Pasar aset kripto global kembali bergejolak hebat pada awal Maret 2026, menyusul eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga Bitcoin (BTC) terpantau anjlok signifikan, bahkan sempat menyentuh level di bawah US$64.000 atau sekitar Rp1 miliar, setelah laporan serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran muncul.
Koreksi tajam ini terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026, setelah kabar serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran memicu gelombang volatilitas di pasar keuangan global. Serangan tersebut, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, segera dibalas oleh Iran dengan melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Iran juga mengancam pangkalan militer yang terkait dengan pasukan AS di Irak, memperparah kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan tersebut.
Dampak langsung dari gejolak ini terlihat jelas pada pergerakan Bitcoin. Mata uang kripto terbesar berdasarkan nilai pasar ini sempat merosot hingga di bawah US$64.000 pada 28 Februari 2026, bahkan menyentuh titik terendah di US$63.000. Pada Senin pagi, 2 Maret 2026, harga Bitcoin tercatat jatuh 1,8% ke US$65.952 per koin, setara sekitar Rp1,1 miliar dengan asumsi kurs Rp16.802 per dolar AS. Sementara itu, data lain menunjukkan harga Bitcoin di level Rp1.135.284.268 pada 1 Maret 2026, dan US$65.221 (sekitar Rp1,09 miliar) pada 2 Maret 2026 pagi.
Fenomena ini kembali menyoroti pergeseran persepsi terhadap Bitcoin sebagai aset ‘safe haven’ atau lindung nilai. Dulu, Bitcoin kerap disebut sebagai ‘emas digital’ yang dapat diandalkan saat krisis. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, dinamika Bitcoin justru menyimpang dari emas. Saat emas melonjak tinggi karena permintaan yang meningkat sebagai tempat aman untuk menyimpan uang, Bitcoin justru mengalami kesulitan dan melemah tajam.
Penurunan harga Bitcoin juga menyeret sejumlah besar aset kripto lainnya. Ethereum (ETH), Solana (SOL), BNB, XRP, dan Dogecoin (DOGE) turut terperosok, menunjukkan bahwa pasar secara keseluruhan sedang mengalami tekanan besar akibat ketidakpastian global. Indeks Fear & Greed kripto, yang mengukur tingkat optimisme dan ketakutan pasar, anjlok ke skor 14 atau 5 dari 100, menandakan kondisi ‘ketakutan ekstrem’ di kalangan investor.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyatakan bahwa risiko volatilitas Bitcoin di kuartal I-2026 masih cukup tinggi, dan pergerakan harga akan sangat ditentukan oleh perkembangan sentimen global terhadap aset berisiko. Senada, CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menyarankan investor untuk mengambil sikap ‘wait and see’ dan mengedepankan manajemen risiko. Menurutnya, likuiditas global, arah suku bunga bank sentral, serta sentimen risiko global lainnya menjadi variabel utama yang memengaruhi arus dana ke aset kripto.
Hayden Hughes, mitra pengelola di Tokenize Capital, meyakini bahwa pemulihan Bitcoin yang terjadi sebagian besar bersifat teknis setelah aksi jual sementara mereda. Ia menambahkan bahwa konsolidasi harga yang sebenarnya akan terlihat pada 2 Maret, ketika pasar saham AS dan ETF Bitcoin dibuka kembali setelah akhir pekan. Hughes juga memperingatkan bahwa risiko geopolitik bukan lagi peristiwa lokal karena ketegangan telah menyebar ke seluruh wilayah Teluk, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz yang strategis.
Level US$60.000 menjadi titik kritis yang perlu diwaspadai sebagai zona dukungan kuat jika tekanan jual terus berlanjut. Di samping ketegangan geopolitik, faktor lain seperti arus keluar dana dari produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin yang mencapai hampir US$316 juta juga turut memberikan tekanan jual dari investor institusi. Kebijakan tarif impor Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada ketidakpastian pasar.