BMKG Peringatkan Potensi El Niño 2026, Musim Kemarau Diprediksi Lebih Awal dan Kering

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan potensi kembalinya fenomena El Niño pada pertengahan tahun 2026. Prediksi ini muncul setelah fase La Niña lemah yang berlangsung sejak akhir 2025 resmi berakhir pada Februari 2026, dan kondisi iklim global kini memasuki fase netral. Kemunculan El Niño diperkirakan akan membawa dampak signifikan, termasuk musim kemarau yang lebih awal, lebih kering, dan berpotensi lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.

Menurut pemantauan BMKG, indeks El Niño-Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada angka -0,28, menunjukkan kondisi netral yang diperkirakan bertahan hingga Juni 2026. Namun, peluang munculnya El Niño dengan kategori lemah hingga moderat mulai meningkat pada semester kedua tahun ini, dengan probabilitas sekitar 50-60 persen. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga memperkirakan peluang kondisi netral sebesar 60 persen untuk periode Maret-Mei 2026, yang kemudian dapat bergeser menjadi El Niño dengan probabilitas sekitar 40 persen pada Mei-Juli.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pemantauan anomali iklim global di Samudra Pasifik menunjukkan sinyal transisi ini. Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menekankan pentingnya pemantauan ketat. “Komunitas WMO akan memantau kondisi dengan cermat dalam beberapa bulan mendatang untuk memberikan informasi bagi pengambilan keputusan,” ujarnya. Saulo juga mengingatkan bahwa El Niño pada 2023-2024 merupakan “salah satu dari lima terkuat yang pernah tercatat dan berperan dalam rekor suhu global yang kita lihat pada tahun 2024”.

Musim Kemarau Lebih Cepat dan Kering

BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau 2026 lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologinya. Sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah-wilayah ini meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menambahkan bahwa pada Mei 2026, sebanyak 184 ZOM (26,3 persen) akan menyusul, dan 163 ZOM (23,3 persen) lainnya pada Juni 2026. Secara keseluruhan, 325 ZOM atau sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari normal. Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia, mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen, diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Potensi Dampak dan Peringatan

Kemunculan El Niño akan menyebabkan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur, yang pada gilirannya memicu penurunan curah hujan di wilayah Indonesia. Jika El Niño mendominasi, Indonesia akan menghadapi kemarau panjang, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat di Sumatra dan Kalimantan, serta krisis air bersih akibat penyusutan debit air waduk.

Selain itu, kondisi yang lebih kering ini juga berpotensi memperburuk kualitas udara, terutama di kota-kota besar seperti DKI Jakarta. Tingkat polusi udara saat musim kemarau dapat melonjak jauh di atas standar aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Piotr Jakubowski, Co Founder salah satu pemantau aplikasi kualitas udara, menyebut bahwa rata-rata polusi di Jakarta tahun lalu sudah di atas 40, dan di musim kemarau bisa naik hingga 80, 100, bahkan 200.

Meskipun El Niño 2026 diprediksi tidak sekuat kejadian pada 2023-2024, yang sempat memicu kemarau panjang hingga delapan sampai sepuluh bulan di beberapa wilayah, kewaspadaan tetap diperlukan. BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, termasuk mempertimbangkan pola tanam bagi petani agar menyesuaikan jenis tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) sendiri diprediksi akan tetap stabil pada fase netral sepanjang tahun 2026.