Adu Jotos di Jambi: Siswa Polisikan Guru Setelah Upaya Damai Gagal

Author Image

Irfan

20 Januari 2026

Foto: Didampingi Orang Tua, Siswa Adu Jotos Dengan Guru Melapor Ke Polda Jambi. (foto: Dimas Sanjaya)
Foto: Didampingi orang tua, siswa adu jotos dengan guru melapor ke Polda Jambi. (Foto: Dimas Sanjaya)

Jambi – Kasus adu jotos antara seorang guru SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, dengan siswanya berinisial MLF (16) berbuntut panjang. Kali ini, orang tua MLF melaporkan guru tersebut, Agus Saputra, ke Polda Jambi atas dugaan penganiayaan. Laporan ini diajukan setelah upaya penyelesaian secara damai atau restorative justice dinilai gagal.

MLF, didampingi ayah kandungnya H dan kuasa hukumnya, mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jambi pada Senin (19/1/2025) malam. Kuasa hukum MLF, Dian Burlian, menyatakan bahwa pelaporan ini terpaksa dilakukan karena pihak guru tidak menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

“Selama ini kita mengharapkan agar kasus ini diselesaikan secara restorative justice. Tapi dari oknum guru ini tidak mau, bahkan membuat laporan. Kita tunggu tiga hari, tidak ada penyelesaian secara konkrit sehingga kita mengambil langkah hukum,” ujar Dian Burlian kepada wartawan di Polda Jambi, Selasa (20/1/2026), seperti dikutip dari detikSumbagsel.

Dian Burlian menjelaskan bahwa laporan ke Polda Jambi ini merupakan tindak lanjut setelah sebelumnya kakak kandung MLF sempat mendatangi Polsek Berbak Polres Tanjung Jabung Timur. Saat itu, laporan resmi belum dibuat, namun pihak kepolisian mencatatnya dengan harapan agar kasus tersebut dapat diselesaikan secara damai.

Lebih lanjut, Dian memaparkan ada tiga rangkaian peristiwa yang menjadi dasar pelaporan dari pihak siswa. Pertama, mengenai pemicu pemukulan. Pihak guru mengakui MLF telah berkata tidak pantas, namun MLF dan kuasa hukumnya membantah teriakan tersebut ditujukan kepada guru.

“Pada saat itu, dia tidak teriak kepada gurunya, tapi teriak kepada teman-temannya memberi instruksi ‘woi diamlah jangan ribut’. Di dalam ruangan gurunya juga ada. Jadi oknum guru ini masuk nanyain siapa yang bilang woi. Ya, karena dia (siswa) ini tidak merasa bersalah, dia maju, pas maju, ya, dipukul begitu,” jelas Dian Burlian mengenai kronologi versi kliennya.