Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan signifikan, anjlok hingga di bawah level US$64.000 menyusul laporan serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Peristiwa ini memicu sentimen ‘risk-off’ di pasar keuangan global, mendorong investor untuk menarik diri dari aset-aset berisiko tinggi termasuk mata uang kripto.
Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sempat merosot tajam hingga 3,8% ke level US$63.038. Penurunan ini terjadi dalam waktu kurang dari satu jam, sebelum kemudian kembali stabil di kisaran US$64.000 pada perdagangan pagi di New York, Minggu, 1 Maret 2026. Tidak hanya Bitcoin, aset kripto lainnya juga turut terdampak. Ethereum (ETH), misalnya, turun hingga 4,5% mencapai US$1.835. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar aset digital global menguap sekitar US$128 miliar dalam waktu singkat setelah kabar serangan tersebut.
Beberapa mata uang kripto terkemuka lainnya seperti XRP, Binance Coin (BNB), Solana, dan Dogecoin juga mencatat penurunan harga yang signifikan. Data menunjukkan lebih dari 154.000 investor mengalami likuidasi, dengan total kerugian mencapai US$522 juta dalam 24 jam terakhir. Indeks Fear & Greed Kripto bahkan berada di angka 14, menunjukkan sentimen ketakutan ekstrem di pasar.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel mengonfirmasi serangan pendahuluan terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa AS telah memulai “operasi tempur besar” di wilayah tersebut. Iran merespons dengan melancarkan serangan rudal ke beberapa lokasi, termasuk pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Susannah Streeter, Kepala Strategi Investasi di Wealth Club, menyoroti bahwa meskipun risiko konflik telah menguat, langkah militer yang tegas ini datang lebih cepat dari perkiraan pasar.
Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Pada April 2024, Bitcoin juga sempat anjlok 7% ke US$62.570, bahkan sempat menyentuh US$60.908, setelah Iran melancarkan serangan terhadap Israel. Kala itu, pasar kripto global kehilangan sekitar US$500 miliar. Namun, dalam beberapa kasus historis, penurunan harga akibat konflik geopolitik seringkali menjadi titik balik bagi Bitcoin untuk kemudian pulih dan mencapai level tertinggi baru dalam beberapa bulan.
Antony Kusuma, Vice President Indodax, menjelaskan bahwa pergerakan harga ini mencerminkan semakin eratnya keterkaitan pasar kripto dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global. Ia menambahkan, dalam situasi ‘risk-off’, aset berisiko cenderung terkoreksi secara bersamaan akibat aksi jual. Meskipun demikian, beberapa analis mencatat bahwa kali ini, Bitcoin dan emas—yang secara tradisional dianggap sebagai aset ‘safe haven’—turun bersamaan, sebuah fenomena yang tidak biasa.
Para ahli juga berpendapat bahwa respons Bitcoin terhadap konflik global tidak selalu linier. Pada fase awal krisis, tekanan likuiditas seringkali mendominasi dan mendorong harga turun. Bitcoin masih dipandang sebagai aset yang volatil, sehingga kerap dijual bersamaan dengan aset berisiko lainnya. Namun, dalam jangka panjang, pergerakan Bitcoin lebih ditentukan oleh respons kebijakan, kondisi ekonomi global, serta tingkat pembatasan pada sistem keuangan. Hingga Minggu pagi, 1 Maret 2026, harga Bitcoin terpantau menguat terbatas di level sekitar US$66.421 per koin.