Gangguan irama jantung atau aritmia kini menjadi ancaman serius yang kian mengintai generasi muda di Indonesia. Kondisi yang sebelumnya identik dengan kelompok lanjut usia ini, kini semakin sering ditemukan pada remaja hingga dewasa muda, memicu kekhawatiran di kalangan medis. Pergeseran demografi penderita ini sebagian besar dipicu oleh gaya hidup modern yang tidak sehat.
Aritmia adalah kondisi di mana jantung berdetak tidak teratur, bisa terlalu cepat (takikardia), terlalu lambat (bradikardia), atau bahkan tidak berirama sama sekali. Gangguan ini terjadi akibat adanya masalah pada sistem kelistrikan jantung yang mengatur ritme denyut setiap menitnya. Dalam kondisi normal, jantung manusia berdetak sekitar 60 hingga 100 kali per menit saat beristirahat.
Faktor Pemicu dan Gaya Hidup Berisiko
Dr. Rerdin Julario, Sp.JP(K) Aritmia dari Mayapada Hospital Surabaya, menjelaskan bahwa aritmia pada usia muda dapat dipicu oleh beragam faktor. Salah satu yang paling dominan adalah gaya hidup tidak sehat. Kebiasaan seperti kurang tidur, merokok, konsumsi alkohol dan kafein berlebihan, minuman berenergi, stres kronis, serta gaya hidup sedentari (minim aktivitas fisik) berkontribusi besar terhadap gangguan irama jantung.
Selain itu, ketidakseimbangan elektrolit seperti kalium, magnesium, atau kalsium juga dapat memicu aritmia. Kondisi ini sering terjadi akibat dehidrasi, kurang asupan nutrisi, atau gangguan makan yang kerap dialami anak muda dengan pola diet tidak sehat. Kelainan jantung bawaan, seperti sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) dan sindrom QT panjang, juga merupakan faktor risiko penting. “Keduanya merupakan gangguan irama jantung yang menyebabkan detak jantung sangat cepat dan tidak beraturan,” terang dr. Rerdin.
Gangguan tiroid, baik hipertiroidisme (kelebihan hormon tiroid) yang mempercepat detak jantung maupun hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid) yang memperlambat irama jantung, juga menjadi faktor yang kerap luput dari perhatian. Penggunaan obat-obatan tertentu, termasuk obat flu dengan dekongestan atau suplemen penurun berat badan, juga dapat memicu peningkatan detak jantung dan risiko aritmia.
Gejala yang Kerap Diabaikan dan Ancaman Komplikasi
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan aritmia adalah gejalanya yang seringkali ringan dan tidak khas, sehingga banyak penderita tidak menyadari adanya gangguan hingga kondisi memburuk. Gejala umum meliputi palpitasi (jantung berdebar-debar, bergetar, atau detak jantung tidak teratur), denyut jantung yang terlalu cepat atau lambat, pusing, sakit kepala, kelelahan, sesak napas, nyeri dada, hingga pingsan.
Padahal, aritmia yang tidak tertangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi serius dan mengancam jiwa. Gangguan irama jantung ini merupakan pemicu utama stroke kardioembolik, gagal jantung, bahkan henti jantung mendadak (sudden cardiac death/SCD). Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, Guru Besar Kardiologi dan Aritmia FKUI, mengungkapkan bahwa fibrilasi atrium, salah satu jenis aritmia, diperkirakan menjangkiti sekitar 3,2% populasi atau lebih dari 7 juta orang di Indonesia. Angka ini menjadi peringatan serius mengingat risiko stroke pada pasien fibrilasi atrium melonjak hingga lima kali lipat dibandingkan orang dengan irama jantung normal.
Prof. Yoga juga menyoroti bahwa kasus fibrilasi atrium di Indonesia banyak ditemukan pada kelompok usia produktif 40-60 tahun, lebih muda dibandingkan pola di negara Barat yang umumnya terjadi pada usia lanjut. “Banyak pasien tidak sadar memiliki fibrilasi atrium. Saat terdeteksi justru sudah terjadi stroke. Padahal jika ditemukan lebih awal dan diobati, risiko stroke bisa ditekan secara bermakna,” ujarnya.
Pentingnya Deteksi Dini dan Pencegahan
Mengingat gejala aritmia yang seringkali tidak disadari, deteksi dini menjadi sangat krusial. Pemeriksaan awal seperti Elektrokardiogram (EKG) dapat mendeteksi adanya kelainan irama jantung. Untuk gejala yang datang dan pergi, dokter mungkin merekomendasikan pemantauan dengan Holter Monitor atau Event Recorder.
Perhimpunan Aritmia Indonesia (PERITMI) atau Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) juga gencar mengampanyekan metode MENARI (Meraba Nadi Sendiri) sebagai cara sederhana dan efektif untuk deteksi dini gangguan irama jantung, khususnya fibrilasi atrium. “Meraba nadi sendiri selama minimal 30 detik dapat membantu menemukan denyut yang tidak teratur. Itu tanda paling penting dari fibrilasi atrium,” kata Prof. Yoga.
Pencegahan aritmia dapat dilakukan dengan mengadopsi pola hidup sehat. Langkah-langkahnya meliputi membatasi konsumsi kafein dan minuman berenergi, cukup tidur, mengelola stres dengan baik, menghindari obat stimulan tanpa resep dokter, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, serta rutin memeriksakan kesehatan jantung, terutama jika memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Dengan kesadaran yang lebih tinggi dan upaya deteksi dini yang proaktif, diharapkan generasi muda dapat terhindar dari ancaman serius aritmia dan komplikasi yang menyertainya, demi kualitas hidup yang lebih baik.