A-League Kembali Fasilitasi Pemain Muslim Berbuka Puasa di Tengah Laga Ramadan 2026

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Liga-liga sepak bola profesional di Australia, Men dan A-League Women, kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung para pemain serta ofisial pertandingan yang menjalankan ibadah puasa 1447 Hijriah. Kebijakan jeda khusus selama pertandingan untuk berbuka puasa akan kembali diterapkan pada musim 2026 ini, melanjutkan inisiatif yang pertama kali diperkenalkan pada musim 2023/2024.

Ramadan 2026, yang dimulai sekitar 17-19 Februari, akan berlangsung selama putaran ke-18 hingga ke-21 di A-League Men dan putaran ke-18 hingga ke-19 di A-League Women. Kebijakan ini memungkinkan klub atau ofisial pertandingan untuk meminta jeda singkat, sekitar 90 detik, setelah matahari terbenam. Jeda tersebut bertujuan agar pemain dan ofisial Muslim dapat membatalkan puasa mereka di tengah laga.

Prosedur permintaan jeda ini cukup terstruktur. Permohonan harus diajukan kepada Komisioner Pertandingan 90 menit sebelum kick-off, bersamaan dengan penyerahan daftar pemain. Jeda akan dilakukan pada waktu yang disepakati bersama, relevan dengan jadwal matahari terbenam, saat bola keluar dari permainan dalam posisi netral. Penting untuk dicatat bahwa pemain atau ofisial yang berbuka puasa harus tetap berada di lapangan, dan waktu jeda yang diberikan akan ditambahkan sebagai waktu tambahan di akhir babak.

CEO A-Leagues, Steve Rosich, menekankan pentingnya kebijakan ini dalam menjaga kesejahteraan pemain. “Ramadan adalah perayaan penting bagi banyak pemain, penggemar, dan ofisial pertandingan,” ujar Rosich. “Kebijakan ini penting untuk menjaga kesejahteraan pemain dan ofisial yang berpuasa, serta menunjukkan komitmen berkelanjutan kami untuk menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa diterima dan disertakan dalam permainan kami.”

Dukungan serupa juga disuarakan oleh Kepala Eksekutif Professional Footballers Australia (PFA), Beau Busch. Ia menyatakan dukungan kuat PFA terhadap jeda pertandingan bagi pemain yang berpuasa Ramadan. “Kami selalu mendukung inisiatif yang mengakui bahwa pemain adalah manusia terlebih dahulu,” kata Busch. “Tujuan kami adalah memastikan semua pemain merasa didukung dan dihormati di A-Leagues.”

Para menyambut baik inisiatif ini. , pemain Central Coast Mariners, mengungkapkan rasa syukurnya. “Menjalankan Ramadan adalah praktik yang sangat penting bagi saya, keluarga saya, dan semua saudara-saudari saya yang menjalankan ibadah bulan ini,” tutur Auglah. Ia menambahkan bahwa jeda selama pertandingan sangat membantu dalam menjaga performa. “Memberikan jeda selama pertandingan bagi pemain yang berpuasa membuat perbedaan dalam performa,” tambahnya.

Pengalaman serupa juga dibagikan oleh gelandang Sydney FC, Anas Ouahim, dalam laporan tahun 2025. Ia menyoroti tantangan fisik yang dihadapi atlet saat berpuasa dan betapa krusialnya berbuka puasa tepat waktu untuk hidrasi dan pemulihan energi. “Kesempatan ini sangat bermanfaat, terutama bagi atlet profesional,” ujar Ouahim. “Ini memungkinkan saya untuk menjalankan agama saya sambil tetap bermain olahraga yang saya cintai, dan saya telah menemukan keseimbangan yang berhasil.” Pemain keturunan Australia-Indonesia, Eizar Tanjung dari Sydney FC, juga mengakui tantangan bersaing dengan pemain yang tidak berpuasa, namun ia merasa Ramadan justru membantunya tampil lebih baik di lapangan.

Kebijakan A-Leagues ini sejalan dengan praktik yang mulai umum di liga-liga besar dunia lainnya, seperti Liga Primer Inggris dan Major League Soccer (MLS) di Amerika Serikat, yang juga menerapkan jeda serupa untuk mendukung pemain Muslim. Hal ini mencerminkan semakin meningkatnya kesadaran dan adaptasi dalam dunia olahraga profesional terhadap kebutuhan religius para atlet.