BI Perketat Intervensi Pasar, Jaga Rupiah di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

bank indonesia, rupiah, konflik as-iran, stabilitas ekonomi, perry warjiyo

(BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar keuangan global yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Bank sentral akan memperketat intervensi pasar guna memastikan pergerakan Rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi domestik.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa BI akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat. “Bank Indonesia akan terus berada di pasar dan memastikan Rupiah bergerak sejalan dengan fundamentalnya,” ujar Erwin pada Senin, 2 Maret 2026.

Gejolak Geopolitik Timur Tengah Memicu Sentimen ‘Risk-Off’

Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah kota di Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Tabriz, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan ini dibalas Iran dengan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Situasi semakin memburuk dengan kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 1 Maret 2026, akibat serangan rudal AS-Israel. Presiden AS Donald Trump bahkan mengonfirmasi kematian tersebut, sementara Garda Revolusi Iran bersumpah akan membalas.

Eskalasi konflik ini segera memicu sentimen ‘risk-off’ di pasar keuangan global, mendorong investor untuk beralih ke aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia bahkan dibuka terkoreksi lebih dari 2% pada perdagangan Senin pagi, 2 Maret 2026. Harga minyak dunia, baik West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent, melonjak tajam, dengan Brent berpotensi menyentuh US$90-100 per barel jika Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global, terganggu.

Dampak Terhadap Rupiah dan Ekonomi Nasional

Pelemahan Rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu dampak langsung dari ketidakpastian global ini. Pada pembukaan perdagangan Senin, 2 Maret 2026, Rupiah terpantau melemah ke kisaran Rp16.829 hingga Rp16.835 per dolar AS, turun sekitar 0,25% hingga 0,28% dari penutupan sebelumnya. Analis bahkan memproyeksikan Rupiah berpotensi melemah hingga Rp17.000 per dolar AS.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa pelemahan ini didorong oleh arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang dan peningkatan permintaan valuta asing domestik untuk impor energi, mengingat Indonesia adalah net importir minyak. Selain itu, konflik ini juga berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas energi, yang dapat memicu inflasi lebih tinggi dan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui subsidi energi.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo turut mewaspadai dampak serius konflik global ini terhadap perekonomian dan keamanan Indonesia. Ia menekankan pentingnya menjaga iklim investasi yang kondusif untuk menghadapi tekanan global.

Komitmen Bank Indonesia Menjaga Stabilitas

Meskipun menghadapi tekanan eksternal, Gubernur Bank Indonesia sebelumnya telah menyatakan optimisme terhadap prospek Rupiah. Perry menilai nilai tukar Rupiah saat ini telah “undervalued” atau berada di bawah nilai wajarnya jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang solid. Pertumbuhan ekonomi Kuartal IV 2025 tercatat 5,39%, dan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 1,5-2,5%.

Untuk menjaga stabilitas, BI akan mengintensifkan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan transaksi spot di pasar domestik. Selain itu, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%. Keputusan ini konsisten dengan upaya penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 sebesar 2,5% ±1% dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

BI juga terus memperkuat sinergi kebijakan moneter dan fiskal, termasuk melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder yang hingga 18 Februari 2026 telah mencapai Rp20,23 triliun. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meredam volatilitas dan memastikan Rupiah tetap bergerak stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil aset domestik yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga.