Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer gabungan berskala besar terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Operasi yang disebut Washington sebagai “Operation Epic Fury” dan Israel sebagai “Operation Lion’s Roar” ini menargetkan berbagai fasilitas militer, infrastruktur strategis, hingga struktur kepemimpinan Iran. Dampak paling signifikan dari serangan tersebut adalah gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran dan laporan internasional.
Menyusul wafatnya Khamenei, Iran dengan cepat menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai Pemimpin Tertinggi sementara untuk menjaga stabilitas pemerintahan selama masa transisi. Dewan kepemimpinan sementara telah dibentuk, terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, dan Ayatollah Arafi sebagai perwakilan ulama. Arafi, seorang ulama senior dengan latar belakang fikih dan pengalaman panjang di institusi keagamaan, kini berada di pusat salah satu transisi politik paling krusial sejak Revolusi Islam 1979.
Kronologi Eskalasi dan Serangan Balasan Iran
Serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 dilaporkan menghantam pangkalan militer, fasilitas pertahanan, dan infrastruktur strategis Iran di berbagai kota, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Beberapa target diduga terkait dengan program nuklir dan rudal Iran. Insiden tragis terjadi ketika sebuah sekolah dasar putri di Minab, Iran selatan, turut menjadi sasaran, menyebabkan sedikitnya 148 hingga 165 korban meninggal dunia di antara murid, guru, dan warga sipil. Palang Merah Iran mencatat total 201 orang meninggal dan 747 lainnya luka-luka akibat serangan AS dan Israel di berbagai provinsi.
Iran tidak tinggal diam. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) segera mengumumkan gelombang serangan balasan besar-besaran. Rudal balistik dan drone diluncurkan ke wilayah Israel, menargetkan pangkalan udara Tel Nof, markas besar angkatan darat Israel, dan kompleks industri militer di Tel Aviv. Serangan ini menyebabkan korban meninggal dan puluhan luka-luka di kalangan warga sipil Israel. Pangkalan militer AS di kawasan Teluk, termasuk Al Udeid di Qatar, Al-Salem di Kuwait, Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, dan markas Armada Kelima AS di Bahrain, juga menjadi sasaran. Di Doha, Qatar, serangan rudal Iran merusak sistem radar di pangkalan Al Udeid dan melukai delapan orang, dengan satu dalam kondisi kritis. AS juga melaporkan korban tewas pertama dari warga negaranya dalam konflik ini.
Reaksi Internasional dan Dampak Ekonomi Global
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengecam keras serangan militer AS dan Israel, mengingatkan semua negara untuk mematuhi Piagam PBB yang melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas wilayah negara lain. Guterres memperingatkan bahwa eskalasi militer yang terus berlanjut berisiko memicu konflik yang lebih besar dan tidak terkendali di kawasan yang sudah bergejolak. PBB mendesak de-eskalasi segera dan kembalinya semua pihak ke meja perundingan.
Indonesia turut menyuarakan keprihatinan mendalam dan menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran guna meredakan ketegangan. Kementerian Luar Negeri RI menegaskan pentingnya semua pihak menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi. Bahkan, Presiden Indonesia Prabowo Subianto disebut bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi langsung, jika disetujui oleh kedua belah pihak yang bersengketa.
Konflik ini telah memicu kekhawatiran besar di pasar global. Penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi arteri utama perdagangan minyak dunia, mengancam gangguan pasokan energi global. Harga minyak global melonjak tajam, dengan Brent mencapai US$76,43 per barel dan WTI di level US$70,05 per barel pada Senin, 2 Maret 2026. Ancaman inflasi global meningkat, sementara pasar saham di Asia, termasuk IHSG, Nikkei, Hang Seng, dan Straits Times, menunjukkan pelemahan signifikan. Rupiah juga melemah 0,42% terhadap dolar AS, mencapai Rp16.830 per dolar AS. Di sisi lain, harga emas sebagai aset lindung nilai melonjak 1 persen ke level US$5.329,39 per ons. Untuk meredam volatilitas, delapan anggota utama OPEC+ menyepakati kenaikan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April 2026.
Latar Belakang Ketegangan dan Masa Depan Konflik
Eskalasi terbaru ini merupakan kelanjutan dari ketegangan panjang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Israel dan Iran telah saling berbalas serangan pada April dan Oktober 2024, serta terlibat dalam perang singkat pada tahun 2025 yang juga diwarnai serangan udara AS yang bertujuan menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Negosiasi nuklir tidak langsung antara Iran dan AS yang dimediasi Oman sempat menunjukkan kemajuan, namun gagal sebelum serangan terbaru ini. Washington bahkan secara terbuka menyatakan tujuan operasi 2026 adalah untuk menonaktifkan upaya nuklir Iran dan mendorong perubahan kepemimpinan di negara tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa meskipun Iran kehilangan beberapa komandan, kemampuan militernya tidak mengalami perubahan signifikan dan dapat melancarkan serangan balasan lebih cepat dibandingkan konflik Juni 2025. Ia juga menyatakan keraguan terhadap kemungkinan perundingan dengan AS, menyebut negosiasi nuklir sebelumnya sebagai “pengalaman yang sangat menyakitkan” bagi Iran. Situasi di lapangan masih sangat dinamis, dengan potensi eskalasi lebih lanjut yang menjadi fokus pemantauan komunitas internasional.