Pasar aset kripto global diwarnai sentimen negatif yang mendalam setelah Bitcoin (BTC) mencatatkan pelemahan signifikan sebesar 23% sepanjang awal tahun 2026, hingga 20 Februari. Penurunan ini menandai kinerja terburuk Bitcoin dalam 50 hari pertama di setiap tahunnya, sebuah rekor pelemahan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa koreksi harga terbagi menjadi 10% pada bulan Januari dan 15% pada bulan Februari. Pada 6 Februari 2026, Bitcoin sempat anjlok ke level US$60.000, mencatat koreksi sekitar 23% hanya dalam lima hari. Meskipun sempat menguat tipis 0,90% pada 20 Februari 2026, harga Bitcoin masih berkutat di kisaran US$66.978,44, dengan kinerja year-to-date (YTD) yang tetap minus 23,45%.
Faktor-faktor Pemicu Pelemahan
Berbagai faktor makroekonomi dan dinamika pasar kripto disinyalir menjadi pemicu utama koreksi tajam ini. Analis menyoroti lingkungan investasi yang kompleks, ditandai dengan valuasi ekuitas yang tinggi, kondisi geopolitik yang tidak menentu, serta perubahan arah kebijakan moneter global. Ketidakpastian seputar kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi sorotan utama, dengan pelaku pasar mencermati notulen rapat FOMC pada 19 Februari 2026 dan data inflasi Core PCE yang dirilis pada 20 Februari 2026.
Jika The Fed mengisyaratkan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, tekanan terhadap aset berisiko seperti kripto diperkirakan akan berlanjut. Selain itu, arus keluar bersih dari produk ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat mencapai US$360 juta dalam seminggu terakhir, menambah tekanan jual di pasar. Tekanan juga datang dari aksi jual oleh investor besar atau “whale” serta pembersihan modal leverage secara besar-besaran, yang dipicu oleh rasio leverage pasar kripto yang terlalu tinggi.
Faktor lain yang turut membebani sentimen pasar adalah meningkatnya risiko penutupan pemerintahan AS (government shutdown) dan ketegangan geopolitik terkait potensi aksi militer AS terhadap Iran. Di sisi internal pasar kripto, jadwal token unlock besar-besaran untuk aset seperti Arbitrum (ARB), Starknet (STRK), dan Aptos (APT) juga menambah tekanan suplai di pasar.
Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan
Sentimen investor saat ini berada di area “ketakutan ekstrem” (extreme fear). Hal ini tercermin dari lonjakan pencarian Google untuk frasa seperti “Is Bitcoin going to zero?” dan “Bitcoin dead”, yang mencapai level tertinggi sejak keruntuhan bursa FTX pada tahun 2022. Namun, beberapa analis melihat koreksi ini sebagai “structural reset” atau penyesuaian pasar, bukan kerusakan fundamental jangka panjang.
Meskipun demikian, optimisme jangka panjang masih tetap ada. Sejumlah institusi keuangan besar memproyeksikan Bitcoin akan mencapai level harga yang jauh lebih tinggi pada akhir 2026. Standard Chartered dan Bernstein memprediksi Bitcoin bisa menyentuh US$150.000, sementara Brad Garlinghouse dari Ripple memproyeksikan US$180.000. JPMorgan bahkan menargetkan Bitcoin menembus US$170.000, dengan potensi mencapai US$266.000 jika kondisi struktural tertentu terpenuhi. Arthur Hayes bahkan lebih ambisius dengan proyeksi US$500.000 menjelang akhir 2026.
Proyeksi ini didukung oleh ekspektasi lingkungan makroekonomi yang lebih stabil pada tahun 2026, dengan potensi pertumbuhan global sekitar 2,8% dan penurunan suku bunga The Fed hingga 50 basis poin. Adopsi institusional yang semakin luas, seperti langkah BlackRock meluncurkan ETF Ethereum Staking, serta kejelasan regulasi yang terus berkembang, diharapkan menjadi pendorong utama. Mekanisme suplai Bitcoin yang terbatas juga menjadikannya aset yang tahan terhadap depresiasi nilai fiat.
Secara historis, Bitcoin sering mengalami koreksi di kuartal pertama, namun selalu berhasil bangkit di periode berikutnya. Level support kunci di US$60.000 dan US$50.000-$48.000 akan menjadi penentu penting arah pergerakan selanjutnya. Para investor disarankan untuk tetap tenang, melakukan diversifikasi, dan fokus pada strategi investasi jangka panjang untuk menghadapi volatilitas pasar.