Mantan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) dua periode, Alex Noerdin, mengembuskan napas terakhir pada Rabu, 25 Februari 2026, pukul 13.30 WIB, di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Kepergian tokoh berusia 75 tahun ini menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Sumsel, sekaligus mengakhiri perjalanan panjang seorang pemimpin yang dikenal dengan visi besar dan sejumlah terobosan pembangunan, meski tak luput dari jerat kasus hukum.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh juru bicara keluarga, Okta Alfarizi, yang menyatakan bahwa jenazah Alex Noerdin akan diterbangkan ke Palembang untuk dimakamkan di TPU Kebun Bunga pada Kamis, 26 Februari 2026. Alex Noerdin dirawat intensif di ruang ICU setelah kondisi kesehatannya menurun drastis sejak 20 Februari 2026, akibat infeksi empedu disertai sumbatan saluran pankreas.
Jejak Karier Politik dan Pembangunan Monumental
Lahir di Palembang pada 9 September 1950, Alex Noerdin memulai karier birokrasinya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Selatan pada tahun 1981. Ia kemudian menapaki jenjang politik dengan menjabat sebagai Bupati Musi Banyuasin (Muba) selama dua periode, yakni 2001-2006 dan 2007-2012. Pada periode keduanya sebagai bupati, ia mengundurkan diri pada 2008 untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Sumsel.
Alex Noerdin berhasil memimpin Sumatera Selatan sebagai gubernur selama dua periode, dari 2008 hingga 2013 bersama Eddy Yusuf, dan dilanjutkan periode 2013-2018 dengan Ishak Mekki sebagai wakilnya. Selama masa kepemimpinannya, ia dikenal aktif mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dan meningkatkan citra daerah di kancah nasional maupun internasional.
Salah satu warisan paling monumental dari kepemimpinan Alex Noerdin adalah pengembangan kawasan olahraga terpadu Jakabaring Sport City (JSC) di Palembang. Melalui lobi dan diplomasi yang ulung, ia berhasil membawa Sumatera Selatan menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga berskala besar, termasuk SEA Games 2011 dan puncaknya, Asian Games 2018, yang menempatkan Palembang di mata dunia. Selain itu, proyek Light Rail Transit (LRT) Palembang juga terealisasi di eranya, menjadi tonggak sejarah transportasi modern pertama di luar Pulau Jawa.
Tak hanya fokus pada infrastruktur fisik, Alex Noerdin juga dikenal sebagai pelopor program-program sosial seperti sekolah gratis dan berobat gratis, yang dinilai membantu meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Program-program ini bahkan sempat menjadi percontohan di tingkat nasional.
Dinamika Politik dan Perkara Hukum
Meski memiliki rekam jejak pembangunan yang cemerlang, perjalanan karier politik Alex Noerdin juga diwarnai polemik dan proses hukum. Ia tercatat sempat mencoba peruntungan di Pilkada DKI Jakarta pada 2012, namun gagal. Setelah menuntaskan masa jabatannya sebagai gubernur, ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Partai Golkar untuk periode 2019-2024, namun masa jabatannya berakhir pada 2021.
Pada akhir masa hidupnya, Alex Noerdin tersandung beberapa kasus korupsi. Ia divonis 12 tahun penjara pada 2023 atas kasus dugaan korupsi pembelian gas bumi oleh BUMD Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) Sumsel tahun 2010-2019, serta kasus dana hibah pembangunan Masjid Raya Sriwijaya Palembang tahun 2015 dan 2017. Terakhir, ia juga terjerat kasus dugaan korupsi revitalisasi Pasar Cinde Palembang.
Namun, dengan wafatnya Alex Noerdin, Kejaksaan Agung (Kejagung) memastikan bahwa perkara pidana yang menjeratnya resmi ditutup atau gugur demi hukum. Hal ini sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, di mana kasus pidana perorangan akan gugur jika terdakwa meninggal dunia.
Penghormatan dan Warisan yang Dikenang
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Alex Noerdin. Herman Deru mengenang almarhum sebagai sosok pemimpin yang memiliki karakter kuat dan konsistensi politik yang jarang ditemui. “Beliau sosok yang memiliki visi besar untuk Sumatera Selatan. Banyak perubahan yang dirasakan masyarakat hingga kini,” ujarnya. Ia juga menyoroti konsistensi Alex Noerdin yang tidak pernah berpindah partai sepanjang kariernya, dari birokrat hingga anggota DPR.
Banyak pihak menilai, terlepas dari dinamika politik dan persoalan hukum yang sempat dihadapi, kontribusi Alex Noerdin terhadap pembangunan Sumsel tidak dapat diabaikan. Era kepemimpinannya dianggap sebagai fase percepatan infrastruktur dan promosi investasi yang membawa Sumatera Selatan ke panggung dunia.