Aktris Aurelie Moeremans kini berada di posisi yang lebih kuat untuk mencari keadilan atas kisah kelam masa lalunya. Setelah keberaniannya membongkar pengalaman traumatis melalui buku memoar Broken Strings, ia mengaku telah mengantongi bukti-bukti baru yang sebelumnya dianggap tidak cukup untuk diproses secara hukum.
Sebelumnya, Aurelie sempat merasa putus asa karena minimnya bukti konkret. “Sebenarnya kan dulu aku pernah mau proses ya sama orang tua aku. Tapi memang kata seseorang bukti aku tuh gak cukup, gak cukup kuat gitu karena gak ada video dan lain-lain,” ungkap Aurelie Moeremans dalam sebuah wawancara di kanal YouTube pribadinya, Minggu (25/1/2026).
Pada masa itu, Aurelie yang masih muda merasa tidak berdaya tanpa adanya rekaman video atau dokumen pendukung. Namun, situasi berubah drastis setelah bukunya mendapatkan perhatian luas dari publik. Kekuatan dukungan dari para pembaca setianya justru menjadi jembatan baginya untuk menemukan kembali kepingan bukti yang hilang.
“Nah, semenjak buku aku keluar ada beberapa orang yang kontak aku dan kasih aku bukti-bukti yang tadinya aku gak punya,” beber Aurelie. Ia melihat fenomena ini sebagai sebuah pertanda bahwa keadilan memang harus diperjuangkan, terlepas dari lamanya waktu yang telah berlalu.
Dukungan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum semakin menguat setelah anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, ikut menyoroti kasus child grooming yang dialami Aurelie. Rieke mendesak agar negara tidak memberi panggung bagi pelaku dan memperkuat regulasi perlindungan korban.
Aurelie Moeremans, yang awalnya hanya ingin berdamai dengan masa lalu, kini mulai mempertimbangkan langkah hukum yang lebih serius jika intimidasi terhadapnya terus berlanjut. “Dulu aku memang gak mendapatkan keadilan yang seharusnya jadi hak aku, tapi kalau misalnya buku ini bisa membantu kalian mendapatkannya, aku menang,” pungkasnya.






