Klub raksasa Liga Primer Inggris, Manchester City, tengah berada di bawah bayang-bayang sanksi berat berupa pengurangan poin yang signifikan, bahkan mencapai 60 poin. Ancaman ini muncul seiring dengan 115 dakwaan pelanggaran aturan keuangan yang diajukan Premier League, dengan putusan dari komisi independen yang masih dinanti hingga Jumat, 27 Februari 2026 ini.
Kasus yang mengguncang sepak bola Inggris ini bermula pada Februari 2023, ketika Premier League secara resmi mendakwa Manchester City atas dugaan pelanggaran regulasi keuangan. Dakwaan tersebut mencakup periode sembilan musim, dari 2009/10 hingga 2017/18, dan melibatkan berbagai tuduhan serius. Di antara pelanggaran yang dituduhkan adalah kegagalan memberikan informasi keuangan yang akurat, ketidakpatuhan terhadap aturan Financial Fair Play (FFP) UEFA, serta pelanggaran terhadap aturan profitabilitas dan keberlanjutan Premier League. Selain itu, City juga dituduh tidak kooperatif dalam investigasi yang dilakukan oleh pihak liga.
Proses Hukum yang Berlarut-larut dan Putusan yang Tertunda
Untuk meninjau bukti dari kedua belah pihak, sebuah komisi independen yang terdiri dari tiga anggota telah menggelar sidang tertutup. Sidang maraton ini berlangsung selama 12 minggu, dimulai pada September dan berakhir pada Desember 2024. Meskipun proses investigasi dan persidangan telah rampung, keputusan akhir mengenai nasib Manchester City belum juga diumumkan. Para pengamat memperkirakan putusan akan keluar dalam beberapa bulan mendatang, kemungkinan pada pertengahan 2025.
Pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, menjelaskan bahwa lamanya proses ini disebabkan oleh kompleksitas tuduhan yang melibatkan dugaan penipuan korporat, serta volume bukti yang sangat besar, diperkirakan mencapai setengah juta dokumen. Manchester City sendiri secara konsisten membantah semua tuduhan yang dilayangkan dan menyatakan keyakinan mereka akan terbebas dari kesalahan.
Potensi Pengurangan Poin Drastis dan Dampaknya
Jika terbukti bersalah, Manchester City menghadapi berbagai potensi sanksi, mulai dari denda besar, larangan transfer, pencabutan gelar juara, hingga degradasi. Maguire secara spesifik memperkirakan bahwa pengurangan poin antara 40 hingga 60 poin akan menjadi sanksi yang “logis” dan konsisten dengan keputusan sebelumnya, mengingat skala pelanggaran City yang jauh lebih besar dan mencakup periode yang lebih panjang dibandingkan kasus klub lain.
Sebagai perbandingan, Premier League telah menjatuhkan sanksi pengurangan poin kepada Everton (total 8 poin) dan Nottingham Forest (4 poin) untuk pelanggaran aturan profitabilitas dan keberlanjutan (PSR) dalam periode yang lebih singkat. Bahkan, Leicester City juga baru-baru ini dikenai pengurangan 6 poin pada Februari 2026. Preseden ini menunjukkan keseriusan Premier League dalam menegakkan aturannya.
Apabila skenario pengurangan 60 poin benar-benar terjadi dan diterapkan pada musim berjalan 2025/2026, dampaknya akan sangat drastis. Dengan asumsi Manchester City saat ini mengoleksi 56 poin (berdasarkan data terbaru), pengurangan 60 poin akan membuat mereka terjun ke dasar klasemen dengan minus empat poin. Situasi ini hampir pasti akan berujung pada degradasi dari Premier League, mengubah peta persaingan liga secara fundamental. Manajer City, Pep Guardiola, sebelumnya telah menyatakan komitmennya untuk tetap di klub terlepas dari hasil kasus ini.
Masa depan Manchester City kini bergantung pada keputusan komisi independen. Dengan taruhan yang begitu tinggi, dunia sepak bola menanti dengan cemas putusan yang akan menentukan tidak hanya nasib salah satu klub terkuat di Inggris, tetapi juga integritas kompetisi Premier League.