Bali Diguncang Gempa M 4,8 pada 1 Maret 2026, Ini Makna Menurut Lontar Palalindon

Pulau Bali diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,8 pada Minggu, 1 Maret 2026, sekitar pukul 11.52 WITA. Getaran gempa yang cukup kuat ini tidak hanya dirasakan di berbagai wilayah Bali, seperti Denpasar dan Kuta, Badung, tetapi juga meluas hingga ke sebagian wilayah Lombok dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat.

Menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () Wilayah III Denpasar, pusat gempa terletak di laut, sekitar 60 kilometer tenggara , Bali, dengan kedalaman 56 kilometer. Analisis terbaru dari Stasiun Geofisika Mataram mengoreksi magnitudo menjadi 4,5 dan kedalaman 75 kilometer, menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa menengah yang dipicu oleh aktivitas subduksi atau tumbukan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Mekanisme sumber gempa menunjukkan pergerakan sesar naik (thrust fault).

Guncangan gempa dirasakan dengan intensitas III Modified Mercalli Intensity (MMI) di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Tabanan, serta di Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Kota Mataram. Pada skala ini, getaran terasa nyata di dalam rumah, seolah-olah ada truk besar yang melintas. Sementara itu, di Kabupaten Gianyar, Lombok Timur, Lombok Utara, hingga Sumbawa Besar dan Sumbawa Barat, getaran dirasakan pada skala II MMI. Meskipun sempat menimbulkan kepanikan di kalangan warga yang berhamburan keluar bangunan, BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami dan hingga saat ini belum ada laporan kerusakan signifikan maupun korban jiwa.

Di tengah penjelasan ilmiah dari BMKG, masyarakat Bali juga memiliki kearifan lokal dalam menafsirkan fenomena alam, termasuk gempa bumi, melalui . Naskah sastra tradisional Bali ini menguraikan makna gempa (disebut ‘linuh’) berdasarkan sistem penanggalan Bali, khususnya ‘sasih’ atau bulan dalam kalender Bali.

Peristiwa gempa pada Minggu, 1 Maret 2026, bertepatan dengan dalam kalender Bali. Berdasarkan Lontar Palalindon, gempa yang terjadi pada Sasih Kasanga memiliki makna yang kurang baik. Budayawan Sugi Lanus, mengutip lontar tersebut, menjelaskan bahwa “Sasih Kasangan tĕkaning lindu, Bhatara Durga mayoga, ilan buta amĕnging Hyang Haruna, sasab mrana, bala lumarĕp pala bungkah dadi, wang lara panĕs, gĕring makweh kasambut dening Buta Paksi Raja, Këbo Raja, Buta Raja, Bayu Raja, Toya Raja.”

Secara lebih lanjut, Sugi Lanus menginterpretasikan makna tersebut sebagai pertanda “Hama wabah, melahap umbi-umbian, orang menderita sakit panas, banyak penyakit disebabkan oleh buta Paksi Raja, Kebo Raja, Buta Raja, Bayu Raja dan Toya Raja.” Dalam konteks kepercayaan ini, jika gempa diinterpretasikan sebagai pertanda buruk, masyarakat Bali biasanya akan melakukan ritual seperti ‘Guru Piduka’ untuk memohon maaf kepada semesta atau ‘Prayascita’ sebagai upacara penyucian bumi.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, serta menghindari bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan. Sementara itu, kearifan lokal melalui Lontar Palalindon tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari cara masyarakat Bali memahami dan merespons setiap gejolak alam.