Amerika Serikat (AS) pada Rabu, 25 Februari 2026, resmi menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 30 individu, entitas, dan kapal yang dituduh terlibat dalam penjualan minyak ilegal serta produksi rudal balistik dan senjata konvensional canggih Iran. Langkah ini diambil Washington hanya sehari menjelang putaran perundingan nuklir krusial dengan Teheran di Jenewa, Swiss, yang dijadwalkan pada Kamis, 26 Februari 2026.
Departemen Keuangan AS, melalui Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC), mengumumkan daftar hitam yang mencakup 12 kapal beserta pemilik dan operatornya. Sanksi juga menargetkan jaringan yang memungkinkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Kementerian Pertahanan serta Logistik Angkatan Bersenjata Iran memperoleh bahan baku dan mesin sensitif untuk produksi senjata dan penyebaran kendaraan udara nirawak (UAV) ke negara ketiga. Entitas yang disanksi tersebar di Iran, Turki, dan Uni Emirat Arab.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa Iran memanfaatkan sistem keuangan global untuk mendanai aktivitas ilegalnya. “Iran memanfaatkan sistem keuangan untuk menjual minyak ilegal, mencuci hasilnya, menyuplai komponen bagi program nuklir dan senjata konvensional mereka, serta mendukung proksi teroris,” ujar Bessent dalam pernyataan tertulisnya.
Ketegangan Meningkat Jelang Perundingan
Perundingan di Jenewa ini merupakan putaran terbaru yang bertujuan menyelesaikan sengketa nuklir Iran yang telah berlangsung puluhan tahun dan mencegah potensi serangan baru AS terhadap Teheran. Delegasi AS akan dipimpin oleh Utusan Khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, sementara Iran diwakili oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, akan bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan tidak langsung ini.
Ketegangan antara kedua negara semakin memuncak dengan adanya pengerahan kekuatan militer besar-besaran AS di Timur Tengah. Pada Juni tahun lalu (Juni 2025), AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap situs nuklir Iran. Iran telah memperingatkan akan membalas dengan keras jika diserang lagi.
Ancaman Trump dan Sikap Iran
Dalam pidato kenegaraannya pada Selasa lalu, Presiden Donald Trump menuduh Iran “mengejar ambisi nuklir jahat” dan mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa serta AS. Ia menyatakan lebih memilih jalur diplomasi, namun menegaskan tidak akan membiarkan Teheran memiliki senjata nuklir. Trump juga memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk” akan terjadi jika kesepakatan tidak tercapai dalam 10-15 hari.
Di sisi lain, Iran membantah tuduhan tersebut dan bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Menteri Luar Negeri Araqchi menyatakan Teheran bertekad mencapai “kesepakatan yang adil dan cepat” namun “tidak akan melepaskan haknya atas teknologi nuklir damai” dan tidak akan tunduk pada “bahasa tekanan”. AS juga mendesak Iran untuk membahas program rudal balistiknya, namun Teheran menolak memasukkan isu tersebut dalam agenda perundingan.
Sepanjang tahun 2025, pemerintahan AS telah menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 875 individu, kapal, dan pesawat sebagai bagian dari kampanye “tekanan maksimum” terhadap Iran. Perundingan di Jenewa ini dipandang oleh banyak analis sebagai kesempatan diplomatik terakhir sebelum potensi operasi militer gabungan oleh AS dan Israel terhadap Iran.