Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan pergerakan stabil di sekitar level US$70.463,82 atau setara Rp1,19 miliar pada Selasa, 24 Maret 2026. Meskipun demikian, pasar kripto terbesar ini masih diwarnai volatilitas tinggi, dengan sejumlah analis menyoroti periode saat ini sebagai peluang akumulasi strategis bagi investor jangka panjang.
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin sempat menguat 3,5%, namun dalam sepekan terakhir, nilainya menyusut 7,01%. Fluktuasi ini bukan hal baru, mengingat Bitcoin sempat menyentuh US$76.000 di awal Maret sebelum terkoreksi hingga US$67.371. Analis pasar secara umum mencatat bahwa volatilitas masih akan menjadi karakteristik utama pergerakan harga Bitcoin, dengan potensi koreksi lebih lanjut yang tetap ada.
Beberapa pakar industri melihat level harga saat ini sebagai “zona bawah historis” atau fase pembentukan dasar harga. Michaël van de Poppe, seorang analis kripto, menyatakan bahwa Bitcoin berada di zona yang secara historis menguntungkan untuk akumulasi. Senada, Pratik Kala, Head of Research di Apollo Crypto, menyebut level saat ini “sangat menarik untuk akumulasi” bagi investor dengan pandangan bullish. Laporan Coinbase juga memproyeksikan Bitcoin berada dalam “fase akumulasi stabil” sepanjang tahun 2026, didorong oleh keyakinan jangka panjang alih-alih spekulasi sesaat.
Minat institusional terhadap Bitcoin terus meningkat. Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih selama empat minggu berturut-turut, dengan total sekitar US$2 miliar. BlackRock’s iShares Bitcoin Trust (IBIT) menjadi kontributor utama dengan menyumbang sekitar US$1,7 miliar dari total arus masuk tersebut. Bahkan, Morgan Stanley dikabarkan berpotensi mengalirkan dana hingga US$160 miliar ke Bitcoin melalui ETF baru yang akan diluncurkan. Keputusan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) AS terkait 91 aplikasi ETF kripto pada 27 Maret 2026 juga menjadi sentimen positif jangka pendek yang dinanti pasar.
Namun, di balik optimisme ini, sinyal kehati-hatian tetap muncul. Metrik derivatif Bitcoin masih menunjukkan skeptisisme dan kurangnya kepercayaan terhadap level dukungan US$68.000. Selain itu, meningkatnya biaya penambangan Bitcoin berpotensi menciptakan tekanan jual tambahan dari para penambang, bahkan ada tren di mana beberapa penambang Bitcoin beralih ke bisnis kecerdasan buatan (AI) karena menawarkan pendapatan yang lebih tinggi per megawatt.
Untuk prospek jangka panjang, para analis memproyeksikan rentang harga Bitcoin yang cukup lebar di tahun 2026, mulai dari US$61.813 hingga US$137.503, bahkan ada yang memprediksi bisa mencapai US$225.000 atau US$250.000. Tahun 2026 dipandang sebagai “tahun transisi yang penuh peluang” dan fase pematangan bagi industri kripto global. Perkembangan regulasi yang lebih jelas, seperti potensi pengesahan US Clarity Act, diharapkan dapat mempercepat adopsi institusional. Di Indonesia sendiri, industri kripto juga memasuki fase pematangan di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan peningkatan literasi investor dan strategi investasi jangka panjang.
Meskipun demikian, investor diimbau untuk tetap waspada terhadap fluktuasi harga yang signifikan dalam jangka pendek, mengingat dinamika ekonomi makro global dan siklus pasar yang kompleks.