Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan melanda berbagai wilayah di Indonesia hingga awal Maret 2026, tepatnya sampai tanggal 5 Maret. Fenomena ini ditandai dengan intensitas hujan sedang hingga lebat, bahkan sangat lebat, yang berpotensi disertai angin kencang.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa kondisi ini dipicu oleh sejumlah dinamika atmosfer yang terjadi secara simultan. “Cuaca di Indonesia sampai 5 Maret 2026 umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” ungkap Andri Ramdhani dalam keterangannya pada Jumat (27/2/2026).
Wilayah Berstatus Siaga dan Waspada
BMKG menetapkan beberapa provinsi dalam status Siaga (potensi hujan lebat hingga sangat lebat) untuk periode akhir Februari hingga awal Maret 2026. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, dan Maluku.
Selain itu, status Waspada (potensi hujan sedang hingga lebat) diberlakukan untuk Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Beberapa daerah di Sulawesi Selatan seperti Parepare, Barru, Pangkajene Kepulauan, Maros, Makassar, Gowa, Takalar, dan Kepulauan Selayar juga diprakirakan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat.
Pemicu Dinamika Atmosfer
Peningkatan curah hujan ini disebabkan oleh kombinasi beberapa fenomena atmosfer. Salah satunya adalah aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) yang saat ini berada pada fase 2 di Samudra Hindia, dan diprediksi bergeser ke fase 3 (Indian Ocean) serta fase 4 (Maritime Continent) dalam beberapa hari ke depan. Aktivitas MJO ini berperan signifikan dalam meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.
Selain itu, gelombang Kelvin juga terpantau aktif melintasi wilayah Indonesia, khususnya di Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua Barat, yang turut memperkuat proses pembentukan awan hujan. Fenomena La Niña dengan kategori lemah juga masih terdeteksi, berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di kawasan Indonesia bagian timur.
Sirkulasi siklonik juga terpantau di Samudra Hindia barat daya Lampung dan di Samudra Pasifik Timur Laut Papua Nugini, yang berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif. Kombinasi MJO dengan gelombang Rossby Ekuator, Kelvin, serta gelombang frekuensi rendah juga diprakirakan aktif di Samudra Hindia barat daya Lampung hingga selatan Nusa Tenggara Timur, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Kalimantan, Laut Sulawesi, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan sebagian besar Papua. Monsun Asia juga masih membawa massa udara lembap dari Asia menuju Indonesia, memperkuat pembentukan awan konvektif.
Dampak dan Kewaspadaan
Intensitas hujan tinggi ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang. Selain itu, potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di sejumlah wilayah, termasuk Bali, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Di wilayah perairan, masyarakat diimbau mewaspadai gelombang tinggi antara 1,25 hingga 2,5 meter, seperti yang berpotensi terjadi di perairan Sulawesi Selatan.
BMKG mencatat, pada periode 20–23 Februari 2026, beberapa wilayah telah mengalami hujan ekstrem. Curah hujan ekstrem tercatat di DKI Jakarta (179,7 mm/hari) dan Jawa Barat (168,5 mm/hari). Sementara itu, hujan sangat lebat terjadi di Bali (216,9 mm/hari), Sulawesi Selatan (146,5 mm/hari), Nusa Tenggara Timur (127,7 mm/hari), dan Banten (111,6 mm/hari).
Imbauan dan Langkah Mitigasi
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, terutama terhadap risiko bencana hidrometeorologi. BMKG menyarankan agar masyarakat memantau informasi perkembangan cuaca secara berkala melalui aplikasi InfoBMKG, laman resmi BMKG, dan kanal media sosial resmi.
Pemerintah daerah dan masyarakat juga diminta untuk memastikan kesiapan infrastruktur, pengelolaan sumber daya air, penataan lingkungan, serta pemangkasan pohon yang berisiko tumbang saat hujan disertai angin kencang. Operasi Modifikasi Cuaca juga telah dilaksanakan di beberapa wilayah rawan bencana sebagai langkah mitigasi, dengan koordinasi antara BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan pemerintah daerah.