Istilah child grooming kembali mencuat ke publik setelah aktris Aurelie Moeremans meluncurkan buku memoar berjudul Broken Strings. Buku yang ditulis dalam dwibahasa, Indonesia dan Inggris, ini merinci pengalaman pahit Aurelie menjadi korban grooming sejak usia 15 tahun, saat ia baru merintis karier di dunia hiburan Tanah Air.
Kisah Aurelie Moeremans dalam Broken Strings
Dalam bukunya, Aurelie Moeremans yang berdarah Belgia-Indonesia menceritakan bagaimana ia bertemu dengan orang-orang dewasa tak lama setelah terjun ke industri hiburan. Ia baru menyadari bahwa perlakuan yang diterimanya, termasuk pelecehan dan pemerkosaan, merupakan bentuk grooming setelah beranjak dewasa. Aurelie mengungkapkan bahwa saat masih remaja, ia tidak menyadari hal tersebut karena pelaku menggunakan metode yang sangat halus dan manipulatif.
Buku setebal kurang lebih 200 halaman ini dibagikan Aurelie melalui tautan di akun media sosialnya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan publik terhadap praktik child grooming.
Memahami Istilah Grooming
Umumnya, istilah grooming lebih sering diasosiasikan dengan perawatan hewan peliharaan. Kamus Cambridge mendefinisikan grooming sebagai aktivitas merapikan penampilan, seperti menyisir rambut. Namun, pengertian ini berbeda jauh dengan child grooming yang merujuk pada pelecehan terhadap anak.
Menurut laman Pemerintah Kanada, grooming dalam konteks hubungan dengan anak di bawah umur adalah tindakan seorang dewasa yang membangun kepercayaan dengan anak, dan terkadang juga dengan orang di sekitarnya, demi mendapatkan akses dan kontrol terhadap anak tersebut. Kontrol ini seringkali dicapai dengan menormalisasi perilaku dan ekspektasi tertentu.
Dampak Psikologis Grooming pada Korban
Psikolog klinis Arnold Lukito menjelaskan bahwa korban grooming dapat mengalami dampak psikologis yang signifikan. Salah satunya adalah ketergantungan emosional yang tidak sehat, di mana korban merasa membutuhkan pelaku untuk merasa aman atau diterima.
“Nah, di grooming ini kan tadi ada kontrol, ada manipulasi. Artinya si anak ini, ya. Artinya kan dia juga, dalam tanda putih, sebenarnya dikontrol dan dimanipulasi. Nah, itu kan akhirnya membuat juga banyak hal seperti, dia mungkin jadi punya ketergantungan emosional yang tidak sehat, gitu kan,” ujar Arnold, dikutip dari 20detik, Selasa (13/1/2026).
Lebih lanjut, Arnold menambahkan bahwa grooming juga dapat memengaruhi identitas diri korban. “Dalam artian, oh ternyata saya itu bisa punya hubungan seperti ini dengan orang yang jauh lebih tua,” tuturnya.
Dampak lain yang tak kalah berat adalah munculnya rasa bersalah dan malu. Kedua emosi ini sangat kuat secara psikologis dan seringkali meninggalkan luka jangka panjang yang berdampak buruk pada korban.
Ciri-Ciri Child Grooming yang Perlu Diwaspadai
Merujuk pada studi perlindungan anak dari NSPCC dan peneliti Michael Seto serta Ethel Quayle, satu tanda saja belum tentu mengindikasikan grooming. Namun, jika tanda-tanda tersebut muncul berulang dan saling berkaitan, hal itu bisa menjadi sinyal penting.
Ciri-Ciri Pelaku:
- Memberikan perhatian berlebihan sejak awal, termasuk pujian terus-menerus, hadiah, atau sikap sangat peduli meskipun baru kenal.
- Mengaku sebagai teman sebaya atau menciptakan hubungan yang terasa spesial dan eksklusif.
- Berupaya menjauhkan anak dari keluarga atau teman, misalnya dengan mengajak menyimpan rahasia.
- Menguji batas melalui candaan atau topik yang tidak pantas, dilakukan secara perlahan agar terlihat normal.
Tanda-Tanda Anak Mengalami Grooming:
Berdasarkan National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), berikut adalah tanda-tanda anak yang sedang di-grooming:
- Perubahan perilaku yang tiba-tiba, seperti menghabiskan lebih banyak atau malah lebih sedikit waktu daring.
- Menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah, menghilang dari rumah, atau bolos sekolah.
- Bersikap tertutup mengenai aktivitasnya, termasuk saat menggunakan perangkat daring.
- Menerima hadiah yang tidak dapat dijelaskan, baik besar maupun kecil.
- Menyalahgunakan alkohol dan/atau narkoba.
- Memiliki persahabatan atau hubungan dengan orang yang jauh lebih tua.
- Mengalami masalah kesehatan seksual.
- Menggunakan bahasa seksual yang tidak lazim bagi anak seusianya.
- Tampak sedih atau menarik diri dari lingkungan sosial.
- Mengalami masalah kesehatan mental.
Pembahasan mendalam mengenai topik ini dapat disaksikan dalam program detikPagi edisi Rabu (14/1/2026) yang tayang setiap Senin-Jumat pukul 08.00-11.00 WIB di 20.detik.com, YouTube, TikTok, dan Facebook detikcom.