PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memberikan sinyal kuat terkait potensi pembagian dividen final yang lebih tinggi untuk tahun buku 2025, meskipun perseroan mencatatkan sedikit koreksi pada laba bersihnya. Keputusan final mengenai besaran dividen ini akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 10 April 2026 mendatang.
Sebelumnya, BBRI telah mendistribusikan dividen interim sebesar Rp137 per saham, dengan total mencapai Rp20,63 triliun, kepada para investor pada 15 Januari 2026. Pembagian dividen interim ini didasarkan pada laporan keuangan per 30 September 2025, dengan tanggal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 29 Desember 2025.
Kinerja Laba 2025 dan Kekuatan Permodalan
Sepanjang tahun buku 2025, Bank BRI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp57,13 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 5,26% dibandingkan dengan capaian laba bersih pada tahun 2024 yang mencapai Rp60,31 triliun. Meskipun demikian, kinerja laba ini masih dianggap solid dan sesuai dengan ekspektasi pasar.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa kondisi permodalan perseroan saat ini sangat memadai dan kuat. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) BBRI tercatat di kisaran 23,52% per akhir 2025, jauh di atas batas minimum yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hery menyatakan, “Mempertimbangkan kondisi tersebut, seyogianya kami memiliki ruang untuk memberikan dividen dengan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan level histori yang selama ini ada.”
Proyeksi Dividen dan RUPST Mendatang
Secara historis, BBRI dikenal sebagai emiten yang konsisten membagikan dividen dengan rasio pembayaran (payout ratio) di atas 80% dalam empat tahun terakhir, bahkan mencapai 87% pada tahun buku 2024. Jika perseroan mempertahankan rasio pembayaran dividen sebesar 86% (konsisten dengan tahun buku sebelumnya), total dividen untuk tahun buku 2025 diproyeksikan mencapai Rp323,36 per saham. Dengan dividen interim sebesar Rp137 per saham yang telah dibagikan, estimasi dividen final yang tersisa adalah sekitar Rp186,4 per saham. Total dividen tahunan ini mengindikasikan imbal hasil sekitar 8,23% berdasarkan harga saham Rp3.930.
RUPST BBRI akan diselenggarakan pada Jumat, 10 April 2026. Pemanggilan rapat akan dilakukan selambat-lambatnya pada Jumat, 13 Maret 2026, melalui situs web Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan situs resmi perseroan. Pemegang saham yang berhak hadir atau diwakili dalam rapat adalah mereka yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham dan/atau rekening efek di KSEI pada Kamis, 12 Maret 2026 pukul 17.00 WIB. Salah satu agenda rutin RUPST adalah persetujuan penggunaan laba bersih, termasuk penetapan dividen.
Kinerja Intermediasi dan Efisiensi Operasional
Di tengah dinamika laba bersih, BBRI menunjukkan kinerja intermediasi yang kuat. Penyaluran kredit perseroan tumbuh 12,31% secara tahunan (yoy) menjadi Rp1.521,49 triliun pada tahun 2025. Selain itu, pendapatan bunga bersih juga tumbuh 5,49% (yoy) menjadi Rp150,49 triliun. Total aset BBRI tercatat sebesar Rp2.135,3 triliun, meningkat 7,18% (yoy). Efisiensi operasional juga terlihat dari pertumbuhan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) sebesar 13% (yoy) pada kuartal IV 2025. Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp1.466,84 triliun, dengan komposisi dana murah (CASA) yang dominan hingga 70,61%.