BI Pastikan Jaga Rupiah di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran

bank indonesia, rupiah, konflik timur tengah, amerika serikat, iran

(BI) memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul serangan (AS) dan Israel terhadap , telah memicu sentimen penghindaran risiko (risk-off) yang signifikan di kalangan investor global.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa bank sentral akan mencermati pergerakan pasar secara saksama dan merespons secara tepat. Hal ini termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya.

Intervensi Pasar untuk Stabilitas Rupiah

Sebagai langkah konkret, BI menyatakan akan tetap hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi. Upaya ini meliputi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, BI juga akan menyertai strategi ini dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Erwin menambahkan, BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas makroekonomi serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang meningkat.

Dampak Geopolitik dan Pergerakan Rupiah

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memanas setelah serangan udara AS dan Israel ke sejumlah kota di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Insiden ini dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 1 Maret 2026, sebuah kabar yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump dan dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Peristiwa ini sontak memicu pergeseran portofolio investor dari aset berisiko di negara berkembang, seperti Indonesia, menuju aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Akibatnya, nilai tukar rupiah mengalami tekanan. Pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, rupiah melemah 0,17 persen atau 28 poin menjadi Rp16.787 per dolar AS.

Pada awal perdagangan Senin, 2 Maret 2026, rupiah dibuka melemah di kisaran Rp16.810 hingga Rp16.835 per dolar AS. Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dengan risiko ditutup melemah di rentang Rp16.790 hingga Rp16.820 per dolar AS pada hari ini. Untuk sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.750 sampai Rp16.900 per dolar AS. Bahkan, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, tidak menutup kemungkinan rupiah dapat melemah hingga level Rp17.000 per dolar AS jika konflik berlarut-larut atau meluas.

Potensi Dampak Ekonomi Lebih Luas

Selain tekanan pada nilai tukar, ketegangan di Timur Tengah juga berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas bagi Indonesia. Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menyoroti posisi strategis Selat Hormuz yang vital bagi pasokan minyak global. Sekitar 20-30 persen produksi minyak global melintasi selat ini. Jika Selat Hormuz ditutup, hal itu akan berdampak besar pada pasokan minyak global, menyebabkan kenaikan harga minyak dan mengganggu ekonomi global.

Lonjakan harga minyak mentah global akan meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik pemerintah, serta berpotensi merealokasi anggaran pembangunan untuk perlindungan sosial. Pelemahan rupiah yang signifikan juga berisiko meningkatkan inflasi impor, mengingat bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri.

BI menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas sistem keuangan dan memperkuat koordinasi kebijakan guna merespons perkembangan global secara terukur dan terarah. Bank sentral juga mencermati ruang penurunan suku bunga acuan (BI Rate) lebih lanjut sejalan dengan perkiraan inflasi 2026-2027 yang terkendali dalam sasaran 1,5-3,5 persen.