BI Proyeksi Inflasi Februari-Ramadan 2026 di Atas 3 Persen, Pangan Mulai Bergerak Naik

Author Image

Bejo

28 Februari 2026

bank indonesia, inflasi, ramadan 2026, harga pangan, ekonomi indonesia

(BI) memproyeksikan laju domestik akan menunjukkan peningkatan, khususnya menjelang bulan suci Ramadan dan Idulfitri 2026. Angka inflasi pada periode tersebut diperkirakan akan berada sedikit di atas 3% secara tahunan, meskipun bank sentral meyakini bahwa tekanan harga akan tetap terkendali.

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menjelaskan bahwa lonjakan inflasi ini sebagian besar dipicu oleh efek harga yang diatur pemerintah (administered prices) dari kebijakan diskon tarif listrik pada Januari-Februari 2025. Dampak dari diskon tersebut masih akan terasa hingga Maret 2026, menciptakan efek basis rendah yang membuat angka inflasi tahun ini terlihat lebih tinggi. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 sendiri telah tercatat sebesar 3,55% secara tahunan.

Harga Pangan Strategis Mulai Merangkak Naik

Menjelang yang jatuh pada pertengahan Februari, pergerakan nasional mulai menunjukkan dinamika. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia per 3 Februari 2026 menunjukkan bahwa harga sejumlah komoditas pangan strategis di pasar tradisional mulai mengalami kenaikan.

Komoditas cabai menjadi salah satu yang paling terasa peningkatannya. Harga cabai rawit merah melonjak hingga Rp65.750 per kilogram, sementara cabai merah besar tercatat di kisaran Rp40.000 per kilogram dan cabai merah keriting Rp41.450 per kilogram. Selain cabai, harga bawang juga mulai bergerak naik. Sementara itu, harga beras nasional terpantau relatif stabil di seluruh kualitas, dengan beras kualitas medium I di level Rp15.900 per kilogram. Untuk protein hewani, harga daging ayam ras segar dan telur ayam ras masih terpantau stabil di awal Februari 2026. Namun, harga daging sapi pada 13 Februari 2026 mencapai Rp137.733 per kilogram, naik dari akhir Januari 2026.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, memperkirakan IHK Indonesia akan mengalami inflasi sebesar 0,42% secara bulanan (month-on-month/MoM) pada Februari 2026, didorong oleh menguatnya permintaan pada periode Ramadan.

Upaya Pengendalian Inflasi dan Proyeksi Jangka Panjang

Meskipun ada potensi kenaikan inflasi, Bank Indonesia dan pemerintah menegaskan bahwa kondisi ini tetap dalam kisaran target dan akan terus dikendalikan. Aida S. Budiman menyatakan bahwa pasokan pangan tetap terjaga seiring berlangsungnya musim panen hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. Pemantauan harga secara mingguan juga menunjukkan pergerakan yang masih sesuai dengan proyeksi Bank Indonesia.

Pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui koordinasi antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), seluruh kantor perwakilan Bank Indonesia, serta kementerian terkait di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian. BI juga telah meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan melalui peningkatan pasokan dan kelancaran distribusi. Selain itu, pemerintah juga melakukan operasi pasar, gerakan pangan murah, dan penguatan peran Kios TPID untuk menjaga stabilitas harga.

Secara keseluruhan, Bank Indonesia memproyeksikan inflasi tahunan 2026 akan berada di kisaran 2,62% atau di bawah 3%, yang masih sesuai dengan target sasaran inflasi nasional 2,5% ± 1%. Proyeksi ini menunjukkan optimisme BI bahwa tekanan inflasi, termasuk yang disebabkan oleh momentum Ramadan, dapat dikelola dengan baik.