BCA Pimpin Perolehan Laba Bersih Bank Jumbo 2025, BRI dan Mandiri Bersaing Ketat

PT Tbk (BCA) berhasil memimpin perolehan laba bersih di antara empat bank jumbo Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 sepanjang tahun 2025. Kinerja keuangan bank-bank besar di Indonesia menunjukkan dinamika yang beragam, dengan beberapa mencatatkan pertumbuhan positif, sementara yang lain menghadapi tekanan di tengah kondisi makroekonomi yang menantang.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi, BCA membukukan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun pada tahun 2025, tumbuh 4,9 persen secara tahunan (YoY). Pencapaian ini ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh 7,7 persen YoY mencapai Rp993 triliun per Desember 2025, dengan rata-rata pertumbuhan kredit sepanjang tahun mencapai 10,8 persen. Selain itu, pendapatan bunga bersih (NII) BCA meningkat 4,1 persen YoY dan pendapatan non-bunga melonjak 16 persen YoY. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyampaikan apresiasi kepada nasabah dan dukungan pemerintah serta otoritas yang membantu perseroan menorehkan kinerja positif.

Di posisi kedua, PT (Persero) Tbk (BRI) mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp57,13 triliun. Namun, angka ini mengalami penurunan 5,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp60,30 triliun. Meskipun laba turun, kinerja intermediasi BRI tetap solid dengan pertumbuhan kredit sebesar 12,31 persen YoY menjadi Rp1.521,49 triliun, dengan fokus utama pada segmen UMKM. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa kinerja positif ini didukung oleh perbaikan fundamental dan inisiatif transformasi perseroan, serta ekonomi domestik yang resilien di tengah ketidakpastian global. Peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL) gross menjadi 3,29 persen dan NPL net menjadi 0,96 persen turut menjadi perhatian.

Sementara itu, PT (Persero) Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp56,3 triliun, naik tipis 0,93 persen dari tahun sebelumnya. Bank Mandiri menunjukkan pertumbuhan kredit yang kuat sebesar 13,4 persen YoY mencapai Rp1.895 triliun, serta penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang melonjak 23,9 persen YoY menjadi Rp2.105,8 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh penguatan ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi dan pengelolaan kualitas aset yang disiplin, seperti disampaikan oleh perwakilan Bank Mandiri.

PT (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp20,04 triliun pada 2025, turun 6,63 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, BNI menunjukkan pertumbuhan kredit tertinggi di antara bank-bank jumbo, mencapai 15,94 persen YoY menjadi Rp899,53 triliun. Pendapatan bunga BNI meningkat 4,22 persen, namun beban bunga juga melonjak 11,33 persen, yang berdampak pada penurunan pendapatan bunga bersih. Pendapatan berbasis komisi (fee-based income) menjadi salah satu penopang kinerja BNI.

Secara keseluruhan, kinerja perbankan di tahun 2025 dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga tinggi yang meningkatkan biaya dana (cost of fund) dan membatasi ekspansi margin bunga bersih (NIM). Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa peluang kenaikan laba industri perbankan pada 2026 akan sangat bergantung pada kemampuan bank menurunkan biaya dana tanpa kehilangan DPK, serta menjaga kualitas kredit, terutama pada segmen rumah tangga dan UMKM.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan kinerja intermediasi perbankan pada tahun 2026 akan tetap solid, dengan pertumbuhan kredit dan DPK yang stabil, ditopang oleh kualitas kredit yang terjaga dan permodalan yang kuat. OJK juga memperkirakan laba industri perbankan akan terus tumbuh positif. Proyeksi pertumbuhan kredit Bank Indonesia berada di kisaran 8-12 persen untuk tahun 2026.