BANDUNG BARAT – Bencana tanah longsor yang menerjang Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu (24/1/2026) lalu, telah merenggut 17 nyawa dan menyisakan puluhan warga yang masih dalam pencarian. Badan Geologi memperkirakan luas area yang terdampak mencapai 30 hektare.
Kondisi Geografis dan Morfologi
Longsor tersebut terjadi di Kampung Pasirkuning, meliputi wilayah RT 05 dan 01 RW 11, serta RT 01 RW 10, Desa Pasirlangu. Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa kawasan bencana merupakan daerah perbukitan dengan permukiman padat dan aktivitas pemanfaatan lahan yang intensif.
“Morfologi daerah penelitian didominasi bentang alam perbukitan vulkanik berketinggian menengah hingga tinggi. Kemiringan lereng berkisar 8°-40° atau masuk kelas sedang hingga curam. Di beberapa titik, terutama lembah dan punggungan bukit, kemiringan bahkan melebihi 40°,” kata Lana dalam keterangan resminya.
Formasi Geologi dan Kerentanan Tanah
Menurut Lana, morfologi wilayah ini terbentuk akibat aktivitas gunung api purba yang menghasilkan endapan vulkanik tebal. Material tersebut mengalami pelapukan, erosi, dan denudasi intensif, membentuk lereng-lereng yang tidak stabil.
Secara geologi, daerah kejadian tersusun oleh satuan batuan yang sebanding dengan formasi endapan gunung api tua tidak terpisahkan (QVu), berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar Bandung. Satuan ini terdiri atas breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, serta material piroklastik yang telah melapuk kuat.
“Kondisi pelapukan lanjut menurunkan kekuatan geser tanah dan batuan, sehingga meningkatkan kerentanan gerakan tanah, terutama pada lereng sedang hingga curam,” ungkapnya.
Pengaruh Struktur Geologi dan Air Hujan
Wilayah Bandung Barat secara regional dipengaruhi oleh sistem struktur geologi berupa sesar dan rekahan yang berkaitan dengan dinamika tektonik Cekungan Bandung serta aktivitas gunung api Kuarter. Struktur ini meningkatkan permeabilitas batuan dan memicu berkembangnya bidang lemah yang menjadi bidang gelincir gerakan tanah.
“Infiltrasi air hujan yang intensif ke lapisan tanah hasil pelapukan batuan vulkanik meningkatkan tekanan air pori secara signifikan,” jelas Lana.
Faktor Manusia dan Pemicu Longsor
Selain faktor alam, tata guna lahan yang didominasi permukiman dan pertanian lahan kering turut berkontribusi. Aktivitas pemotongan lereng untuk hunian dan sistem drainase yang buruk memperburuk stabilitas lereng.
Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), lokasi ini masuk dalam Zona Kerentanan Menengah.
“Pemicu utamanya adalah curah hujan tinggi yang meningkatkan tekanan air pori dan memicu kegagalan lereng. Saat gaya pendorong melebihi gaya penahan, massa tanah bergerak mengikuti bidang gelincir sehingga terjadi longsor skala besar,” tambahnya.