Pelatih kepala Telstar, Anthony Correia, sekali lagi menjadi sorotan publik sepak bola Belanda setelah secara terang-terangan menyatakan preferensinya terhadap mantan klubnya, NAC Breda, ketimbang gemerlap Liga Champions. Pernyataan ini muncul menjelang laga krusial antara Telstar dan NAC Breda pada Jumat malam, 27 Februari 2026.
Correia, yang saat ini memimpin Telstar di kancah Eredivisie, mengungkapkan bahwa ia memilih untuk menganalisis calon lawan timnya, NAC Breda, pada Selasa malam, 25 Februari 2026, alih-alih menyaksikan pertandingan Liga Champions yang berlangsung serentak. “Saya sudah mematikan TV pada Sabtu malam (NAC Breda melawan FC Volendam, red.), ketika gol 1-0 dicetak,” ujar Correia, menyoroti dedikasinya untuk persiapan timnya.
Loyalitas Correia terhadap klub berjuluk ‘De Parel van het Zuiden’ ini memang bukan rahasia lagi. Ia pernah membela NAC Breda selama dua musim, yakni pada periode 2005 hingga 2007, meninggalkan jejak emosional yang mendalam. Meskipun kini berstatus sebagai pelatih Telstar, ikatan batinnya dengan NAC Breda tetap kuat, bahkan melampaui daya tarik kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa.
Di bawah kepemimpinan Correia, Telstar berhasil menorehkan sejarah dengan promosi ke Eredivisie untuk musim 2025-2026, setelah absen selama 47 tahun dari kasta tertinggi sepak bola Belanda. Kontraknya sebagai pelatih kepala Telstar sendiri akan berakhir pada 30 Juni 2027.
Performa impresif Correia bersama Telstar tak luput dari perhatian. Sejumlah klub Eredivisie lainnya, seperti AZ dan FC Utrecht, dikabarkan menunjukkan minat serius untuk merekrutnya. Bahkan, jurnalis olahraga terkemuka Arno Vermeulen secara terbuka merekomendasikan Correia sebagai kandidat potensial untuk melatih Ajax.
Musim 2025-2026 menjadi ajang persaingan sengit bagi kedua klub. Telstar dan NAC Breda sama-sama berkompetisi di Eredivisie. NAC Breda sendiri saat ini menempati posisi ke-16 di klasemen Eredivisie. Pada akhir tahun 2025, Telstar sempat meraih kemenangan penting 1-0 atas NAC Breda, sebuah hasil yang krusial dalam perjuangan mereka di liga. Pernyataan Correia ini sekali lagi membuktikan bahwa bagi sebagian insan sepak bola, ikatan emosional dengan klub bisa lebih berharga daripada sorotan panggung Eropa.