Arsenal kembali dihadapkan pada tantangan berat dalam perburuan gelar Liga Primer Inggris musim 2025/2026. Meskipun saat ini kokoh di puncak klasemen, serangkaian hasil imbang baru-baru ini dan badai cedera yang melanda skuad Mikel Arteta memicu kekhawatiran akan terulangnya kegagalan di musim-musim sebelumnya.
Hingga pekan ke-27, Arsenal memimpin klasemen Liga Inggris dengan mengoleksi 58 poin. Mereka unggul lima poin dari pesaing terdekat, Manchester City, yang baru memainkan 26 pertandingan. Jika Manchester City berhasil memenangkan pertandingan tunda mereka, selisih poin bisa terpangkas menjadi hanya dua angka, menjadikan persaingan di papan atas semakin ketat.
Konsistensi dan Bayang-bayang Masa Lalu
Performa Arsenal di paruh kedua musim kerap menjadi sorotan, mengingat beberapa musim sebelumnya mereka menunjukkan penurunan performa di fase krusial perburuan gelar. Musim lalu (2024/2025), The Gunners sempat memimpin klasemen hingga pekan ke-30 sebelum akhirnya disalip Manchester City. Kekhawatiran ini semakin menguat setelah Arsenal kehilangan poin penting dalam dua pertandingan terakhir mereka di liga, bermain imbang 1-1 melawan Brentford dan ditahan 2-2 oleh Wolverhampton Wanderers setelah sempat unggul dua gol. Bahkan, Arsenal tercatat telah kehilangan 11 poin dari delapan laga yang dimainkan pada tahun 2026.
Pelatih Mikel Arteta tidak menampik adanya kritik terhadap performa timnya. “Pendapat apa pun harus diterima. Setiap kritik, terima saja, karena kami tidak tampil sesuai level yang dibutuhkan,” ujar Arteta setelah hasil imbang melawan Wolves. Ia juga menegaskan pentingnya fokus pada setiap pertandingan. “Kami harus fokus pada setiap pertandingan. Perjalanan masih panjang dan setiap poin sangat berharga,” kata Arteta.
Badai Cedera Menggerogoti Skuad
Salah satu faktor krusial yang kini menghantui ambisi juara Arsenal adalah badai cedera yang melanda skuad. Mikel Arteta secara terbuka menyatakan keprihatinannya atas daftar pemain yang cedera. Gelandang Mikel Merino dipastikan absen hingga akhir musim setelah menjalani operasi patah kaki. Selain itu, Martin Odegaard, Kai Havertz, Riccardo Calafiori, dan Ben White juga sempat mengalami masalah cedera. Havertz sendiri diperkirakan akan menepi hingga akhir Februari. Situasi ini membuat kedalaman skuad Arsenal semakin menipis di tengah jadwal padat yang menanti.
Arteta mengakui dampak cedera ini. “Ya. Sebelumnya para penyerang yang cedera, lalu para bek dan kini giliran para gelandang (yang mengalami cedera),” ungkapnya. Kondisi ini tentu menjadi ujian berat bagi Arteta dalam meracik strategi dan rotasi pemain.
Jadwal Berat dan Prediksi Superkomputer
Jadwal sisa Arsenal di Liga Inggris juga terbilang cukup menantang, termasuk pertandingan tandang krusial melawan Tottenham Hotspur pada 21 Februari dan Chelsea pada 28 Februari. Puncak ujian mungkin akan terjadi pada April, saat mereka harus bertandang ke markas Manchester City. Selain itu, Arsenal juga akan menghadapi Manchester City di final Carabao Cup pada 22 Maret 2026, yang berpotensi menguras energi dan fokus tim.
Meskipun demikian, superkomputer Opta masih menempatkan Arsenal sebagai favorit juara Liga Inggris musim ini dengan peluang sekitar 80,92 persen. Mereka diproyeksikan akan mengakhiri musim dengan sekitar 80 poin. Namun, seperti yang diungkapkan winger Bukayo Saka, tim harus tetap fokus pada diri sendiri. “Kami fokus ke diri kami sendiri, untuk meningkatkan standar dan performa kami. Hanya itulah yang bisa kami kontrol,” tegas Saka.
Arsenal terakhir kali menjuarai Liga Inggris pada musim 2003/2004, yang dikenal sebagai era ‘Invincibles’. Musim ini, dengan Viktor Gyökeres sebagai top skorer tim di semua kompetisi dengan 13 gol, dan catatan tandang impresif yang mengumpulkan 25 poin dari 13 laga, Arsenal memiliki modal kuat. Namun, konsistensi, manajemen cedera, dan mentalitas juara di momen-momen krusial akan menjadi penentu apakah mereka bisa mengakhiri penantian panjang untuk mengangkat trofi Liga Primer.