Bakrie & Brothers Catat Laba Bersih Rp 493,85 Miliar pada 2025, Siapkan Rights Issue Rp 1,08 Triliun

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

bnbr, anindya bakrie, rights issue, laporan keuangan, ipo

PT Bakrie & Brothers Tbk () berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 493,85 miliar sepanjang tahun 2025, sebuah peningkatan signifikan sebesar 50,7% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp 327,59 miliar. Kinerja positif ini turut mendorong lonjakan harga saham BNBR hingga 24,22% pada sesi pertama perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, menyentuh level Rp 200 per saham.

Peningkatan laba bersih ini terjadi di tengah rencana perseroan untuk menggelar Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau . BNBR berencana menerbitkan hingga 90 miliar saham baru Seri E dengan nilai nominal Rp 12 per saham, yang berpotensi menghimpun dana sekitar Rp 1,08 triliun. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) terkait aksi korporasi ini dijadwalkan pada 27 Februari 2026.

Dana hasil rights issue tersebut akan dialokasikan untuk pembayaran kewajiban perseroan dan anak usaha, mendukung modal kerja, serta pengembangan bisnis, termasuk optimalisasi aset jalan tol PT Cimanggis Cibitung Tollways. Akuisisi penuh Jalan Tol Cimanggis-Cibitung sendiri telah disetujui pemegang saham pada 10 September 2025 dan resmi diakuisisi pada 28 November 2025, serta telah beroperasi penuh sejak 2 Agustus 2024.

Direktur Utama PT Bakrie & Brothers Tbk, Anindya Novyan Bakrie, sebelumnya telah menyatakan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan wadah yang atraktif untuk penggalangan dana. Ia melihat tahun 2025, pasca-Pemilu, sebagai momentum bagi berbagai perusahaan untuk melakukan fundraising. Sejalan dengan pandangan tersebut, beberapa anak usaha Grup Bakrie telah melantai di bursa. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) telah melakukan pada tahun 2023, sementara PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) resmi tercatat di BEI pada 7 Februari 2024, berhasil meraup dana Rp 860,9 miliar.

Meski laba bersih melonjak, BNBR menunjukkan pendapatan neto perseroan pada 2025 sedikit turun menjadi Rp 3,74 triliun dari Rp 3,86 triliun pada tahun sebelumnya. Laba bruto juga menurun dari Rp 869,47 miliar menjadi Rp 744,38 miliar. Lonjakan laba bersih sebagian besar ditopang oleh faktor non-operasional, seperti keuntungan dari pengukuran kembali atas kepentingan ekuitas senilai Rp 422,37 miliar dan keuntungan dari pembelian diskon sebesar Rp 320,12 miliar, yang tidak muncul pada laporan kinerja 2024.

Secara keseluruhan, total aset BNBR melonjak signifikan sebesar 245,08% menjadi Rp 23,56 triliun pada akhir 2025, dari Rp 6,82 triliun pada 2024. Namun, total liabilitas juga mengalami kenaikan tajam menjadi Rp 18,89 triliun pada 2025, naik 5476% dari Rp 2,91 triliun di tahun sebelumnya.

Transformasi bisnis BNBR kini berfokus pada menjadi perusahaan induk industri berkelanjutan, beralih dari model manufaktur tradisional. Kemitraan strategis dengan Envision dari Tiongkok dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terapung dan tenaga angin menjadi salah satu pilar utama strategi ini. Anindya Bakrie, yang juga menjabat Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia periode 2024-2029, optimistis terhadap prospek investasi Indonesia pada tahun 2026, menyoroti pertumbuhan dan stabilitas ekonomi nasional. Ia juga aktif mempromosikan Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik di forum-forum global seperti Bloomberg New Energy Forum Summit 2025 dan World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026.

Beberapa anak usaha BNBR lainnya yang berpotensi untuk IPO di masa mendatang, berdasarkan pernyataan Anindya Bakrie pada Februari 2024, meliputi PT Bakrie Metal Industries (BMI), PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN), PT Bakrie Autoparts, dan PT Bakrie Building Industries.