Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang dimulai sekitar pertengahan Februari 2026 disambut antusias oleh masyarakat Bogor. Berbagai pihak, mulai dari kepolisian, pemerintah daerah, hingga organisasi kemasyarakatan, aktif menyelenggarakan pembagian takjil gratis yang selalu diserbu warga menjelang waktu berbuka puasa. Fenomena ini tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga ajang mempererat silaturahmi dan menggerakkan roda ekonomi lokal.
Inisiatif Kepolisian dan Pemerintah Daerah
Polres Bogor menjadi salah satu garda terdepan dalam kegiatan sosial ini. Pada Jumat sore (20/2/2026), menjelang waktu berbuka, Polres Bogor membagikan takjil dan makanan gratis di depan Markas Komando (Mako) Polres, Kabupaten Bogor. Kegiatan serupa juga rutin dilaksanakan di Jalan Sudirman atau Jalan Kandang Roda-Pakansari, Kecamatan Cibinong, di depan Gedung Unit Gakkum Satlantas Polres Bogor, dengan membagikan sedikitnya 200 paket takjil setiap harinya selama Ramadan. Kapolres Bogor, AKBP Wikha Ardilestanto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian Polri kepada masyarakat. “Melalui momentum Ramadan ini, kami ingin hadir tidak hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga berbagi kebahagiaan dan membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya. Ia menambahkan, “Kami ingin membantu masyarakat yang tidak sempat berbuka bersama keluarga di rumah, semoga ini menjadi ladang kebaikan di bulan yang penuh berkah ini.”
Tidak hanya Polres Bogor, Polsek Cigudeg juga turut serta dengan membagikan 500 paket takjil gratis kepada masyarakat di sekitar Mako Polsek Cigudeg pada hari kedua Ramadan. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor juga aktif menyiapkan takjil gratis bagi pengguna jalan yang masih dalam perjalanan saat berbuka. Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyatakan bahwa program ini rutin dilaksanakan setiap Ramadan. “Pembagian takjil gratis ini dilaksanakan setiap bulan Ramadhan. Tahun ini tetap kami laksanakan,” kata Rudy Susmanto pada Rabu (18/2/2026).
Dukungan untuk UMKM dan Festival Islami
Pemkab Bogor tidak hanya membagikan takjil, tetapi juga memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Aneka takjil yang dibagikan disediakan oleh sejumlah pelaku UMKM yang ditunjuk. Bahkan, gerbang kompleks pemerintahan Kabupaten Bogor di Cibinong diubah menjadi tempat berburu takjil yang nyaman bagi masyarakat, dengan puluhan tenda difasilitasi tanpa dipungut biaya. “Yang di Masjid Baitul Faizin, untuk yang di kantor Pemerintah Kabupaten Bogor, semuanya gratis, untuk tempat gratis,” ungkap Rudy Susmanto.
Semarak Ramadan di Kota Bogor juga diperkaya dengan Bogor ICMI Islamic Festival (BIIFEST) 2026 yang berlangsung dari 20 Februari hingga 1 Maret 2026. Festival ini, yang dipusatkan di Mall Botani Square, Kantor Kementerian Agama Kota Bogor, dan Balai Kota Bogor, tidak hanya menampilkan bazar UMKM dan berbagai lomba, tetapi juga menyediakan bazar dan pembagian 12.000 takjil. Sekretaris Daerah Kota Bogor, Denny Mulyadi, menyebut BIIFEST sebagai wadah pemersatu masyarakat lintas generasi yang menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, dan harmoni di tengah keberagaman Kota Bogor. Pusdikzi TNI AD juga turut menebar kebaikan dengan membagikan 200 paket takjil setiap hari selama Ramadan kepada warga di sekitar markasnya di Kota Bogor.
Fenomena ‘War Takjil’ dan Semangat Kebersamaan
Antusiasme masyarakat dalam berburu takjil menciptakan fenomena yang populer disebut “War Takjil”. Antrean panjang kerap terlihat di berbagai titik pembagian takjil, seperti yang dialami Abdi (18 tahun) yang mengaku sudah mengantre sejak pukul 17.00 WIB untuk mendapatkan takjil gratis. Abdal, warga Sentul, juga mengungkapkan kegembiraannya saat menemukan takjil gratis di kawasan Pakansari. “Mau ke Pakansari tadi, tapi ada takjil gratis ya sudah kita antre. Makasih Polres Bogor,” ujarnya dengan senyum.
Fenomena ini bahkan menarik perhatian dari berbagai kalangan, termasuk non-Muslim, yang ikut meramaikan perburuan takjil. Siti, salah seorang pengunjung, tidak merasa keberatan dengan partisipasi non-Muslim. “Menurut aku sih enggak apa-apa ya, bebas siapa saja mau beli takjil. Kan yang direbutin makanan,” katanya santai. Dosen IPB University, Dr. Tjahja Muhandri, melihat “War Takjil” sebagai fenomena sosial unik yang didorong oleh kerinduan akan makanan khas Ramadan yang jarang ditemui di hari biasa. “Maka rebutan akan makanan atau minuman takjil itu bisa jadi adalah rebutan ‘kenangan’,” jelasnya. Tradisi berbagi takjil ini secara sosial meningkatkan rasa kepedulian, empati, dan mempererat hubungan sosial di masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan seperti pekerja harian atau musafir.