AS dan Israel Serang Iran, Wilayah Udara Timur Tengah Lumpuh Akibat Balasan Teheran

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

iran, amerika serikat, israel, timur tengah, penerbangan

Situasi di memanas drastis pada Sabtu, 28 Februari 2026, menyusul serangan terkoordinasi berskala besar yang dilancarkan dan terhadap Iran. Sebagai respons, Teheran segera melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Eskalasi ini memicu penutupan wilayah udara secara luas di beberapa negara dan menyebabkan gangguan signifikan pada lalu lintas global. [6, 7, 8, 16, 21, 22, 23, 24, 25, 28, 29, 30, 32]

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa pasukan Amerika telah memulai “operasi tempur besar” di Iran, yang ia gambarkan sebagai kampanye masif dan berkelanjutan untuk menghilangkan ancaman nuklir dan rudal dari rezim Iran. [28, 29] Trump menyatakan bahwa tujuan operasi ini adalah “untuk mempertahankan rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi dari rezim Iran.” [11, 28, 29] Sementara itu, Israel menyebut tindakannya sebagai “serangan pre-emptive” atau pencegahan. [6, 29] Operasi militer AS ini diberi nama “Operation Epic Fury”, sedangkan Israel menamai operasinya “Operation Roaring Lion” atau “Operation Lion’s Roar”. [21, 23, 29]

Serangan gabungan AS dan Israel menargetkan berbagai lokasi di Iran, termasuk kantor-kantor pemerintahan penting, instalasi militer, dan sistem pertahanan strategis di Tehran serta kota-kota lain seperti Isfahan, Karaj, Kermanshah, Qum, dan Tabriz. [11, 16, 23, 24, 25, 28, 29, 30, 32] Media pemerintah Iran melaporkan bahwa setidaknya 53 orang tewas di sebuah sekolah perempuan, dan ribuan anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tewas atau terluka dalam serangan terhadap instalasi militer. [23, 25, 32]

Tidak butuh waktu lama bagi Iran untuk memberikan respons. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan peluncuran “gelombang pertama serangan rudal dan drone ekstensif” terhadap “wilayah pendudukan” Israel dan menganggap semua pangkalan, aset, serta kepentingan AS di seluruh wilayah sebagai target yang sah. [21, 24, 30, 32] Serangan balasan Iran dilaporkan menargetkan markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain, serta pangkalan-pangkalan AS di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. [21, 23, 24, 25, 26, 30, 32] Ledakan juga dilaporkan terjadi di Riyadh, Arab Saudi, dan Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. [25, 26]

Beberapa negara di Teluk berhasil mencegat rudal-rudal Iran. Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan pasukannya berhasil mencegat rudal yang menargetkan Pangkalan Udara Ali Al Salem. [23] Qatar juga berhasil mencegat rudal Iran yang mengarah ke Pangkalan Udara Al Udeid, instalasi militer AS terbesar di kawasan itu. [25] Sementara itu, Uni Emirat Arab mengumumkan keberhasilan mencegat beberapa rudal Iran, meskipun satu warga sipil berkebangsaan Asia dilaporkan tewas akibat puing-puing rudal. [23, 26] Yordania juga mengonfirmasi telah menembak jatuh dua rudal balistik. [25, 26] Arab Saudi mengutuk keras “agresi Iran yang terang-terangan” setelah berhasil menangkis serangan yang menargetkan Riyadh dan wilayah timur kerajaan. [23, 26, 30]

Dampak paling langsung dari eskalasi ini adalah penutupan wilayah udara secara massal di Timur Tengah. Negara-negara seperti Iran, Irak, Israel, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, serta sebagian wilayah udara Suriah selatan, mengumumkan penutupan wilayah udara mereka. [6, 7, 8, 16, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 30, 32] Hal ini menyebabkan ratusan penerbangan dibatalkan dan ribuan lainnya tertunda, memaksa maskapai global untuk mengubah rute atau menangguhkan layanan. [7] Maskapai-maskapai besar seperti Air India, IndiGo, Lufthansa, dan Turkish Airlines telah menangguhkan penerbangan ke dan dari wilayah tersebut, dengan banyak penerbangan dialihkan atau kembali ke bandara asal. [7, 16, 22, 23, 26, 30, 32] Gangguan ini diperkirakan akan menyebabkan waktu perjalanan yang lebih lama dan biaya bahan bakar yang lebih tinggi bagi maskapai. [8, 22]

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan agar eskalasi ini dihentikan, menyatakan bahwa “eskalasi yang sedang berlangsung berbahaya bagi semua. Itu harus berhenti.” [21] Ketegangan yang memuncak ini menandai babak baru dalam konflik geopolitik di Timur Tengah, dengan konsekuensi yang luas bagi stabilitas regional dan perjalanan udara global. [8, 29]