Bitcoin Terjun ke Bawah US$66.000, Gejolak Geopolitik dan Inflasi Tekan Pasar Kripto

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Harga (BTC) kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada Sabtu, 28 Februari 2026, dengan nilai yang terjun di bawah level US$66.000. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran, serta kekhawatiran akan data produsen Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan, memicu sentimen ‘extreme fear’ di kalangan investor aset digital.

Berdasarkan data terkini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$65.888 per koin, atau setara dengan Rp1,10 miliar, dengan asumsi kurs Rp16.802 per dolar AS. Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar ini terkoreksi 2,37 persen dan mencatat penurunan 3,12 persen dalam sepekan terakhir. Bahkan, harga Bitcoin sempat anjlok di bawah US$64.000 setelah berita serangan Israel terhadap Iran tersebar, yang menyebabkan likuidasi lebih dari US$100 juta pesanan beli dengan leverage dalam waktu 15 menit.

Volatilitas Tinggi dan Sentimen Negatif Mendominasi

Pergerakan harga Bitcoin pada hari ini menunjukkan volatilitas yang tinggi, dengan rentang intraday mencapai lebih dari US$3.000. Bitcoin sempat dibuka di level US$67.236,67, mencapai tertinggi US$68.223,07, namun kemudian merosot ke level terendah US$64.942,87. Tekanan jual konsisten terlihat setelah harga gagal bertahan di atas area US$68.000.

Sentimen secara keseluruhan juga masih berada di zona merah. Kapitalisasi pasar kripto global tercatat di level US$2,27 triliun, turun sekitar 2,32 persen dalam 24 jam terakhir. Indeks Fear and Greed kripto, yang mengukur tingkat optimisme dan ketakutan pasar, anjlok ke skor 5 dari 100 pada 23 Februari 2026, menunjukkan kondisi “ketakutan ekstrem” yang merupakan salah satu level terendah sejak 2019. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyebutkan bahwa risiko volatilitas Bitcoin di kuartal I-2026 masih sangat tinggi, diperkuat oleh indikator psikologis seperti Fear & Greed Index yang berada di area ketakutan ekstrem.

Faktor Makroekonomi dan Geopolitik Jadi Pemicu

Pelemahan pasar kripto saat ini dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi dan internal industri. Kekhawatiran terhadap tekanan di pasar kredit, data inflasi produsen (PPI) AS yang lebih panas dari perkiraan, serta meningkatnya tensi antara AS dan Iran membuat investor menjauhi aset berisiko. Sebelumnya, pada awal Februari 2026, nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed, yang dikenal hawkish, juga memicu sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dan menekan aset berisiko.

Selain itu, data dari Glassnode menunjukkan bahwa rasio Realized Profit/Loss (90D-SMA) telah jatuh di bawah 1 untuk pertama kalinya sejak 2022, menandakan transisi penuh ke fase realisasi kerugian berlebihan. Menurut Glassnode, secara historis, posisi di bawah 1 ini bisa bertahan lebih dari enam bulan sebelum kembali naik, menandai kembalinya likuiditas ke pasar secara konstruktif.

Altcoin Ikut Tertekan, Pemulihan Jangka Panjang Masih Jauh

Tidak hanya Bitcoin, altcoin utama lainnya juga mengalami tekanan. Ethereum (ETH) terkoreksi 4,46 persen dalam sehari dan turun 2,30 persen dalam sepekan, berada di level Rp32,43 juta per koin. Binance Coin (BNB) ambles 1,64 persen dalam 24 jam terakhir, sementara Cardano (ADA) melemah 3 persen, dan Solana (SOL) turun 4,42 persen.

Bitcoin saat ini telah turun hampir 50 persen dari rekor tertingginya yang mencapai US$126.000 pada Oktober 2025. Jake Ostrovskis, kepala perdagangan over-the-counter di Wintermute, mengingatkan investor untuk tetap waspada. “Sampai token ini kembali di atas 75.000 dollar AS, sulit bagi banyak pihak untuk menganggapnya serius,” ujarnya. Meskipun sempat ada penguatan singkat pada 26 Februari 2026, di mana Bitcoin melonjak hingga 9,3 persen mendekati US$70.000 karena laporan keuangan Nvidia yang kuat, volume perdagangan yang menurun menunjukkan kendala likuiditas yang berkelanjutan.