Jakarta, Senin (2/3/2026) – Pasar saham Indonesia menunjukkan dinamika menarik sepanjang pekan terakhir Februari 2026. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan, investor asing justru gencar melakukan aksi beli bersih (net buy) dengan nilai fantastis.
Data menunjukkan, sepanjang periode 23 hingga 27 Februari 2026, investor asing membukukan beli bersih jumbo mencapai Rp5,84 triliun di seluruh pasar. Angka ini terbagi atas Rp2,49 triliun di pasar reguler dan Rp3,35 triliun di pasar negosiasi dan tunai. Aksi borong ini terjadi di tengah pergerakan IHSG yang secara akumulatif turun 0,44% dalam sepekan terakhir, ditutup di level 8.235,48 pada Jumat (27/2/2026).
BBRI Puncaki Daftar Saham Incaran Asing
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi primadona utama bagi investor asing. Saham bank pelat merah ini mencatatkan net buy tertinggi mencapai Rp1,15 triliun sepanjang pekan lalu. Seiring dengan derasnya pembelian, saham BBRI menguat 1,82% menuju posisi Rp3.910 per saham.
Selain BBRI, sejumlah saham lain juga menjadi incaran utama investor asing. Berdasarkan data, PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) menyusul dengan net buy Rp992,4 miliar, diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp900,9 miliar. Daftar saham yang banyak diborong asing juga mencakup PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dengan Rp619,8 miliar, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) Rp521,2 miliar, dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) Rp482,3 miliar.
Saham-Saham yang Dilepas Asing
Di sisi lain, beberapa saham justru dilepas oleh investor asing. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan jual bersih (net sell) terbesar mencapai Rp559,8 miliar. Saham INDF sendiri melemah 3,01% menyentuh posisi Rp6.450 per saham akibat tekanan jual tersebut.
Saham lain yang banyak dilepas asing antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell Rp522,3 miliar, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Rp438,1 miliar, dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) Rp313,8 miliar.
Sentimen Geopolitik dan Proyeksi Pasar Maret 2026
Pergerakan pasar saham Indonesia pada awal Maret 2026 diperkirakan akan dibayangi oleh sentimen geopolitik global. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menjadi perhatian utama. Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menilai wafatnya Pimpinan tertinggi Iran tersebut dapat meningkatkan ketidakpastian di pasar. Konflik ini juga berpotensi memicu kenaikan harga minyak, yang tidak menguntungkan bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak.
Selain itu, S&P Global Ratings juga telah memperingatkan adanya peningkatan tekanan fiskal Indonesia, khususnya terkait biaya pembayaran utang yang lebih tinggi. Head of Research NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, berpendapat bahwa konflik saat ini mendukung peningkatan premi harga emas serta valuasi saham perusahaan minyak.
Meskipun demikian, pasar saham Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk tumbuh. Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI) memproyeksikan IHSG berpotensi menembus level 9.200 dalam skenario dasar, bahkan mencapai 10.000 dalam skenario optimistis tahun ini. Pada perdagangan Jumat (27/2/2026), total volume perdagangan mencapai 45,76 miliar saham dengan nilai transaksi Rp37,96 triliun, menunjukkan aktivitas pasar yang tetap tinggi.