Arsari Group, konglomerasi bisnis milik pengusaha Hashim Djojohadikusumo, semakin memantapkan jejaknya di sektor energi nasional. Melalui anak usahanya, PT Nations Natuna Barat, Arsari Group telah memulai pembayaran akuisisi 75% hak partisipasi (Participating Interest/PI) di Blok Duyung, yang berlokasi di Cekungan Natuna Barat, Kepulauan Riau. Langkah strategis ini menandai babak baru dalam pengembangan Lapangan Gas Mako yang potensial.
Akuisisi mayoritas saham ini dilakukan dari Conrad Asia Energy Ltd. Total nilai transaksi mencapai US$16 juta, atau setara dengan sekitar Rp268 miliar hingga Rp269 miliar, tergantung pada kurs mata uang saat ini. Pembayaran tersebut direncanakan dalam tiga tahap. Cicilan pertama sebesar US$5 juta (sekitar Rp84 miliar) telah diselesaikan pada kuartal pertama tahun 2026. Pembayaran kedua senilai US$4 juta dijadwalkan pada kuartal ketiga 2026, dan sisanya sebesar US$7 juta akan dibayarkan saat produksi komersial pertama Lapangan Mako ditargetkan pada kuartal keempat tahun 2027.
Komitmen Investasi dan Target Produksi Lapangan Mako
Selain mengakuisisi hak partisipasi, PT Nations Natuna Barat juga berkomitmen untuk mendanai seluruh biaya pengembangan Lapangan Mako hingga tahap operasional komersial (onstream) pada kuartal IV-2027. Total kebutuhan investasi untuk membawa Lapangan Mako beroperasi diperkirakan mencapai US$320 juta. Meskipun Arsari Group menjadi pemegang saham mayoritas, West Natuna Exploration Limited (WNEL), anak usaha Conrad, akan tetap mempertahankan 25% PI dan bertindak sebagai operator Kontrak Bagi Hasil Produksi (PSC) Duyung.
Chief Executive Conrad, Miltos Xynogalas, menyambut baik tonggak pencapaian ini. “Tonggak pencapaian ini dalam transaksi kami dengan Nations membawa pengembangan lapangan Mako semakin dekat menuju realisasi,” ujarnya dalam siaran resmi pada Senin, 23 Februari 2026. Lapangan Mako memiliki sumber daya kontingen (2C) sebesar 376 miliar kaki kubik (bcf), yang dinilai cukup signifikan dan berpotensi menopang produksi gas hingga 20 tahun ke depan. Gas yang dihasilkan dari Lapangan Mako nantinya akan dijual kepada PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) hingga berakhirnya PSC Duyung pada Januari 2037, dengan volume penjualan plateau mencapai 111 British Thermal Unit per hari (BBtud) atau setara 111,9 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd).
Natuna: Kawasan Strategis Energi Nasional
Keterlibatan Arsari Group di Blok Duyung menambah daftar panjang investasi di wilayah Natuna yang dikenal sebagai salah satu pusat cadangan gas terbesar di Indonesia dan kawasan strategis bagi ketahanan energi nasional. Selain Blok Duyung, terdapat beberapa blok migas penting lainnya di Natuna.
Blok East Natuna, misalnya, diperkirakan memiliki cadangan potensial sebesar 57 TCF dan siap disertifikasi sebesar 29 TCF, meskipun menghadapi tantangan tingginya kandungan CO2 hingga 71%. Pengembangan blok ini, yang dipimpin oleh Pertamina bersama mitra konsorsiumnya, diperkirakan memakan waktu sekitar 10 tahun sebelum berproduksi. Sementara itu, Blok Natuna D-Alpha juga menjadi sorotan dengan potensi kandungan gas mencapai 222 triliun kaki kubik (TCF), menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia. Perusahaan seperti Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (KUFPEC) dan Shell Plc disebut-sebut tertarik untuk menggarap blok ini.
Perkembangan positif juga terlihat di blok lain. PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) mengandalkan proyek-proyek baru di Blok B Natuna sebagai penopang utama peningkatan produksi migasnya, dengan mencatatkan produksi 156 ribu barel setara minyak per hari (mboepd) sepanjang tahun 2025. Bahkan, gas dari wilayah Natuna diharapkan dapat mengalir kembali ke Indonesia melalui Pulau Pemping dan Batam pada semester I tahun 2026, setelah tercapainya kesepakatan penyambungan pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) – Pemping antara Medco dan PLN EPI.
Presiden RI Prabowo Subianto sendiri pada 16 Mei 2025 telah meresmikan produksi perdana dua proyek minyak dan gas bumi di Lapangan Forel-Bronang dan Lapangan Terubuk, lepas pantai Laut Natuna, yang dikelola oleh Medco E&P Natuna Ltd. Berbagai proyek ini menunjukkan dinamika investasi dan pengembangan yang kuat di Natuna, menegaskan posisinya sebagai tulang punggung energi Indonesia.