Bank Sentral Rusia dilaporkan telah menjual sebagian cadangan emasnya pada Januari 2026, sebuah langkah strategis yang diambil di tengah lonjakan harga logam mulia tersebut ke level rekor tertinggi sepanjang sejarah. Penjualan ini diperkirakan menghasilkan keuntungan signifikan bagi anggaran negara.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Bank Sentral Rusia pada Jumat, 19 Februari 2026, cadangan emas batangan negara tersebut mengalami penurunan sebesar 300.000 troy ons. Penurunan ini menjadikan total cadangan emas Rusia menjadi 74,5 juta troy ons. Ini merupakan kali pertama cadangan emas Rusia berkurang sejak Oktober, menunjukkan adanya pergeseran kebijakan dalam pengelolaan aset negara.
Harga Emas Global Capai Puncak Historis
Penjualan emas oleh Bank Sentral Rusia ini terjadi saat harga emas global mencapai puncaknya pada Januari 2026. Rata-rata harga emas pada bulan tersebut berada di sekitar US$4.700 per troy ons. Jika transaksi dilakukan pada harga pasar tersebut, penjualan ini berpotensi menyumbang sekitar US$1,4 miliar ke kas negara.
Sepanjang Januari 2026, harga emas dunia memang mencetak rekor demi rekor. Pada 26 Januari 2026, harga emas di pasar spot bahkan melampaui ambang psikologis US$5.000 per ons, mencapai US$5.024,95 per ons. Beberapa hari kemudian, pada 29 Januari 2026, harga emas dunia kembali melonjak hingga menyentuh US$5.583,88 per troy ounce, bahkan sempat mencapai US$5.591,61. Secara historis, titik tertinggi sepanjang masa untuk emas tercatat sebesar US$5.608,35 pada Januari 2026.
Faktor Pendorong Kenaikan dan Strategi Rusia
Kenaikan fantastis harga emas ini didorong oleh kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik global. Kekhawatiran terhadap ekonomi Amerika Serikat, pembelian masif oleh bank sentral di berbagai negara, pelemahan dolar AS, serta ketegangan geopolitik seperti konflik Ukraina-Rusia dan tensi Iran-AS, semuanya berkontribusi pada peningkatan minat investor terhadap aset lindung nilai seperti emas.
Keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga, diiringi pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell bahwa inflasi Desember masih jauh dari target 2%, turut mendorong permintaan emas karena investor mengantisipasi potensi risiko di pasar finansial. Pembelian berkelanjutan dari bank sentral global juga menjadi salah satu pendorong utama reli harga emas.
Bank Sentral Rusia sendiri telah mulai memanfaatkan cadangan emasnya sejak tahun lalu (2025). Langkah ini merupakan bagian dari operasi cermin yang terkait dengan penjualan aset Dana Kesejahteraan Nasional (NWF) oleh Kementerian Keuangan untuk membiayai defisit anggaran. Para ekonom menilai bahwa penggunaan emas membantu menyebarkan tekanan di berbagai pasar dan mempertahankan diversifikasi cadangan negara.
Sebelumnya, cadangan emas Rusia tercatat lebih dari 2.300 ton per November 2025, menjadikannya cadangan logam mulia terbesar kelima di dunia. Emas menyumbang 43% dari total cadangan Rusia pada Desember 2025, meningkat signifikan dari 21% sebelum konflik dengan Ukraina. Rusia, sebagai produsen emas terbesar kedua di dunia dengan produksi lebih dari 300 ton setiap tahun, menghadapi tantangan sejak 2022 karena emas batangan mereka dilarang masuk ke pasar Barat dan tidak diterima oleh London Bullion Market Association (LBMA).
Pembekuan cadangan devisa Rusia senilai USD300 miliar pada tahun 2022 juga menjadi ‘momen pencerahan’ bagi banyak bank sentral di luar negara-negara Barat, yang kemudian mendorong mereka untuk mengakumulasi emas sebagai aset ‘anti-sanksi’ yang menawarkan kedaulatan finansial murni.
Prospek Emas di Tahun 2026
Meskipun terjadi penjualan oleh Rusia, prospek harga emas masih dinilai sangat menjanjikan. Commerzbank memperkirakan bahwa potensi penurunan suku bunga di Amerika Serikat pada akhir tahun ini akan menjadi katalis positif bagi harga emas. Riset dari NH Korindo Sekuritas Indonesia pada 20 Februari 2026 bahkan mempertahankan rekomendasi beli untuk emas, dengan target harga akhir 2026 mencapai US$6.000 per ons.