ALTO Pastikan Kesiapan Sistem Pembayaran Digital Hadapi Puncak Ramadan 2026

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

alto network, pembayaran digital, ramadan 2026, bank indonesia, transaksi elektronik

, salah satu Penyelenggara Infrastruktur Pembayaran (PIP) terkemuka di Indonesia, menyatakan kesiapan penuh sistemnya untuk menghadapi lonjakan transaksi digital yang diperkirakan terjadi selama puncak Ramadan dan Idulfitri 2026. Perusahaan memastikan infrastruktur pembayaran akan tetap andal, stabil, dan aman di tengah peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.

Momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah diprediksi akan memicu peningkatan tajam transaksi digital di seluruh Indonesia. Pergeseran perilaku konsumen menuju pembayaran non-tunai dan belanja daring menjadi faktor utama di balik tren ini. Data industri menunjukkan bahwa transaksi e-commerce dapat melonjak hingga 76% selama periode tersebut, dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi digital. (BI) sendiri menargetkan 17 miliar transaksi digital sepanjang tahun 2026, didukung oleh ekspansi QRIS yang kini menjangkau 60 juta pengguna.

Gretel Griselda, CEO ALTO Network, menegaskan pentingnya fondasi infrastruktur yang kokoh dalam menghadapi dinamika ini. “Lonjakan transaksi selama Ramadan menunjukkan betapa pentingnya infrastruktur [yang kokoh],” ujarnya. ALTO berperan vital dalam memproses transaksi secara cepat dan aman melalui layanan switching dan interkoneksi antarbank, terutama saat jam-jam sibuk seperti menjelang berbuka puasa dan setelah salat tarawih. Untuk menjaga kualitas layanan, ALTO menerapkan pemantauan sistem secara konsisten dan memperkuat kolaborasi dengan perbankan serta mitra industri.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga telah mengambil langkah antisipasi dengan menyiapkan uang layak edar sebesar Rp185,6 triliun untuk Ramadan dan Idulfitri 2026, meningkat dari Rp180,9 triliun pada tahun sebelumnya. Meskipun demikian, BI tetap mendorong masyarakat untuk memanfaatkan seperti BI-FAST dan QRIS demi efisiensi. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ricky Gozali, mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan transaksi pembayaran digital melalui mobile dan internet banking.

Namun, peningkatan transaksi digital juga diiringi dengan potensi ancaman kejahatan siber. Ketua Communication & Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati karena pelaku kejahatan siber kerap memanfaatkan momentum belanja besar seperti Ramadan. Modus penipuan seperti phishing, penyamaran sebagai layanan pelanggan resmi, hingga situs belanja tiruan, diprediksi akan meningkat.

Secara keseluruhan, kesiapan infrastruktur pembayaran digital menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kenyamanan masyarakat selama periode Ramadan yang krusial. Proyeksi nilai transaksi harian bahkan berpotensi menembus Rp1,4 triliun, dengan transaksi antarbank dapat mencapai Rp2,5 triliun per hari pada periode puncak. Kesiapan ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk Bank Mandiri yang menyiapkan dana tunai Rp44 triliun dan mengoperasikan sekitar 12.900 unit ATM/CRM serta 322.000 mesin EDC.