Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan pergerakan yang sangat volatil di awal Maret 2026, di tengah ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini sempat anjlok tajam sebelum menunjukkan tanda-tanda pemulihan terbatas, namun tetap dibayangi sentimen pasar yang berhati-hati.
Gejolak Geopolitik Picu Aksi Jual
Pada Minggu, 1 Maret 2026, Bitcoin sempat melonjak lebih dari 2 persen hingga menyentuh US$68.196 setelah adanya konfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi militer yang melibatkan AS dan Israel. Namun, penguatan ini tidak bertahan lama, dengan harga kembali melemah ke kisaran US$66.500 pada pukul 06.00 waktu New York. Sebelumnya, Bitcoin sempat merosot hingga di bawah US$64.000, bahkan menyentuh US$63.000, akibat kepanikan pasar yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
Analis mencatat bahwa Bitcoin, dengan sifat perdagangannya yang 24/7, bertindak sebagai ‘katup tekanan likuiditas’ selama eskalasi konflik geopolitik akhir pekan, menyerap tekanan jual yang mungkin menyebar ke pasar saham, obligasi, dan komoditas. Volume jual Bitcoin di pasar derivatif bahkan melonjak hingga US$1,8 miliar dalam satu jam pada Sabtu, 28 Februari, menunjukkan peningkatan aversi risiko jangka pendek dari para trader.
Arus Keluar Dana ETF dan Indikator Teknis
Selain sentimen geopolitik, pergerakan harga Bitcoin juga dipengaruhi oleh arus keluar dana dari produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin. Sepanjang lima minggu berturut-turut hingga akhir Februari, investor menarik hampir US$3,8 miliar dari ETF Bitcoin spot yang terdaftar di AS, menandai periode arus keluar mingguan terpanjang sejak awal 2025. Pada Jumat, 28 Februari, ETF Bitcoin mencatat arus keluar bersih sebesar US$27,55 juta, dengan BlackRock menjadi penjual terbesar. Namun, perlu dicatat bahwa arus masuk bersih mingguan tetap positif di angka US$787,31 juta, dan sejak 20 Februari, telah terjadi arus masuk bersih sekitar US$875,5 juta dalam waktu lebih dari seminggu.
Dari sisi analisis teknikal, Indeks Kekuatan Relatif (RSI) mingguan Bitcoin telah jatuh ke level historis rendah, menyerupai titik terendah pasar bearish pada tahun 2018 dan 2022. Analis kripto ‘Batman’ berpendapat bahwa kompresi RSI ini mengisyaratkan kelelahan sisi bawah, menunjukkan tekanan jual mungkin mereda dan Bitcoin lebih dekat ke titik terendah struktural daripada awal keruntuhan baru. Meskipun demikian, RSI (14) pada 1 Maret tercatat 49.878, mengindikasikan sentimen netral.
Level Krusial US$60.000 dan Prospek ke Depan
Level US$60.000 menjadi titik support psikologis yang sangat penting bagi Bitcoin. Di pasar derivatif, sekitar US$1,9 miliar opsi jual (put options) Bitcoin terkonsentrasi pada harga kesepakatan US$60.000 di Deribit, menunjukkan tingginya permintaan lindung nilai terhadap potensi penurunan harga. Jika Bitcoin gagal bertahan di atas US$67.000, potensi penurunan lanjutan ke US$60.000 bisa terbuka. Sementara itu, rata-rata pergerakan harga 200 pekan, yang dianggap sebagai level penopang penting, berada di sekitar US$58.000.
Sentimen pasar secara keseluruhan masih menunjukkan kehati-hatian, dengan Indeks Ketakutan & Keserakahan (Fear & Greed Index) berada di skor 14, yang mengindikasikan ‘Ketakutan Ekstrem’ pada 1 Maret. Meskipun ada prediksi bullish dari beberapa analis yang memperkirakan Bitcoin bisa mencapai US$75.000 pada akhir Maret 2026 atau bahkan US$150.000-US$225.000 pada akhir tahun 2026, pasar tetap berada dalam fase ‘risk-off’. Akumulasi kuat oleh investor ritel dan institusi yang membeli sekitar 400.000 token Bitcoin di kisaran US$60.000 hingga US$70.000 menunjukkan kepercayaan pada potensi jangka panjang. Di sisi domestik, Bursa Kripto PT Central Finansial X (CFX) telah memangkas biaya transaksi bursa sebesar 50 persen mulai 1 Maret 2026, dari 0,04 persen menjadi 0,02 persen, sebagai upaya meningkatkan daya saing industri kripto nasional.