Marseille diguncang polemik politik setelah Martine Vassal, Presiden Metropolis Aix-Marseille-Provence sekaligus kandidat Wali Kota Marseille, secara terbuka menyatakan frasa kontroversial “Travail, famille, patrie” (Kerja, keluarga, tanah air) sebagai bagian dari nilai-nilai pribadinya. Pernyataan tersebut dilontarkan Vassal dalam debat televisi untuk pemilihan umum kota Marseille 2026 pada Kamis malam, 19 Februari 2026, memicu reaksi keras dari rival politiknya dan masyarakat luas.
Slogan Vichy yang Bangkit Kembali
Dalam debat yang diselenggarakan oleh BFMTV bekerja sama dengan La Provence, Martine Vassal, yang juga merupakan anggota partai The Republicans (LR), menyebut “merit, kerja, keluarga, tanah air” sebagai prinsip yang ia junjung tinggi. Slogan ini segera dikenali sebagai semboyan resmi rezim Vichy di bawah Marsekal Philippe Pétain selama Perang Dunia II, yang menggantikan moto republik “Liberté, égalité, fraternité” (Kebebasan, kesetaraan, persaudaraan).
Rezim Vichy dikenal karena kolaborasinya dengan Nazi Jerman dan kebijakan otoriter yang menindas. Semboyan “Travail, famille, patrie” menjadi simbol penolakan nilai-nilai republik dan persekusi terhadap berbagai kelompok, termasuk Yahudi, Roma, homoseksual, Gaullis, dan sosialis.
Kecaman Keras dari Rival Politik
Benoît Payan, Wali Kota Marseille petahana dari kelompok Divers Gauche (DVG) dan rival utama Vassal dalam pemilu, langsung menyoroti asal-usul slogan tersebut. “Anda menyadari apa yang baru saja Anda katakan? Travail, famille, patrie, itu adalah slogan Monsieur Pétain,” ujar Payan dalam debat tersebut. Keesokan harinya, Payan mempertegas kecamannya, menyebut pernyataan Vassal sebagai “kesalahan moral yang sangat serius” dan menuntut permintaan maaf.
Menurut Payan, penggunaan slogan tersebut bukanlah “kesalahan bahasa” atau “kesalahan politik” semata, melainkan “kesalahan moral gravissime” yang merujuk pada “devise Prancis kolaborasionis dan rezim Vichy, para kolaborator rezim Nazi.”
Pembelaan Martine Vassal
Menanggapi gelombang kritik, Martine Vassal membela diri dengan menyatakan bahwa “Travail, famille, patrie” adalah nilai-nilai pribadinya yang ia yakini, meskipun mungkin dianggap “ketinggalan zaman.” Ia menambahkan “kemanusiaan” dan “solidaritas” sebagai nilai-nilai pelengkapnya.
Juru bicara kampanyenya, Romain Simmarano, juga turut membela Vassal. Simmarano menegaskan bahwa “Pétainisme adalah kekejian yang selamanya mencoreng Prancis” dan bahwa Vassal “berada di antitesis nilai-nilai Pétainis.” Ia menambahkan bahwa jika urutan kata-kata tersebut menimbulkan emosi, ia memahami hal itu.
Dampak pada Pemilu Marseille 2026
Kontroversi ini muncul di tengah kampanye pemilihan Wali Kota Marseille 2026 yang ketat. Martine Vassal saat ini berada di posisi tertinggal dalam jajak pendapat, di belakang Benoît Payan dan Franck Allisio dari Rassemblement National (RN). Insiden ini diperkirakan akan semakin mempersulit upayanya untuk memenangkan kursi kepemimpinan kota pelabuhan terbesar kedua di Prancis tersebut.