BBRI Catatkan Laba Bersih Rp57,13 Triliun di 2025, Turun 5,26% Sesuai Ekspektasi

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

PT (Persero) Tbk () mengumumkan perolehan laba bersih tahun berjalan secara konsolidasi sebesar Rp57,13 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 5,26% secara tahunan (YoY) dibandingkan dengan laba bersih pada tahun 2024 yang mencapai Rp60,30 triliun. Meskipun terjadi koreksi, kinerja laba bersih ini dinilai sejalan dengan ekspektasi pasar dan proyeksi analis.

Konsensus Bloomberg, yang diakses pada Rabu (25/2/2026), sebelumnya memperkirakan laba bersih BRI pada 2025 akan mencapai Rp56,25 triliun, menunjukkan penurunan sekitar 6,49% YoY. Penurunan laba bersih ini terutama disebabkan oleh peningkatan beban provisi serta tingginya cost of fund. Investment Analyst Lead Stockbit, Edi Chandren, menyebutkan bahwa laba bersih BRI pada kuartal IV 2025 mencapai Rp15,9 triliun, membaik 7% YoY dan 9% QoQ, namun laba bersih sepanjang 2025 secara keseluruhan tetap turun 5%.

Analis menyoroti lonjakan beban provisi pada kuartal IV 2025 yang mencapai Rp12,5 triliun, naik 44% YoY dan 21% QoQ. Selain itu, cost of credit (CoC) BRI selama 2025 tercatat 3,3%, sedikit lebih tinggi dari kisaran guidance manajemen sebelumnya. Seorang analis, yang tidak disebutkan namanya, menjelaskan bahwa “ memang cenderung cukup lesu. Sentimen utamanya adalah meningkatnya cost of fund sebagai akibat dari kebijakan suku bunga yang cukup lama berada di level tinggi sebelum akhirnya melandai.” Kondisi likuiditas yang ketat juga disebut membatasi ruang ekspansi margin .

Di sisi lain, kinerja top line BRI menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pendapatan bunga tercatat sebesar Rp207,78 triliun, meningkat 4,27% YoY, sementara beban bunga hanya naik tipis 1,2% YoY menjadi Rp57,28 triliun. Hal ini mendorong pendapatan bunga bersih beserta pendapatan jasa asuransi naik 5,54% YoY menjadi Rp151,8 triliun. Pertumbuhan Pre–Provision Operating Profit (PPOP) juga akseleratif, mencapai Rp32,7 triliun pada kuartal IV 2025, naik 13% YoY dan 15% QoQ.

Fungsi intermediasi BRI tetap ekspansif dengan penyaluran kredit konsolidasi yang tumbuh 12,31% YoY menjadi Rp1.521,49 triliun pada akhir 2025, melampaui guidance manajemen. Pertumbuhan kredit ini didominasi oleh segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang merupakan bisnis inti perseroan. Sepanjang 2025, BRI juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sekitar Rp170-178 triliun kepada lebih dari 3,8 juta debitur, dengan sektor produksi mendominasi penyaluran KUR. Total aset BRI juga tumbuh 7,1% YoY menjadi Rp2.135,37 triliun.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat meningkat menjadi 3,29% dan NPL net naik menjadi 0,96%. Namun, rasio NPL masih terjaga di level 3,07% menurut Stockbit, dengan rasio pencadangan NPL (NPL coverage ratio) mencapai 178,1%. Rasio Special Mention Loan (SML) juga menunjukkan perbaikan, turun dari 5% pada September 2025 menjadi 3,84% pada Desember 2025.

Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.466,84 triliun, tumbuh 7,42% YoY. Komposisi dana murah (CASA) tetap kuat, mencapai 70,61%, didukung oleh pertumbuhan giro 19,66% dan tabungan 7,93%. Rasio likuiditas seperti Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 91,96%, sementara Liquidity Coverage Ratio (LCR) 136,9% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 117,7%, semuanya di atas ketentuan regulator. Rasio permodalan (CAR) BRI juga solid di angka 23,52%.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan, “Dengan berbagai inisiatif transformasi yang telah berjalan dengan baik, kinerja keuangan BRI hingga akhir 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan.” Ia juga menambahkan bahwa perekonomian domestik tetap resilien di tengah ketidakpastian global, dengan pertumbuhan ekonomi 2025 sekitar 5,1% dan inflasi terkendali sekitar 2,9%, yang mendukung daya beli masyarakat.

Transformasi digital BRI juga membuahkan hasil positif, terlihat dari pengguna aktif Super App BRImo yang mencapai 45,9 juta, tumbuh sekitar 19%, dengan nilai transaksi menembus Rp7.076,9 triliun, naik 26,4%.

Untuk tahun 2026, BRI menargetkan normalisasi provisioning dengan guidance CoC di kisaran 2,9–3,2%, seiring proyeksi perbaikan kualitas aset di berbagai segmen. Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) juga memproyeksikan tahun 2026 akan membawa prospek yang lebih baik bagi industri perbankan, didukung stabilitas politik pasca-transisi dan kebijakan ekonomi yang lebih pro-pertumbuhan.