Eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu gejolak signifikan di pasar energi global dan rantai pasok, menempatkan ekonomi China pada posisi yang sangat rentan. Reaksi pasar yang cepat terlihat dari lonjakan harga minyak mentah dunia, yang kini mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir. Situasi ini diperparah dengan ancaman terhadap jalur pelayaran vital, yang secara langsung memukul negara-negara importir besar seperti China.
Gejolak Geopolitik dan Dampak Langsung pada Pasar
Pada Senin, 2 Maret 2026, harga minyak mentah Brent melonjak hingga 7 persen, menyentuh angka 82,37 dolar AS per barel, level yang tidak terlihat sejak Januari 2025. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga terkerek naik menjadi 71,68 dolar AS per barel. Kenaikan drastis ini merupakan respons terhadap memanasnya konflik militer antara Iran dan Israel, menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan melancarkan serangan rudal dan secara resmi menutup jalur navigasi di Selat Hormuz, sebuah langkah ekstrem yang langsung memicu kepanikan di kalangan konsumen energi global, terutama di Asia. Selat Hormuz merupakan arteri utama perdagangan minyak dunia, dengan sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak global beredar melalui jalur sempit ini. Selain itu, kelompok Houthi Yaman juga mendeklarasikan penutupan total Laut Merah bagi lalu lintas kapal internasional, memperparah gangguan pada rute Terusan Suez yang krusial.
Rantai Pasok Global Terancam, Biaya Logistik Melonjak
Gangguan di Selat Hormuz dan Laut Merah memaksa perusahaan pelayaran besar dunia, termasuk Maersk, MSC, Hapag-Lloyd, dan operator terbesar China, Cosco Shipping Holdings Co., untuk mengalihkan rute. Pengalihan ini berarti waktu tempuh yang lebih lama dan lonjakan biaya bahan bakar serta premi asuransi risiko perang. Analis ANZ, Daniel Hynes, menilai risiko pasokan energi global kini berada di titik nadir karena aksi saling balas sudah menyasar infrastruktur pengiriman minyak. Tim analis Citi yang dipimpin Max Layton memproyeksikan harga Brent akan terus bergerak di kisaran 80 hingga 90 dolar AS per barel sepanjang pekan ini, bahkan bisa mencapai 100 dolar AS per barel jika blokade Selat Hormuz berlanjut.
China Paling Terdampak: Beban Ganda Ekonomi
Sebagai importir minyak terbesar dunia, China menjadi salah satu negara yang paling terpukul oleh kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasok. China sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah, dengan sekitar 13 persen dari total impor minyak lautnya berasal dari Iran. Jika pasokan ini terganggu, biaya energi di China berpotensi melonjak tajam, yang pada gilirannya akan menekan biaya produksi industri dan memperlambat pertumbuhan ekonominya.
Dampak ini datang di tengah tantangan ekonomi domestik yang sudah ada. Dana Moneter Internasional (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi China sebesar 4,5 persen untuk tahun 2026, namun memperingatkan risiko penurunan akibat permintaan domestik yang lemah dan perlambatan ekonomi global. IMF juga menyoroti penurunan sektor properti yang “lebih dalam dari yang diperkirakan” sebagai risiko domestik utama, serta tekanan harga yang persisten (deflasi). Meskipun Presiden Forum Ekonomi Dunia (WEF) Borge Brende memproyeksikan pertumbuhan China melampaui 5 persen pada 2026 berkat investasi di inovasi, ia juga menyatakan kekhawatiran terbesar terhadap eskalasi perang yang dapat menghancurkan pertumbuhan global.
Dalam jangka panjang, China telah berupaya mengurangi ketergantungan pada rute maritim yang rentan. Beijing menempatkan penekanan khusus pada pengembangan koridor darat melalui Iran menuju Eurasia, yang menjadi alternatif strategis berbasis darat untuk mengurangi ketergantungan pada rute maritim sensitif seperti Selat Hormuz, Selat Malaka, dan Terusan Suez. Namun, dalam jangka pendek, eskalasi konflik di Timur Tengah ini menambah beban berat bagi ekonomi China yang sedang berjuang menyeimbangkan kembali pertumbuhan dan mengatasi tekanan deflasi.