Anfield bersiap menghadapi babak baru. Setelah sembilan tahun penuh kejayaan, dua ikon Liverpool, Mohamed Salah dan Andrew Robertson, dipastikan akan meninggalkan klub pada akhir musim 2025/2026. Di tengah momen perpisahan yang emosional ini, mantan manajer Jurgen Klopp kembali mengenang salah satu transfer paling krusial yang membentuk era keemasan The Reds: kedatangan Mohamed Salah pada tahun 2017.
Klopp, yang baru-baru ini mengakhiri masa jabatannya di Liverpool, akhirnya menepis rumor yang telah beredar luas selama bertahun-tahun bahwa Salah bukanlah pilihan utamanya. Spekulasi menyebutkan bahwa pelatih asal Jerman itu awalnya lebih menginginkan Julian Brandt, pemain muda Bayer Leverkusen saat itu. Bahkan, beberapa laporan mengklaim Salah berada di urutan keempat dalam daftar target transfer Klopp, di belakang nama-nama seperti Christian Pulisic dan Julian Draxler.
Namun, Klopp kini memberikan klarifikasi tegas. “Selalu ada cerita bahwa saya ingin merekrut Julian Brandt atau semacamnya,” ujar Klopp kepada The Anfield Wrap. “Situasinya adalah jika Anda mencari seorang winger, Anda berbicara dengan tujuh atau delapan (pemain) jika Anda beruntung. Ya, kami berbicara dengan Brandt, tetapi kami juga berbicara dengan Mo Salah. Bukan berarti dia (Brandt) tidak mau (bergabung), jadi kami mengambil dia (Salah).”
Klopp menegaskan bahwa pada akhirnya, seluruh tim rekrutmen “100% yakin” dengan Mohamed Salah. Keputusan krusial ini tidak lepas dari peran departemen analisis data Liverpool, yang dipimpin oleh mantan direktur riset, Ian Graham, serta tim rekrutmen yang mencakup Dave Fallows, Barry Hunter, dan direktur olahraga Michael Edwards. Graham secara spesifik menyatakan bahwa analisis data mereka mengidentifikasi Salah sebagai “wide forward muda terbaik di Eropa.”
Meskipun Klopp sempat skeptis di awal, ia terbuka untuk berdiskusi dan meminta bukti yang meyakinkan. Data performa Salah, yang saat itu bermain untuk AS Roma, akhirnya berhasil mengubah pandangan manajer asal Jerman tersebut. Menariknya, Julian Brandt sendiri kemudian mengungkapkan bahwa ia tidak ingin pindah pada waktu itu demi menjaga peluangnya bermain di Piala Dunia.
Mohamed Salah tiba di Anfield pada Juli 2017 dari AS Roma dengan biaya sekitar £36,5 juta hingga €42 juta. Pada awalnya, Salah bahkan sempat khawatir tentang posisinya di tim, mengingat Sadio Mane dan Philippe Coutinho sudah menjadi andalan di lini serang. Namun, keraguan itu segera sirna. Salah langsung menunjukkan performa sensasional, mencetak 44 gol dalam 52 penampilan di musim debutnya dan menjadi pencetak gol terbanyak liga dengan 32 gol. Sepanjang kariernya di Liverpool, ia telah mencetak 255 gol dalam 435 pertandingan, menempatkannya di posisi ketiga dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub.
Bersama Liverpool di bawah asuhan Klopp, Salah meraih berbagai gelar prestisius, termasuk Liga Champions, Premier League, Piala Domestik, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Antarklub. Klopp sendiri menyebut Salah sebagai pemain yang “tak tergantikan” dan “salah satu profesional terbaik” yang pernah ia temui.
Perpisahan Dua Legenda: Salah dan Robertson
Kabar kepergian Mohamed Salah datang setelah ia mencapai kesepakatan untuk mengakhiri kontraknya setahun lebih awal. Tak lama berselang, Andrew Robertson, bek kiri yang juga didatangkan pada Juli 2017 dengan biaya £8 juta, turut mengumumkan kepergiannya dari Anfield setelah kontraknya habis. Robertson, yang telah memenangkan semua tujuh trofi tingkat pertama yang tersedia untuk Liverpool, menyatakan keinginannya untuk bermain lebih reguler, mengingat Milos Kerkez kini menjadi pilihan utama di posisi bek kiri di bawah manajer Arne Slot. Salah pun memberikan penghormatan emosional kepada rekan setimnya itu melalui unggahan di Instagram.
Kepergian dua pilar penting ini menandai berakhirnya sebuah era di Liverpool, yang dibangun di atas fondasi transfer cerdas dan visi Jurgen Klopp, didukung oleh tim rekrutmen yang inovatif seperti Michael Edwards. Edwards, yang kembali ke Liverpool pada tahun 2024 sebagai CEO Sepak Bola FSG, kini menghadapi tantangan besar dalam membentuk kembali skuad The Reds di era pasca-Klopp dan pasca-Salah.