Dua raksasa di industri aset digital, Binance dan Revolut, tengah mengambil langkah strategis yang signifikan di Eropa. Binance, bursa kripto terbesar di dunia, telah memilih Yunani sebagai basis regulasi utamanya di Uni Eropa (UE) dengan mengajukan permohonan lisensi di bawah kerangka Markets in Crypto-Assets (MiCA). Sementara itu, Revolut, perusahaan teknologi finansial (fintech) yang berbasis di London, memulai uji coba token kripto yang dipatok pada Poundsterling Inggris sebagai bagian dari program ‘sandbox’ regulator keuangan Inggris.
Binance Membidik Yunani sebagai Gerbang Uni Eropa
Binance mengajukan permohonan lisensi MiCA di Yunani pada bulan Januari 2026, sebuah langkah yang menempatkan negara tersebut sebagai pintu gerbang strategisnya menuju pasar tunggal UE. Keputusan ini diambil menjelang tenggat waktu Juli 2026, di mana semua perusahaan kripto wajib memiliki lisensi MiCA untuk terus beroperasi secara legal di seluruh blok Eropa.
Meskipun Yunani belum mengeluarkan lisensi MiCA, berbeda dengan Jerman yang telah memberikan 45 lisensi atau Belanda dengan 22 lisensi, Co-CEO Binance, Richard Teng, menjelaskan bahwa pilihan ini didasarkan pada pertimbangan kualitas tenaga kerja, keamanan, dan talenta, bukan semata-mata kecepatan. Teng, yang menjabat sebagai CEO sejak November 2023, memiliki visi untuk menjadikan Binance sebagai bursa kripto yang paling teregulasi secara global. Binance saat ini mengelola sekitar 44 miliar dolar AS dalam bentuk Bitcoin di dompet pelanggan dan melayani sekitar 300 juta pengguna di seluruh dunia.
Peraturan MiCA sendiri telah berlaku penuh di seluruh negara anggota UE sejak akhir 2024. Yunani juga telah mengembangkan kerangka pajak kripto, dengan keuntungan kripto yang diklasifikasikan sebagai keuntungan modal dan dikenakan pajak sebesar 15% mulai Januari 2025.
Revolut Uji Coba Token Kripto Berpatok Poundsterling di Inggris
Di sisi lain, Revolut akan memulai uji coba token kripto yang dipatok pada Poundsterling Inggris. Inisiatif ini merupakan bagian dari program ‘sandbox’ yang diselenggarakan oleh Otoritas Perilaku Keuangan (FCA) Inggris. Revolut adalah salah satu dari empat perusahaan yang terpilih dari 20 pelamar, bersama Monee Financial Technologies, ReStabilise, dan VVTX.
Program ‘sandbox’ ini memungkinkan perusahaan untuk menguji produk stablecoin dalam kondisi terkontrol, dengan fokus utama pada penerbitan stablecoin dan eksplorasi kasus penggunaan seperti pembayaran, penyelesaian grosir, dan perdagangan kripto. Revolut berencana untuk memulai pengujian stablecoin ini pada kuartal pertama 2026. Hasil dari uji coba ini diharapkan dapat membantu membentuk aturan stablecoin final di Inggris pada akhir 2026.
Inggris sendiri berupaya menyeimbangkan inovasi dan perlindungan konsumen dalam kerangka regulasi kripto. Namun, perusahaan keuangan besar di Inggris cenderung lebih berhati-hati terhadap stablecoin, sebagian karena skeptisisme dari Bank of England (BoE). Gubernur BoE, Andrew Bailey, lebih memilih bank untuk fokus pada deposito yang ‘diberi token’ atau berbasis blockchain. Matthew Long, Direktur Pembayaran dan Aset Digital FCA, menyatakan bahwa program ini mendukung penerbit stablecoin Inggris untuk memastikan kepercayaan dalam pembayaran, penyelesaian, dan perdagangan, yang pada akhirnya akan menguntungkan konsumen dan transaksi keuangan.
Revolut, sebagai perusahaan fintech yang berbasis di London, memiliki valuasi 75 miliar dolar AS pada tahun 2025 dan dilaporkan menargetkan valuasi 100 miliar dolar AS melalui penjualan saham sekunder, dengan ambisi jangka panjang untuk penawaran umum perdana (IPO) senilai 150 miliar dolar AS. Kerangka regulasi kripto baru di Inggris di bawah Financial Services and Markets Act 2000 (FSMA) diharapkan berlaku penuh mulai tahun 2027, yang akan mewajibkan perusahaan kripto untuk mendapatkan otorisasi dari FCA.