Keterlambatan sandar kapal di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, menjadi sorotan utama selama puncak arus mudik Lebaran 2026. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dan Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) Lampung memberikan klarifikasi bahwa kondisi ini utamanya disebabkan oleh antrean operasional akibat lonjakan signifikan jumlah armada kapal yang beroperasi.
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo, membenarkan adanya insiden kericuhan yang sempat viral di media sosial, di mana pemudik motor mengeluhkan kapal yang tak kunjung bersandar di Bakauheni. Heru menjelaskan bahwa kejadian tersebut melibatkan kapal swasta dan pihaknya akan melakukan evaluasi bersama Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk menindaklanjuti alasan keterlambatan.
BPTD Bantah Keterlambatan Hingga Delapan Jam
Menanggapi informasi viral mengenai keterlambatan sandar kapal hingga delapan jam, Koordinator Satuan Pelayanan Wasatpel Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni BPTD Kelas II Lampung, Trimoyo, membantah klaim tersebut. Trimoyo menjelaskan, penumpukan kapal terjadi karena adanya penambahan armada dari Pelabuhan Ciwandan dan BBJ Bojonegara yang semuanya diarahkan untuk sandar di Bakauheni, sehingga menimbulkan antrean.
Sebagai contoh, Trimoyo memaparkan kronologi perjalanan KMP Wira Qaila yang sempat viral. Kapal tersebut berangkat dari Ciwandan pukul 05.06 WIB dan tiba di sekitar Pulau Rimaubalak pukul 07.06 WIB. Setelah menunggu kapal lain yang sedang bongkar muat, KMP Wira Qaila baru mendapat instruksi masuk alur pada pukul 09.30 WIB dan berhasil sandar pukul 10.10 WIB. Berdasarkan data ini, waktu tunggu yang terjadi masih dalam batas operasional dan tidak mencapai delapan jam seperti yang beredar.
Strategi dan Persiapan ASDP Hadapi Lonjakan Pemudik
ASDP telah melakukan berbagai langkah antisipatif untuk menghadapi lonjakan penumpang selama periode Angkutan Lebaran 2026. Direktur Utama ASDP Heru Widodo menyatakan bahwa perusahaan telah mengoptimalkan armada dan fasilitas di lintasan Merak-Bakauheni. Sebanyak 28 hingga 33 kapal disiagakan setiap 24 jam untuk melayani lintasan Merak-Bakauheni, dengan total 45 kapal beroperasi menuju Bakauheni dari berbagai lintasan termasuk Ciwandan dan BBJ Bojonegara.
Selain itu, ASDP menerapkan pola operasional tiba, bongkar, dan berangkat (TBB) untuk mempercepat proses pelayanan di pelabuhan. Kesiapan layanan juga diperkuat dengan peningkatan fasilitas seperti buffer zone, sistem delaying, CCTV, layanan kesehatan 24 jam, dan optimalisasi waktu sandar kapal (port time). ASDP juga memperkuat koordinasi dengan BPTD, KSOP, dan pihak terkait lainnya untuk mengatasi keterlambatan sandar kapal.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian bersama sejumlah menteri lain juga telah meninjau langsung kesiapan arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Merak pada Jumat, 13 Maret 2026, untuk memastikan kesiapan layanan transportasi penyeberangan.
Imbauan dan Proyeksi Arus Mudik
ASDP memproyeksikan pergerakan sekitar 5,8 juta penumpang dan 1,4 juta kendaraan di 15 lintasan penyeberangan pantauan nasional selama Angkutan Lebaran 2026, menunjukkan peningkatan masing-masing 9,4 persen dan 9,3 persen. Arus mudik Lebaran 2026 sendiri sudah mulai terlihat di lintasan Merak-Bakauheni sejak H-8 Lebaran atau Jumat, 13 Maret 2026.
Untuk menghindari penumpukan dan memastikan kelancaran perjalanan, Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, mengimbau masyarakat untuk membeli tiket lebih awal melalui aplikasi Ferizy karena tidak ada penjualan tiket secara langsung di pelabuhan. Imbauan serupa juga disampaikan General Manager PT ASDP Cabang Bakauheni, Partogi Tamba, agar pemudik merencanakan perjalanan lebih awal dan memastikan telah memiliki tiket secara mandiri.