PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp57,13 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan penurunan 5,26% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan perolehan laba pada tahun 2024 yang mencapai Rp60,30 triliun.
Meskipun demikian, kinerja pada kuartal IV 2025 menunjukkan perbaikan signifikan dengan laba bersih mencapai Rp15,9 triliun, tumbuh 7% yoy dan 9% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq). Peningkatan ini didorong oleh akselerasi pertumbuhan Laba Operasional Sebelum Provisi (PPOP) yang mencapai Rp32,7 triliun, melonjak 13% yoy dan 15% qoq.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, dalam konferensi pers kinerja perusahaan pada Kamis (26/2/2026), mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit konsolidasi perseroan mencapai 12,31% yoy menjadi Rp1.521,49 triliun pada akhir 2025. “Pencapaian ini tercatat lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit perbankan nasional. Sepanjang tahun 2025, industri mencatat pertumbuhan sebesar 9,6%,” ujar Hery Gunardi. Total aset BRI juga tercatat tumbuh 7,1% menjadi Rp2.135,37 triliun.
Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga konsolidasi BRI naik 4,27% yoy menjadi Rp207,78 triliun pada 2025. Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) mencapai Rp150,50 triliun, meningkat 5,52% dari tahun sebelumnya. Jika digabungkan dengan pendapatan jasa asuransi, total pendapatan bersih konsolidasi mencapai Rp151,8 triliun, naik 5,54%.
Namun, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross sedikit meningkat menjadi 3,29% dari 2,94%, dan NPL net naik menjadi 0,96% dari 0,75%. Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 7,42% yoy menjadi Rp1.466,84 triliun, dengan rasio dana murah (CASA) mencapai 70,61%. Biaya dana (cost of fund) juga berhasil ditekan menjadi 2,9% pada akhir 2025, membaik dari 3,1% pada tahun 2024.
Rekomendasi Analis dan Target Harga Saham
Kinerja positif ini membuat mayoritas analis di konsensus Bloomberg tetap optimistis terhadap saham BBRI. Per Kamis (26/2/2026), sebanyak 30 analis merekomendasikan ‘beli’, 4 analis ‘tahan’ (hold), dan hanya 2 analis yang menyarankan ‘jual’. Secara kumulatif, target harga saham BBRI dalam 12 bulan ke depan diproyeksikan mencapai Rp4.504 per saham.
Beberapa lembaga keuangan juga memberikan proyeksi spesifik. Ivan Ng dari Autonomous Research menetapkan target harga Rp4.500 per saham. Sementara itu, Yap Swie Cu dari Yuanta Investment Consulting menjadi yang paling optimistis dengan target harga Rp5.400 per saham. Korea Investment & Sekuritas (KISI) sebelumnya memproyeksikan target harga Rp5.800 per saham untuk tahun 2026, didorong sentimen penurunan suku bunga yang dapat memperbaiki margin bunga bersih (NIM).
Oso Sekuritas, dalam laporan Equity Market Outlook 2026, merekomendasikan ‘beli’ saham BBRI dengan target harga 12 bulan sebesar Rp4.230. Mereka melihat prospek pendapatan BRI terhambat oleh peningkatan provisi dan margin bunga bersih yang lebih ketat, namun memperkirakan pemulihan pada tahun 2026 didorong oleh kualitas aset. JP Morgan juga telah meninjau ulang (re-rating) BBRI, meningkatkan rekomendasinya menjadi ‘Overweight’, menandakan keyakinan atas potensi kinerjanya.
Komitmen Dividen dan Minat Investor Asing
BRI juga menunjukkan komitmen kuat terhadap pemegang saham dengan rencana pembagian dividen. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa perseroan berencana menetapkan rasio dividen atas laba bersih (Dividend Payout Ratio/DPR) tertinggi sepanjang sejarah. “Saat ini kondisi permodalan BRI sangat memadai, sangat kuat. Sebagaimana tadi disampaikan bahwa CAR kita berada di sekitar 23,52 persen. Angka ini sangat jauh, sangat tinggi dibandingkan dengan apa yang dipersyaratkan oleh regulator. Nah mempertimbangkan kondisi tersebut, seyogyanya kami memiliki ruang untuk memberikan dividen dengan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan level histori yang selama ini ada,” jelas Hery. Secara historis, DPR BRI berada di atas 80% dalam empat tahun terakhir, dengan 87% pada tahun buku 2024.
Minat investor asing terhadap saham BBRI juga terlihat meningkat. Pada perdagangan Rabu (25/2/2026), investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) jumbo sebesar Rp640,55 miliar. Tren akumulasi ini berlanjut, dengan total net buy asing mencapai Rp1,73 triliun dalam periode 18-25 Februari 2026. BlackRock, salah satu investor global terbesar, meningkatkan kepemilikannya di saham BBRI menjadi 2,71 miliar lembar atau setara 1,79% dari total saham beredar.