Performa gelandang serang Liverpool, Alexis Mac Allister, kembali menunjukkan grafik menanjak sepanjang musim 2025/2026 di bawah arahan manajer Arne Slot. Pemain internasional Argentina ini menjadi salah satu pilar penting di lini tengah The Reds, dengan kebugaran fisik dan adaptasi taktik menjadi faktor krusial di balik kebangkitannya.
Mac Allister tercatat telah tampil sebagai starter dalam 20 dari 24 pertandingan Liga Primer Inggris dan lima dari delapan laga Liga Champions musim ini, menyumbangkan tiga gol di kompetisi Eropa. Penampilannya yang konsisten ini melanjutkan kontribusi vitalnya pada musim 2024/2025, di mana ia dianggap sebagai gelandang paling komplet Liverpool saat mereka meraih gelar Liga Primer di musim perdana Arne Slot.
Tantangan Kebugaran dan Peran Taktis
Namun, perjalanan Mac Allister tidak selalu mulus. Ia sempat menghadapi masalah kebugaran yang mengkhawatirkan. Pada Mei 2025, Arne Slot mengonfirmasi bahwa Mac Allister akan absen di pertandingan terakhir musim 2024/2025 untuk memulihkan diri sepenuhnya demi persiapan musim berikutnya. Slot bahkan menyoroti “mentalitas Argentina” Mac Allister yang cenderung bermain meski merasakan sakit.
Persiapan pramusim 2025 juga terganggu, di mana Mac Allister melewatkan beberapa minggu latihan. Situasi ini sempat menjadi perhatian Slot, yang menekankan pentingnya pramusim yang memadai untuk membangun tingkat intensitas yang dibutuhkan sepanjang musim panjang. Absensi Mac Allister, bersama dengan Conor Bradley, bahkan disebut Slot sempat mengganggu kohesi tim.
Meski demikian, Mac Allister menunjukkan ketangguhan. Setelah sempat ditarik keluar karena tekel keras saat melawan Burnley pada September 2025, Slot memastikan bahwa cedera tersebut tidak serius, meskipun sang pemain sempat terlihat “pincang”.
Evolusi di Bawah Arne Slot
Di bawah kepemimpinan Arne Slot, peran taktis Mac Allister mengalami evolusi signifikan. Ia menjelaskan bahwa perubahan sistem dengan dua gelandang bertahan memberinya lebih banyak kebebasan untuk bergerak maju. “Dulu, mungkin dengan Jürgen saya bermain sebagai gelandang tunggal. Jadi, posisinya sangat berbeda. Saya lebih banyak bertahan daripada yang lain,” ujar Mac Allister.
Ia melanjutkan, “Saat ini, karena kami bermain dengan dua gelandang bertahan, saya bisa sedikit lebih bebas dan jika kami memulai dengan dua gelandang bertahan dan satu sedikit lebih maju, itu mengubah segalanya. Misalnya, ketika bola keluar ke bek kiri, saya yang bisa bergerak lebih maju, dan Ryan [Gravenberch] menjadi gelandang bertahan.”
Perubahan gaya bermain Liverpool juga menjadi fokus. Mac Allister mengakui adanya periode transisi dari gaya Jurgen Klopp yang lebih langsung ke filosofi Slot yang mengutamakan kesabaran dan penguasaan bola lebih lama. “Kami terbiasa bermain sangat langsung dan mungkin lebih banyak umpan panjang, dan saat ini dengan pelatih baru, idenya benar-benar berbeda, dan kami sedang berupaya untuk lebih sabar, untuk memiliki periode penguasaan bola yang lebih lama,” jelasnya.
Dampak Pertemuan Krusial dan Spekulasi Transfer
Kebangkitan performa Liverpool baru-baru ini juga tidak lepas dari pertemuan tim krusial pada awal Februari 2026. Mac Allister mengungkapkan bahwa manajer Arne Slot menuntut peningkatan di “kedua kotak penalti”, yang kemudian memicu rentetan gol tim. “Manajer mengadakan pertemuan yang sangat baik di mana dia mengatakan bahwa kami perlu meningkatkan di kedua kotak penalti,” kata Mac Allister.
Sejak pertemuan itu, The Reds hanya menelan satu kekalahan dalam 16 pertandingan terakhir mereka, termasuk kemenangan telak 6-0 atas Qarabag di Liga Champions dan 4-1 atas Newcastle, yang mengembalikan kepercayaan diri tim.
Di tengah performa impresifnya, Mac Allister juga menjadi subjek spekulasi transfer, dengan Manchester United dan Real Madrid disebut-sebut tertarik. Namun, ayah Mac Allister menyatakan bahwa mereka masih menunggu tawaran kontrak baru dari Liverpool, dan sang pemain sendiri tampak berkomitmen penuh pada klub. Kedatangan pemain seperti Florian Wirtz dan Hugo Ekitike juga telah mengubah dinamika lini tengah, dengan Wirtz dan Ekitike membentuk kemitraan mematikan yang menjadi kunci kebangkitan Liverpool.
Saat ini, Liverpool berada dalam persaingan ketat untuk memperebutkan posisi Liga Champions, menempati peringkat keenam di Liga Primer setelah kekalahan dari Manchester City. Mereka juga masih berkompetisi di Piala FA, Piala Liga, dan Liga Champions.