Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan Full Call Auction (FCA) yang diterapkan pada Papan Pemantauan Khusus. Peninjauan ini dijadwalkan akan dimulai lebih intensif pada kuartal kedua tahun 2026, sekitar April hingga Juni, sebagai bagian integral dari agenda reformasi pasar modal Indonesia.
Kebijakan FCA sendiri merupakan mekanisme perdagangan saham di mana order beli dan jual dikumpulkan selama periode waktu tertentu, kemudian dieksekusi secara bersamaan pada satu harga keseimbangan yang ditentukan berdasarkan titik pertemuan permintaan dan penawaran. Sistem ini telah diimplementasikan secara penuh pada Papan Pemantauan Khusus sejak 25 Maret 2024, dengan tujuan meningkatkan likuiditas saham dan perlindungan investor untuk emiten dengan kriteria tertentu.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa evaluasi ini merupakan bagian dari tinjauan berkala atas seluruh kebijakan bursa. “Sesuai seluruh kebijakan, kami melakukan review secara periodik. FCA juga termasuk yang kami review. Kami melihat ada ruang untuk penyempurnaan atau perbaikan,” ujar Jeffrey usai konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Evaluasi ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan transparansi data dan perubahan struktur pasar yang terjadi. Peningkatan granularitas informasi kepemilikan saham dan penyesuaian aturan *free float* menjadi 15 persen dinilai berpotensi mengubah relevansi sebagian kriteria yang selama ini digunakan untuk menempatkan emiten di papan pemantauan khusus.
Salah satu kritik utama dari investor terhadap FCA adalah ketiadaan informasi *bid* dan *ask* secara *real-time*, yang oleh sebagian investor disebut mirip dengan judi *online*. Kritik ini bahkan memicu penggalangan petisi yang telah ditandatangani oleh lebih dari 16 ribu investor. Menanggapi hal ini, BEI berencana untuk menambahkan mekanisme *bid-ask* guna meningkatkan likuiditas, dengan target implementasi pada tahun 2026.
Jeffrey Hendrik juga membuka kemungkinan perubahan mekanisme perdagangan dari sistem *auction* kembali ke *continuous trading*. “Auction? Jadi *continuous* lagi? Sangat mungkin. Tapi poinnya, FCA akan di-review. Prosesnya sedang berjalan,” jelasnya. Arah penyesuaian sistem perdagangan saham dengan skema FCA ini lebih condong pada penyederhanaan, bukan penambahan kompleksitas aturan baru bagi pelaku pasar. “Most likely pengurangan, tidak akan ada penambahan,” tambah Jeffrey.
Sebelum fokus pada evaluasi FCA, BEI saat ini masih memprioritaskan pengembangan pasar modal dalam rangka menindaklanjuti kekhawatiran dari penyedia indeks global seperti FTSE Russell dan MSCI. Namun, Jeffrey memastikan bahwa peninjauan FCA akan dilaksanakan secepatnya pada kuartal berikutnya.