Bank Indonesia: Neraca Pembayaran Indonesia 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Putus Tren Surplus Enam Tahun

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

neraca pembayaran indonesia, transaksi berjalan, bank indonesia, ekonomi indonesia 2025, defisit npi

(BI) mengumumkan (NPI) sepanjang tahun 2025 mencatatkan defisit signifikan sebesar 7,8 miliar dolar AS. Angka ini membalikkan kondisi tahun 2024 yang masih membukukan surplus 7,2 miliar dolar AS, sekaligus mengakhiri tren surplus NPI yang telah berlangsung selama enam tahun berturut-turut. Terakhir kali NPI Indonesia mengalami defisit adalah pada tahun 2018, dengan nilai 7,1 miliar dolar AS.

pada tahun 2025 ini terutama dipengaruhi oleh kinerja neraca transaksi modal dan finansial yang berbalik defisit menjadi 4,2 miliar dolar AS. Kondisi ini sangat kontras dengan tahun 2024 yang mencatatkan surplus besar sebesar 18 miliar dolar AS pada pos yang sama. Keluarnya aliran investasi asing portofolio dan investasi lainnya menjadi pemicu utama defisit ini, di tengah menyusutnya surplus investasi langsung dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Transaksi Berjalan Menyusut, Namun Tetap Defisit

Meskipun NPI secara keseluruhan defisit, neraca sepanjang 2025 menunjukkan perbaikan dengan mencatat defisit yang lebih rendah, yakni 1,5 miliar dolar AS atau setara 0,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan defisit 2024 yang mencapai 8,6 miliar dolar AS atau 0,6 persen dari PDB. Namun, perlu dicatat bahwa defisit transaksi berjalan ini telah terjadi selama tiga tahun berturut-turut.

Penyusutan defisit transaksi berjalan pada 2025 didorong oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang, khususnya ekspor produk manufaktur, serta naiknya surplus neraca pendapatan sekunder yang berasal dari remitansi pekerja migran Indonesia. Surplus neraca perdagangan barang mencapai 49,8 miliar dolar AS, meningkat dari 39,8 miliar dolar AS pada 2024.

Kinerja Kuartal IV 2025: NPI Surplus, Transaksi Berjalan Defisit

Pada triwulan IV-2025, NPI justru mencatat surplus sebesar 6,1 miliar dolar AS. Capaian ini merupakan perbaikan signifikan dari defisit 6,4 miliar dolar AS pada triwulan III-2025. Surplus NPI di akhir tahun ini ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang berbalik surplus kuat sebesar 8,3 miliar dolar AS. Aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi langsung, investasi portofolio yang menawarkan imbal hasil menarik, serta penarikan pinjaman luar negeri berkontribusi pada surplus ini.

Meski demikian, neraca transaksi berjalan pada triwulan IV-2025 kembali mencatat defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS atau 0,7 persen dari PDB. Posisi ini berbalik dari surplus 4,0 miliar dolar AS atau 1,1 persen dari PDB pada triwulan sebelumnya. Pelebaran defisit transaksi berjalan di kuartal terakhir 2025 disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain surplus neraca perdagangan nonmigas yang lebih rendah, peningkatan defisit neraca perdagangan migas seiring aktivitas ekonomi domestik yang meningkat, serta pelebaran defisit neraca jasa akibat penurunan kunjungan wisatawan mancanegara dan kenaikan defisit jasa telekomunikasi. Defisit neraca pendapatan primer juga meningkat karena kenaikan pembayaran dividen di akhir tahun.

Ketahanan Eksternal dan Prospek ke Depan

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, berpendapat bahwa defisit NPI 2025 mengindikasikan ketahanan eksternal Indonesia menjadi lebih rentan terhadap gejolak global, yang berpotensi mengakibatkan nilai tukar rupiah lebih mudah bergejolak. Sementara itu, Kepala Makroekonomi dan Riset Pasar Bank Permata, Faisal Rachman, memperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2026 akan melebar, berfluktuasi di kisaran 0,25 persen terhadap PDB. Hal ini didorong oleh potensi impor yang tumbuh lebih cepat dari ekspor, perlambatan ekonomi global, dan normalisasi harga komoditas.

Bank Indonesia menegaskan akan terus mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI. BI juga akan memperkuat respons bauran kebijakan, didukung sinergi erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait, guna memperkuat ketahanan eksternal dan stabilitas makroekonomi nasional. BI memperkirakan kinerja NPI pada 2026 akan tetap terjaga baik, ditopang oleh defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam kisaran 0,9 persen hingga 0,1 persen dari PDB. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir triwulan IV-2025 tetap tinggi, mencapai 156,5 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional.