BLACKPINK Rilis Teaser ‘GO’, Visual Dayung Futuristiknya Bikin Warganet Teringat Pacu Jalur Riau

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

Grup idola global, , kembali menghebohkan jagat maya dengan perilisan teaser video musik terbaru mereka untuk lagu berjudul ‘GO’ pada 24 Februari 2026. Antusiasme penggemar semakin memuncak seiring dengan dirilisnya video musik penuh dan mini album ketiga mereka, ‘Deadline’, pada hari ini, Jumat, 27 Februari 2026.

Namun, di tengah visual futuristik dan skala kosmik yang disuguhkan, satu adegan dalam teaser tersebut berhasil mencuri perhatian warganet Indonesia. Adegan di mana para anggota BLACKPINK terlihat menggenggam dayung yang saling menyilang, seolah bersiap untuk sebuah perjalanan, memicu perbincangan hangat karena disebut mirip dengan tradisi dari Riau.

Visual ‘GO’ yang Megah dan Multikultural

Dalam teaser ‘GO’ yang dirilis oleh YG Entertainment, BLACKPINK menghadirkan konsep visual yang luar biasa. Para anggota digambarkan memulai sebuah perjalanan epik yang melintasi laut, daratan, langit, hingga akhirnya menuju luar angkasa, semuanya disajikan dengan sinematografi sureal dan sensasional.

Tidak hanya itu, judul lagu ‘GO’ juga ditampilkan dalam berbagai bahasa, termasuk ‘Chalo!’ dalam aksara Hindi, sebuah isyarat yang disambut gembira oleh para penggemar di India. Mini album ‘Deadline’ sendiri, yang menjadi penanda comeback grup setelah tiga setengah tahun, berisi lima lagu, yaitu ‘GO’ sebagai lagu utama, ‘Jump’, ‘Me and My’, ‘Champion’, dan ‘Fxxxboy’. YG Entertainment menyatakan bahwa ‘Deadline’ akan dipenuhi dengan “momen puncak yang tak terulang” dan menampilkan “masa kini BLACKPINK yang paling bersinar dan menentukan.”

Pacu Jalur: Warisan Budaya Riau yang Mendunia

Perbandingan dengan Pacu Jalur sontak membuat banyak orang kembali menyoroti kekayaan budaya Indonesia. Pacu Jalur adalah kompetisi dayung tradisional yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau. Perlombaan ini menggunakan perahu panjang yang disebut ‘jalur’, terbuat dari satu batang kayu utuh tanpa sambungan, dengan panjang mencapai 25 hingga 40 meter, dan didayung oleh 40 hingga 60 orang.

Tradisi ini telah ada sejak abad ke-17, awalnya digunakan sebagai alat transportasi utama bagi masyarakat di sepanjang Sungai Kuantan, sebelum kemudian berkembang menjadi ajang perlombaan untuk merayakan musim panen dan upacara penting. Pacu Jalur bukan sekadar kompetisi, melainkan juga cerminan nilai-nilai kolektivisme, kehormatan antar desa, dan elemen spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakatnya.

Dalam satu perahu ‘jalur’, terdapat beberapa peran penting seperti Tukang Concang (komandan), Tukang Pinggang (juru mudi), Tukang Onjai (pemain ritme), dan Tukang Tari atau Anak Coki (penari). Uniknya, peran Tukang Tari biasanya diisi oleh anak-anak yang akan menari di bagian depan perahu jika ‘jalur’ mereka memimpin perlombaan. Belakangan ini, Pacu Jalur bahkan menarik perhatian global melalui tren “Aura Farming” di TikTok dan Instagram, di mana gerakan energik para penari di perahu banyak ditiru oleh selebriti internasional.

Antusiasme Penggemar dan Pencapaian BLACKPINK

Terlepas dari perbandingan visual yang menarik ini, BLACKPINK terus menunjukkan dominasinya di industri musik global. Baru-baru ini, saluran YouTube resmi mereka berhasil melampaui 100 juta pelanggan, menjadikannya grup musik pertama yang mencapai tonggak sejarah tersebut. Pencapaian ini semakin mengukuhkan posisi BLACKPINK sebagai salah satu grup K-Pop terbesar di dunia.

Dengan perilisan mini album ‘Deadline’ dan video musik ‘GO’ hari ini, para penggemar, yang dikenal sebagai BLINK, sangat menantikan bagaimana BLACKPINK akan terus mengeksplorasi konsep-konsep baru dan memberikan kejutan visual yang tak terduga, sekaligus mungkin tanpa sengaja, memperkenalkan kekayaan budaya dari berbagai belahan dunia.