BEI Imbau Investor Tetap Rasional di Tengah Gejolak IHSG Akibat Konflik Timur Tengah

bursa efek indonesia, ihsg, timur tengah, jeffrey hendrik, geopolitik

Indeks Harga Saham Gabungan () (BEI) kembali tertekan pada awal pekan ini, Senin (2/3/2026), menyusul memanasnya eskalasi di kawasan . Sentimen negatif ini mendorong IHSG sempat anjlok lebih dari 2% pada sesi perdagangan pagi.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG langsung bergerak di zona merah, melemah 1,73% ke level 8.092,90. Bahkan, pada pukul 09.05 WIB, indeks tercatat anjlok 1,58% atau sekitar 129 poin ke level 8.105,76, dengan pelemahan terdalam mencapai 1,8% atau 151 poin di level 8.049,38. Posisi terendah intraday di 8.039 pada hari ini mencerminkan pelemahan sekitar 2,38% dibandingkan penutupan sebelumnya di level 8.235.

Respons Bursa Efek Indonesia

Menanggapi volatilitas pasar ini, Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengimbau para pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan secara emosional. Jeffrey menekankan pentingnya bagi investor untuk tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental di tengah ketidakpastian global.

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” kata Jeffrey dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

Ia juga menambahkan agar investor menyesuaikan strategi investasi mereka dengan toleransi risiko masing-masing. BEI sendiri terus memantau pergerakan indeks secara saksama untuk memastikan stabilitas pasar.

Dampak Konflik Timur Tengah

Pemicu utama pelemahan IHSG adalah eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Serangan militer skala besar AS dan Israel terhadap Iran, yang bahkan dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, memicu ancaman balasan intensif dari Teheran. Insiden ini menciptakan sentimen ‘risk-off’ di pasar global, mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke aset yang lebih aman (safe haven).

Kekhawatiran juga meningkat terkait potensi gangguan pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute transit sekitar 20-25% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya. Gangguan di selat ini berpotensi mengguncang pasar energi global, memicu lonjakan harga minyak, inflasi global, dan menekan nilai tukar mata uang.

Analisis dan Proyeksi Pasar

Sepanjang Februari 2026, IHSG mencatat tren bearish dengan pelemahan bulanan sebesar 8,24%, ditutup di level 8.235. Secara tahun berjalan (year-to-date/ytd), kinerja IHSG per 2 Maret 2026 telah terkoreksi 6,14%. Investor asing juga mencatatkan jual bersih (net sell) yang signifikan, mencapai Rp9,51 triliun secara ytd per 2 Maret 2026.

Analis Senior Technical Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama, menjelaskan bahwa investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi saat ketegangan geopolitik global meningkat. “Biasanya, ketika tensi geopolitik meningkat, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan melakukan aksi profit taking,” ujarnya. Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memproyeksikan IHSG akan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan ini.

Di sisi lain, beberapa analis melihat peluang di tengah ketidakpastian ini. Imam Gunadi menambahkan bahwa Indonesia, sebagai eksportir komoditas, berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga jual rata-rata (ASP) komoditas. “Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global,” kata Imam. Sektor energi dan emas diprediksi akan menguat dalam kondisi ini.

Bank Indonesia (BI) juga memastikan akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan siap merespons secara tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Nilai tukar rupiah sendiri tercatat melemah ke Rp16.771 per dolar AS.