelas ada dugaan pisah berkas antara Kuluk dan Rizky dengan Aryes, ketiganya sepaket dan ada dugaan adanya lepas di Polsek Medan Kota,” tutur M. Sai Rangkuti.

 

Kanit Reskrim Polsek Medan Kota, Iptu Rambe kepada Wartawan ketika dikonfirmasi mengenai hal itu (3/9) seolah berdalih dan tidak mengetahui korban yang meninggal tersebut.

“Siapa yang meninggal,”dalihnya.