Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Indonesia tidak akan membatasi sumber impor bioetanol hanya dari Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mendatangkan bioetanol dari berbagai negara lain guna memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat.
Pernyataan ini disampaikan Bahlil dalam konferensi pers daring dari AS pada Jumat (21/2/2026) waktu setempat. Menurutnya, langkah diversifikasi sumber impor ini krusial untuk menambal kekurangan pasokan bioetanol di dalam negeri yang produksinya masih tergolong rendah.
Mandatori Bioetanol dan Kebutuhan Impor
Bioetanol sangat dibutuhkan untuk mendukung program mandatori pencampuran bensin dengan bioetanol sebesar 5% (E5) yang akan diterapkan mulai tahun 2028, dan ditingkatkan menjadi 10% (E10) pada tahun 2030. Pemerintah juga berencana untuk meningkatkan penggunaan campuran bioetanol hingga 20% (E20), dengan mempertimbangkan ketersediaan pasokan global dan kesiapan infrastruktur di Tanah Air.
Meskipun ada kesepakatan perdagangan timbal balik dengan AS yang mengharuskan Indonesia tidak menghalangi impor bioetanol dari negara tersebut, Bahlil menegaskan bahwa impor dari AS hanyalah salah satu opsi. Ia menambahkan bahwa bioetanol asal AS memiliki harga yang lebih kompetitif karena masuk ke Indonesia tanpa dikenakan tarif kepabeanan atau sebesar 0%. “Ini kan menguntungkan kita sebenarnya. Kita melakukan impor dari sini, tarifnya masuk 0%, harganya lebih murah. Sehingga industri kita lebih kompetitif dalam memakai bahan baku daripada etanol,” ujar Bahlil.
Impor ini, lanjut Bahlil, akan mengisi kekurangan pasokan bioetanol di dalam negeri, termasuk untuk kebutuhan industri non-energi. Data Kementerian ESDM per 13 Februari 2026 menunjukkan bahwa impor bensin Indonesia masih mencapai 61,73% dari total kebutuhan nasional sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 14 juta kiloliter.
Upaya Peningkatan Produksi Domestik dan Target Ambisius
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya menggenjot produksi bioetanol dari sumber daya di dalam negeri. Presiden Prabowo Subianto bahkan mendorong wilayah Papua untuk menjadi salah satu basis utama produksi bahan baku etanol nasional. Presiden Joko Widodo sebelumnya telah meluncurkan program Bioetanol Tebu untuk Ketahanan Energi pada November 2022 di Mojokerto, Jawa Timur, dengan target peningkatan produksi nasional dari 40.000 kiloliter (KL) pada 2022 menjadi 1,2 juta KL pada 2030.
Saat ini, kapasitas produksi bioetanol fuel grade di Indonesia baru mencapai sekitar 70.000 KL, jauh di bawah proyeksi kebutuhan untuk mandatori E10 yang mencapai sekitar 1,2 juta KL. Bioetanol dapat dihasilkan dari fermentasi bahan baku yang mengandung karbohidrat seperti tebu (molase), jagung, singkong, dan ubi kayu. Kementerian ESDM juga tengah mematangkan peta jalan (roadmap) implementasi mandatori bioetanol, termasuk pembahasan relaksasi cukai untuk bioetanol.
Indonesia menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 17,75% sepanjang tahun 2026. Pengembangan bioetanol menjadi salah satu pilar penting untuk mencapai target ini, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan menekan emisi gas rumah kaca.
Sebagai perbandingan, Amerika Serikat merupakan produsen bioetanol terbesar di dunia, diikuti oleh Brasil yang berhasil memproduksi sekitar 38 miliar liter bioetanol pada tahun 2023. Harga Indeks Pasar (HIP) Bioetanol untuk Februari 2026 sendiri ditetapkan sebesar Rp 8.019 per liter.